Bab 11 - Bagaimana kamu akan membalasku?

1053 Kata
Ricky harus mencari tahu kebenaran yang sebenarnya, sebelum semuanya terlambat. "Baiklah Ranty, kalau itu yang kamu katakan. Aku akan mencari tahu sendiri apa yang sebenarnya terjadi semalam!" Ucap Ricky lalu bergegas meninggalkan Ranty yang masih menangis di atas ranjang. Ricky meninggalkan kamar hotel itu dengan langkah lebar dan penuh amarah. Dia merasa jijik dengan dirinya sendiri, meskipun jauh di lubuk hatinya, dia yakin tidak melakukan perbuatan serendah itu. Rucky menyusuri lorong hotel dengan pikiran berkecamuk. Rasa bersalah dan kebingungan bercampur aduk menjadi satu. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Tapi satu hal yang pasti, ia harus mencari tahu kebenaran di balik kejadian semalam Di dalam kamar hotel, Ranty menatap kepergian Ricky dan tersenyum puas. Rencananya berjalan lebih lancar dari yang ia bayangkan. Ricky tidak ingat apa pun, dan dia berhasil memanipulasi situasi sehingga Ricky tampak bersalah. Awalnya, Ranty hanya berniat membuat Ricky mabuk berat, tapi Ricky justru memberinya kesempatan emas untuk menaruh obat tidur di dalam minumannya. Dengan cepat, Ranty meraih ponselnya dan menghubungi nomor kekasihnya, Rendy. "Sayang, rencananya berhasil. Ricky tidak ingat apa pun." Bisik Ranty dengan nada penuh kemenangan. Ricky tiba di lobi hotel dan langsung menuju mobilnya. Ardi, sopirnya, sudah menunggu dengan wajah khawatir. "Maaf Tuan Ricky, saya tidak tahu apa yang terjadi. Semalam saya coba hubungi Tuan Ricky, tapi tidak ada jawaban." Ucap Ardi dengan nada menyesal. Ricky hanya mengangguk singkat, tidak ingin membahas apa pun. Ia masuk ke dalam mobil dan menyuruh Ardi untuk segera ke perusahaan. Selama perjalanan, Ricky terus memijat pelipisnya, mencoba mengingat apa yang terjadi semalam. Namun, semua terasa kabur dan tidak jelas. Ia hanya ingat semalam dia hanya makan malam bersama Ranty. Ricky tiba di perusahaan dengan perasaan campur aduk dan pikiran yang kacau. Setelah kejadian di hotel, dirinya tidak pulang ke mansion. Dia bergegas menuju ke perusahaannya untuk mandi di dalam kantornya. Denis sudah berada di sana pagi-pagi sekali setelah Ricky menghubunginya dan dia telah menyiapkan setelan jas untuk Ricky. Ricky mencoba memikirkan kejadian di dalam hotel, namun mau bagaimanapun Ricky tidak dapat mengingat apapun. Ricky merasa tidak melakukan hubungan badan dengan wanita itu, tapi bagaimanapun juga dia terbangun tanpa busana bersama dengan Ranty. Ricky menceritakan secara singkat apa yang dialami olehnya semalam kepada asistennya Denis dan memerintahkan Denis untuk memeriksa CCTV dari restoran hingga ke kamar hotel yang dia tempati semalam, "Denis, coba kamu periksa CCTV di hotel Element!" "Baik Pak Ricky." Denis menjawab dengan sigap dan segera menjalankan perintah dari Ricky. Sudah lama Denis mencium gelagat aneh dari Ranty Lestari. Namun Denis merasa mungkin dia hanya terlalu sensi terhadap wanita itu. Sekarang mungkin atasannya telah masuk ke dalam perangkap wanita tersebut. 'Beginilah nasib kalau memiliki fitur wajah yang tampan dan memikat seperti Pak Ricky dan dikelilingi oleh sekertaris sexy dan menggoda seperti Ranty.' Denis membatin, lalu dia melangkah pergi untuk melakukan tugas yang diperintahkan oleh atasannya tersebut. Setelah Denis pergi, Ricky mengusap wajahnya dengan kasar. Ia berusaha mencerna semua hal yang masih membingungkan dan menggelayuti benaknya. Dia menyesali mengapa semalam dia sampai bisa kehilangan kendali seperti itu. Apa benar dia telah melakukan hal serendah itu? Ricky menggelengkan kepalanya dengan keras, mencoba mengenyahkan pikiran buruk itu. Dia tidak percaya dirinya tega melakukan hal tersebut pada Nayla, meskipun Nayla sudah tiada. Di ruang kerjanya, Ricky menyalakan komputer dan mencoba mencari rekaman CCTV hotel. Ia berharap menemukan sesuatu yang bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi semalam. Jari-jarinya dengan cepat mengetikkan alamat website hotel Element dan mencoba masuk ke dalam sistem keamanan hotel. Ricky terus berusaha masuk ke dalam sistem keamanan hotel, tetapi usahanya selalu gagal. Sistem keamanan hotel ternyata sangat ketat dan sulit ditembus. Ricky merasa semakin marah dan memukul meja kerjanya dengan keras. "Sial! Apa yang sebenarnya terjadi semalam? Mengapa aku tidak bisa mengingat apapun?" Teriak Ricky dengan nada putus asa. Dia merasa frustrasi karena tidak bisa mengakses rekaman CCTV yang mungkin bisa memberikan jawaban atas kebingungannya. Ricky mengacak rambutnya dengan kasar, merasa semakin yakin bahwa dia telah dijebak. *** Sementara itu, Ranty telah pulang ke kontrakan milik kekasihnya yang ada di dalam gang sempit menggunakan masker dan kacamata hitam. Ranty dan Rendy tengah merayakan keberhasilan rencana mereka. Ranty bergelayut manja di lengan Rendy, tertawa bahagia. Namun Ranty masih merasa was-was, apakah rencananya berjalan dengan baik atau tidak. Dia pun bertanya pada kekasihnya untuk memastikan. "Rendy, bagaimana dengan tugas yang telah ku berikan padamu?" Tanya Ranty dengan penuh selidik. "Tenang saja sayang, aku telah merusak CCTV di sana." Rendy tertawa renyah sambil memakan cemilan dan bermalas-malasan di atas sofa. "Yang jelas aku tidak mau kalau sampai Ricky mengetahui rencana kita ini! Bisa-bisa kita tidak akan pernah keluar dari lumpur kemiskinan ini!" Ucapnya sambil menatap tajam pada kekasihnya tersebut. "Tenanglah Ranty, aku jamin rencana kita pasti akan berhasil. Karena atasan kamu itu tidak akan menemukan bukti apapun. Aku telah membersihkan barang bukti secara menyeluruh. Bagaimana kamu akan membalasku?" Tanya Rendy dengan mata yang menggoda. Ranty tersenyum lebar, dia sangat puas dengan yang Rendy lakukan. Ranty langsung berjalan menuju sofa untuk memeluk kekasihnya tersebut. Walaupun Ricky adalah pria yang sangat tampan dan menarik, namun Ricky juga tipe pria yang sangat dingin dan sulit untuk didekati. Berbeda dengan kekasihnya, walau tidak setampan Ricky, namun Rendy selalu menuruti semua keinginannya. Rendy sangat memanjakan Ranty terutama di atas tempat tidur, Rendy sangat pandai memberi kepuasan terhadap Ranty. "Aku sudah bilang kan, kalau Ricky itu pria bodoh. Dia tidak akan bisa mengelak lagi dariku. Semua sudah aku rencanakan dengan sempurna. Aku hanya khawatir tentang CCTV di dalam hotel, makanya aku harus memastikannya lagi padamu." Ucap Ranty dengan nada bangga. Rendy tersenyum dan mencium kening Ranty dengan mesra. "Kau memang yang terbaik, Sayang. Sebentar lagi, semua kekayaan Ricky akan menjadi milik kita." Jawab Rendy sambil memeluk Ranty dengan erat. Ranty tertawa genit dan membalas pelukan Rendy, menatapnya dengan tatapan penuh nafsu. "Tentu saja, Sayang. Aku sudah merencanakan ini sejak lama. Ricky sudah masuk ke dalam perangkapku. Ricky tidak akan bisa lepas dariku." Bisik Ranty dengan nada menggoda dan penuh percaya diri. Rendy pun mengangkat tubuh Ranty dan membawanya menuju kamar tidur. Mereka berdua kemudian terlibat dalam percumbuan panas, tenggelam dalam ciuman panas dan bergelora, merayakan kemenangan mereka dengan penuh nafsu. Ranty sangat yakin bahwa Ricky tidak akan bisa membuktikan apapun. Ia dan kekasihnya telah merencanakan semuanya dengan sangat matang dan penuh perhitungan. Ricky telah masuk ke dalam perangkapnya. Ranty tinggal menunggu waktu yang tepat untuk melancarkan langkah selanjutnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN