Bab 9 - Mempermudah rencanaku

1025 Kata
Ranty semakin mendekat, lalu meletakkan tangannya di atas tangan Ricky yang berada di atas meja. Ricky tidak menarik tangannya, namun ia juga tidak merespons sentuhan Ranty. "Pak Ricky bisa cerita pada saya. Siapa tahu saya bisa membantu meringankan beban di hati anda." Ucap Ranty, berusaha memberikan kesan bahwa ia adalah orang yang bisa dipercaya. Ricky menatap tangan Ranty yang berada di atas tangannya. Ia merasa risih, namun ia tidak ingin bersikap kasar. Ia tahu, Ranty hanya berusaha bersikap baik padanya. "Terima kasih, Ranty. Tapi ini masalah pribadi saya." Jawabnya, lalu menarik tangannya dari bawah tangan Ranty. Ranty merasa sedikit kecewa karena Ricky kembali menjauhinya. Namun, ia tidak menyerah. Ia tahu, Ricky adalah pria yang keras kepala dan sulit ditaklukkan. Ia harus menemukan cara lain untuk mendekatinya. "Saya tahu Pak Ricky masih berduka atas kepergian Bu Nayla. Tapi Pak Ricky tidak bisa terus seperti ini. Pak Ricky harus bangkit dan melanjutkan hidup." Ucap Ranty dengan nada prihatin. Ricky terdiam, menatap Ranty dengan tatapan rumit. Ia tahu Ranty memang benar. "Saya tahu ini sulit. Tapi Pak Ricky tidak sendirian. Ada orang tua Pak Ricky, ada Ken dan Luna yang membutuhkan Pak Ricky dan juga ada saya yang selalu memperhatikan Pak Ricky." Lanjut Ranty. Ranty mengulurkan tangannya lagi, menyentuh tangan Ricky yang masih berada di atas meja. Sentuhan itu membuat Ricky terkejut. Ia menatap Ranty dengan tatapan bingung. "Saya tahu saya bukan siapa-siapa bagi Pak Ricky. Tapi saya ingin Pak Ricky tahu bahwa saya peduli pada anda. Saya ingin membantu Pak Ricky melewati masa sulit ini." Ucap Ranty dengan nada prihatin. Ricky terdiam sejenak, lalu menarik tangannya kembali dari sentuhan Ranty. "Terima kasih, Ranty. Saya menghargai perhatian darimu." Ucapnya pelan. Ranty tersenyum tipis. "Sama-sama, Pak Ricky. Saya akan selalu ada untuk Bapak." Ucapnya lembut sambil tersenyum manis. "Begini, Pak Ricky. Sudah beberapa hari ini saya tidak datang ke mansion melihat Ken dan Luna. Bolehkah saya datang ke mansion Pak Ricky menemui mereka berdua?" Lanjut Ranty. Ricky terdiam sejenak, menimbang-nimbang apakah ia akan mengizinkannya datang dan melihat kedua malaikat kecilnya. Setelah beberapa saat berpikir, Ricky pun menjawab, "Baiklah Ranty, kamu boleh datang menemui Ken dan Luna malam ini." "Benar ya, Pak Ricky? Kalau begitu nanti malam saya akan datang dan melihat mereka berdua. Terima kasih banyak Pak Ricky." Ucapnya tersenyum lebih lebar. Ricky hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. Dalam hati kecilnya dia sebenarnya sedikit tersentuh dengan sikap Ranty yang perhatian kepada kedua anak-anaknya. Setelah mengatakan itu, Ranty berbalik dan meninggalkan ruangan Ricky. Ia tahu, ia masih belum berhasil menaklukkan hati Ricky, tapi setidaknya ia telah membuat sedikit kemajuan. Ia akan terus berusaha, sampai Ricky benar-benar menjadi miliknya. 'Hari ini setelah menemani Ken dan Luna, aku harus mencoba mengajak Ricky untuk makan malam bersama.' Batin Ranty dalam hati. Di malam hari sehabis pulang kerja, Ranty berdandan dengan sangat cantik. Ranty datang ke mansion Ricky dengan riasan tebal dan mengenakan mini dress ketat berwarna merah, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang terlihat seksi dan berani. Ranty secara khusus datang untuk mendekati Ricky dengan alasan ingin melihat Ken dan Luna. Setelah itu ia ingin mengajak Ricky untuk pergi makan malam bersama malam ini. Jadi ketika dia melihat Ricky masih berada d kamar si kembar dan memperhatikan Ken dan Luna yang sedang tertidur lelap, Ranty memberanikan diri untuk mengajak Ricky makan malam bersama di Hotel Element. Dia telah memiliki rencana untuk menjebak Ricky agar tidur dengannya malam ini. Ranty berkata, "Pak Ricky, aku ingin mengajakmu untuk makan malam bersama di Hotel Element." Ricky yang melihat penampilan Ranty dari atas hingga ke bawah menggeleng pelan. Ricky berdehem sebentar dan berkata, "Maaf Ranty, aku sangat lelah. Aku ingin di sini saja menemani Ken dan Luna." Namun Ranty tidak menyerah begitu saja, dia mencoba membujuknya kembali dan berkata, "Tidak bisakah kita makan malam bersama di luar malam ini saja, Pak Ricky? Aku hanya ingin mengajak Pak Ricky pergi makan malam, lagipula tidak akan memakan waktu yang lama." Setelah di bujuk lama oleh Ranty, akhirnya Ricky menyerah dan menyetujui ajakan Ranty untuk pergi bersama ke sebuah restoran yang berada di dalam Hotel Element. Ricky melirik kedua anaknya sekali lagi sebelum akhirnya beranjak pergi bersama Ranty. Biasanya Ricky akan pergi dengan Ardi, namun Ardi kebetulan sedang tidak sehat, jadi Ricky tidak ingin menyuruhnya untuk menyetir. Sepanjang perjalanan, Ranty tak henti-hentinya bercerita, berusaha mencairkan suasana yang terasa kaku. Ricky hanya menanggapi seperlunya, pikirannya masih tertuju pada Ken dan Luna. Ia merasa bersalah meninggalkan mereka, meski hanya untuk sementara. Sesampainya di Hotel Element, keduanya langsung menuju ke restoran mewah yang terletak di lantai atas. Suasana restoran cukup ramai, namun Ranty sudah memesan tempat. Keduanya tiba di lantai atas dan memasuki restoran dan pelayan mengantarkan keduanya menuju meja yang telah dipesan. Ricky dan Ranty duduk di meja dekat jendela. "Pak Ricky mau pesan apa?" Tanya Ranty, membuka buku menu. Ricky menghela napas pelan. "Samakan saja denganmu, Ranty." Jawabnya singkat. Ranty tersenyum tipis. Ia tahu, Ricky tidak benar-benar tertarik dengan acara makan malam ini. Tapi, ia tidak akan menyerah begitu saja. Ini adalah kesempatannya untuk menjebak Ricky untuk tidur dengannya malam ini. Sudah hampir tiga bulan ia berusaha mendekati Ricky, namun rencananya selalu gagal. Kali ini dia akan mencoba melakukan dengan cara kotor. Dia akan mencari kesempatan untuk menjebak Ricky. Kemudian Ranty memesan beberapa makanan kesukaan Ricky dan sebotol wine. Setelah memesan makanan, Ranty kembali membuka percakapan. Ia bercerita tentang apa saja yang bisa menarik perhatian Ricky. Ricky hanya mendengarkan dengan setengah hati, sesekali mengangguk atau memberikan komentar singkat. "Pak Ricky, apa selama ini saya bekerja dengan baik?" Tanya Ranty, menatap Ricky dengan tersenyum manis. Ricky menatapnya sejenak dan menghela napas. "Kamu bekerja dengan baik, Ranty. Terima kasih." Jawabnya tulus. Ranty tersenyum lebar mendengar pujian dari Ricky. Ia merasa senang karena Ricky akhirnya mengakui kinerjanya. "Saya akan selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk Pak Ricky." Ucapnya dengan nada lembut. Dalam waktu singkat, makanan yang Ranty pesan telah di hidangkan di atas meja. "Aku ke toilet sebentar." Ucap Ricky dengan wajah tak berekspresi. Tanpa menunggu jawaban dari Ranty, Ricky meninggalkan meja dan segera menuju ke toilet pria. Ranty tersenyum jahat, dalam hati dia berkata, 'Heh, Ricky! Kau telah mempermudah rencanaku!' Ranty memperhatikan punggung Ricky yang menjauh. Senyum liciknya semakin melebar. Ini adalah saat yang tepat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN