Bab 10 - Merasa ada yang janggal

1018 Kata
Dengan gerakan cepat dan terencana, Ranty mengeluarkan sebuah botol kecil dari dalam tasnya. Botol itu berisi obat tidur yang sangat kuat. Ia membuka tutup botol wine yang tadi dipesannya dan menuangkannya ke dalam gelas. "Malam ini, kau akan menjadi milikku, Ricky Pratama." Bisiknya pelan, sambil menuangkan beberapa tetes obat tidur ke dalam gelas wine milik Ricky. Ranty yakin, Ricky akan segera terjerat dalam perangkapnya. Setelah menuangkan obat tidur, Ranty mengaduk gelas wine itu perlahan, memastikan obatnya tercampur rata. Kemudian, ia meletakkan kembali gelas itu di tempatnya, menunggu Ricky kembali. Beberapa saat kemudian, Ricky telah kembali. Ricky duduk kembali di kursinya, menatap makanan yang sudah tersaji di hadapannya. "Maaf Ranty, sudah membuatmu menunggu lama. Kita sudah bisa makan sekarang." Ucap Ricky kemudian memotong steak dan memakannya perlahan. Ranty tersenyum genit dan berkata, "Tidak masalah Pak Ricky." Ranty pun mulai memutar gelas wine dan menyesapnya secara perlahan. Ricky menatap gelas wine sejenak, lalu mengambilnya. Ia merasa haus dan berharap wine itu bisa membuatnya sedikit rileks. Tanpa ragu, ia meneguk wine itu hingga setengah gelas. Ranty melirik sekilas, Ricky telah meminum wine yang telah ia taruh obat tidur tadi. 'Bagus Ricky, habiskan wine-nya.' Ucap Ranty dalam hati. Ricky kemudian meletakkan kembali gelas wine kosong di atas meja. Ia mulai merasa sedikit pusing, tapi ia tidak terlalu memperhatikannya. Ia mengira itu hanya efek dari kelelahan. Ranty tersenyum puas melihat Ricky meminum wine yang sudah dicampur obat tidur itu hingga tandas. Ia tahu, sebentar lagi rencananya akan berhasil. Ia hanya perlu menunggu beberapa saat hingga obat tidur itu bekerja. Ricky menatap Ranty dengan tatapan kosong. Ia merasa semakin pusing dan matanya mulai terasa berat. Ia berusaha untuk tetap terjaga, tapi ia tidak bisa melawannya. 'Sepertinya reaksinya sudah terlihat.' Batin Ranty saat melihat Ricky mulai memijit pelan pelipisnya. Ranty kemudian mengambil ponselnya yang berada di dalam tas, mengirim pesan kepada seseorang. Tidak berapa lama kemudian, Ricky akhirnya tertidur di atas meja. Orang yang dikirimi pesan oleh Ranty juga telah tiba, pria itu adalah kekasihnya yang bernama Rendy Permana, pria berusia 28 tahun. Rendy membawa Ricky ke kamar hotel yang telah di pesan oleh Ranty. Ranty menyusul keduanya dan masuk ke dalam kamar hotel. Kemudian ia menanggalkan pakaian yang dikenakan oleh Ricky, begitu juga dengan pakaian yang dikenakan oleh dirinya sendiri, sehingga tak menyisakan sehelai benang pun di tubuh keduanya. Lalu Rendy mengeluarkan ponsel bersiap mengambil beberapa foto potret mereka berdua yang sedang tidur bersama tanpa busana. Foto itu akan dijadikan sebagai alat untuk mengancam Ricky kedepannya. Setelah aksinya selesai, Rendy dan Ranty pun pindah ke kamar sebelah dan melakukan hubungan intim. Untuk mengelabui Ricky, Rendy membuat beberapa jejak tanda merah di beberaa bagian tubuh Ranty. Mereka berdua melakukannya dengan penuh gairah. Setelah selesai berhubungan panas dengan kekasihnya, Ranty berpesan pada Rendy, "Sayang, jangan lupa menjalankan rencana kita. Jika aku berhasil mengelabuinya dan menjadi istrinya, kamu juga akan mendapatkan apa yang aku dapatkan!" Rendy menjawab dengan mengedipkan sebelah matanya, "Tenang saja sayang, kekasihmu ini bisa diandalkan." Kemudian Rendy mencium bibir Ranty sebelum pergi. Ranty pun kembali ke kamar yang ditempati oleh Ricky. Dia masuk ke dalam selimut dan tidur. Keesokan paginya, Ricky terbangun dan sedikit memijit pelipisnya. Kemudian dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. 'Aku dimana? Ini kan bukan kamarku!' batinnya. Lalu Ricky membuka selimutnya, betapa terkejutnya dia ketika melihat dirinya sendiri tidak memakai sehelai benang pun. Yang lebih membuat Ricky lebih terkejut adalah di sebelahnya tidur seorang wanita yang juga tidak mengenakan busana. Dia melihat lebih jelas wajah wanita itu, merasa kepalanya seperti tersambar petir. Wanita itu adalah Ranty, sekertarisnya! Ricky melihat banyak bercak merah di tubuh Ranty. 'Apakah aku sudah tidak waras, melakukan hal itu padanya?' Batinnya. Terlihat keraguan di wajahnya, dia merasa dirinya tidak melakukan apapun terhadap wanita ini. Namun di depan matanya, Ranty tertidur tanpa busana dan memiliki banyak tanda bercak merah. Hatinya menjadi gelisah, dia dengan terburu-buru mencari pakaiannya yang berserakan di bawah dan membangunkan Ranty. Ricky mengguncang tubuh Ranty dengan kesal, "Hey bangun! Apa yang kamu lakukan terhadapku?!" Ranty segera terbangun dengan wajah penuh kebingungan. Dia pura-pura terkejut memandang tubuhnya yang tidak berbusana dan memiliki banyak tanda merah, lalu mulai menangis."Apa yang pak Ricky lakukan terhadapku?" Ricky menatap tajam Ranty lalu berkata dengan dingin, "Justru aku yang ingin bertanya kepadamu, apa yang kamu lakukan terhadapku!" Ranty hanya menangis tersedu-sedu sambil menaikkan selimut ke tubuhnya. Ricky menatap Ranty yang kini semakin histeris. Ia berusaha mengingat apa yang terjadi semalam, tapi yang ada hanya potongan-potongan gambar yang kabur dan tidak jelas. Ia hanya ingat makan malam bersama Ranty di restoran hotel, lalu setelah itu, semuanya gelap. Ricky merasa ada sesuatu yang tidak beres. "Ranty, coba jelaskan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Ricky dengan nada yang mulai meninggi. "Aku tidak mungkin melakukan hal ini padamu. Karena aku tidak bisa mengingat apa-apa." Ucap Ricky lagi. Ranty terus menangis, tidak menjawab pertanyaan Ricky. Ia hanya semakin menutupi tubuhnya dengan selimut, sesekali terisak. Ricky semakin frustrasi dengan situasi ini. Ia tahu Ranty pasti sedang memainkan sebuah drama, tapi ia tidak tahu apa motifnya. "Ranty, jangan diam saja! Aku perlu penjelasan. Kalau kamu tidak bicara, aku akan memanggil polisi!" Ancam Ricky. Mendengar ancaman Ricky, Ranty berhenti menangis. Ia menatap Ricky dengan tatapan yang sulit diartikan. "Baiklah, aku akan cerita." Ucap Ranty dengan suara bergetar. "Semalam, setelah kita makan malam, Pak Ricky mengajakku ke kamar ini. Pak Ricky bilang padaku, jika Pak Ricky menyukaiku dan ingin aku menjadi milikmu. Aku menolak, tapi Pak Ricky terus memaksaku melakukannya. Aku tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Aku hanya ingat jika Pak Ricky sangat agresif saat melakukan hal itu padaku." Ucap Ranty mulai mengarang cerita. Ricky terkejut mendengar cerita Ranty. Ia tidak percaya bahwa ia bisa melakukan hal seperti itu. Tapi di sisi lain, ia merasa ada yang janggal dengan cerita Ranty. Ia merasa ada bagian yang disembunyikan. "Aku tidak percaya dengan ucapanmu, Ranty! Aku tidak mungkin melakukan hal itu. Pasti ada sesuatu yang tidak kamu ceritakan padaku." Ucap Ricky dengan tegas. Ranty menggelengkan kepalanya. "Tidak ada yang lain, Pak Ricky. Itulah yang terjadi semalam di antara kita." Jawabnya sambil kembali menangis. Ricky terdiam, mencoba mencerna semua penjelasan yang Ranty sampaikan. Ia merasa terjebak dalam sebuah permainan yang rumit.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN