Bab 12 - Bagaimana bisa hilang?

1055 Kata
Dua jam setelah kepergian Denis, pria itu kembali dengan wajah yang kurang begitu baik. Dia kembali dengan tangan kosong. 'Gawat nih, aku kembali tanpa membawakan hasil apa pun. Pasti Pak Ricky akan marah besar kan sama aku?' Batin Denis yang terlihat ingin menangis. Kemudian Denis memberanikan diri masuk ke dalam ruangan CEO di mana Ricky berada, pria itu datang untuk melaporkan hasil penyelidikannya. Denis mengetuk pintu, lalu segera masuk setelah mendapat jawaban dari Ricky. "Bagaimana mengenai penyelidikan yang kamu lakukan? Apakah kamu telah mendapatkan hasilnya?" Tanya Ricky saat Denis baru memasuki ruangannya. Denis sedikit menunduk dan menjelaskan, "Maafkan saya Pak Ricky. Saya tidak bisa mendapatkan hasil rekaman CCTV di restoran maupun di koridor hotel. Rekaman CCTV yang ada semuanya hilang secara bersamaan. Informasi dari pihak hotel mengatakan rekaman CCTV semalam telah hilang." Lapor Denis. Ricky terkejut mendengar laporan Denis. "Hilang? Bagaimana bisa hilang?" Tanyanya dengan nada tinggi. "Pihak hotel mengatakan bahwa ada gangguan teknis pada sistem mereka, sehingga rekaman CCTV semalam tidak bisa diselamatkan. Saya curiga ada yang menghilangkan rekaman CCTV dengan sengaja." Jawab Denis dengan nada menyesal. Ricky terdiam sejenak. Dia semakin yakin bahwa hilangnya rekaman CCTV ini bukanlah sebuah kebetulan. Seseorang dengan sengaja telah menghapus rekaman tersebut untuk menyembunyikan sesuatu. Ricky memegangi pena di tangannya dengan erat. Rasanya pena itu akan patah kapan saja jika Ricky menggunakan tenaganya sedikit lagi. Ricky berkata dengan wajah yang terlihat muram, "Jadi, maksudmu CCTV itu sengaja dihapus?" Denis berkata, "Benar Pak Ricky, menurut saya orang tersebut sudah tahu bahwa Pak Ricky akan segera menyelidiki masalah ini, jadi dia dengan cepat menghilangkan barang bukti tersebut. Kalau menurut saya, sudah jelas ini adalah jebakan yang sengaja dilakukan oleh Ranty untuk menjebak Pak Ricky. Namun hal ini masih menjadi dugaan saya saja." Ricky terdiam, rahangnya mengeras. "Menurutmu, apa dia berani melakukan semua ini padaku?" Gerutunya pelan, lebih kepada dirinya sendiri. Ia menatap Denis dengan tatapan tajam. "Denis, apa kau yakin tidak ada cara lain untuk mendapatkan rekaman itu?" Lanjut Ricky. Denis menggelengkan kepalanya dengan lesu. "Saya sudah mencoba semua cara, Pak. Bahkan saya sudah menghubungi beberapa kenalan saya di bidang IT, tapi mereka juga tidak bisa menembus sistem keamanan hotel. Sepertinya, orang yang menghapus rekaman itu sangat profesional." "Tapi Pak, saya menemukan hal mencurigakan." Ucap Denis lagi. "Apa itu?" Tanya Ricky penasaran. Denis kembali ke ruangan Ricky dengan membawa beberapa berkas di tangannya. "Saya tidak sengaja mendapatkan informasi tentang pria yang bersama Ranty. Saya menemukan rekaman CCTV di dashboard pengunjung lain." Denis menyerahkan sebuah map kepada Ricky. Ricky menerima map itu dengan tangan gemetar. Jantungnya berdebar kencang saat membuka lembaran pertama. Di sana, terpampang jelas foto Rendy Permana, beserta data diri dan pekerjaannya. "Rendy Permana... Siapa dia?" gumam Ricky dengan nada geram. "Rendy adalah seorang dokter, tetapi dia sering terlihat bersama Ranty di luar kantor. Menurut informasi yang saya dapatkan, mereka memiliki hubungan khusus." Jelas Denis dengan hati-hati. Ricky mengepalkan tangannya, amarahnya semakin memuncak. 'Jadi, selama ini Ranty hanya berpura-pura menyukaiku? Ternyata ia sudah memiliki kekasih!' Batin Ricky. Ia merasa sangat bodoh karena telah mempercayai wanita itu. "Cari tahu semua tentang Rendy. Apa motifnya melakukan ini? Aku ingin tahu semuanya!" perintah Ricky dengan nada dingin. "Baik, Pak. Akan saya laksanakan." Jawab Denis dengan sigap. Ia segera keluar dari ruangan Ricky untuk menjalankan perintahnya. "Dan satu lagi, mulai hari ini Ranty Lestari saya pecat dari perusahaan ini! Saya tidak ingin melihatnya lagi di sini." Ucap Ricky dengan nada dingin. Denis mengangguk mengerti. Ia tahu bahwa Ricky sangat marah dan tidak akan ada yang bisa mengubah keputusannya. "Baik, Pak. Akan saya urus semuanya." Setelah Denis pergi, Ricky kembali mengusap wajahnya dengan kasar. Ia merasa sangat kotor dan jijik dengan dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia terlibat dalam skandal serendah ini? Ia tidak bisa membayangkan bagaimana perasaan Mawar jika mengetahui kejadian ini. Ricky memijat pelipisnya, merasa frustrasi. Ia benar-benar terjebak dalam situasi yang tidak masuk akal. Setelah Denis keluar, Ricky berdiri dari kursinya dan berjalan menuju jendela. Ia menatap kota Jakarta yang gemerlap di bawah sana. Pikirannya berkecamuk, berusaha mencari jalan keluar dari masalah ini. "Ranty!!!" Desisnya pelan. Nama itu terlintas di benaknya, seperti sebuah jawaban atas semua pertanyaan yang ada. Ia tidak mungkin menuduh tanpa bukti, tapi semua petunjuk mengarah pada wanita itu. Ricky merasa dirinya seperti pria bodoh yang mudah dipermainkan oleh wanita. Tapi tidak bisa dipungkiri banyak bercak merah di tubuh Ranty, dia juga tidak yakin apa yang dilakukannya malam itu, karena tidak ada ingatan apapun di dalam kepalanya. Ricky seharian ini sangat tidak fokus, jika benar dia melakukan hal itu dengan Ranty, dia akan merasa sangat bersalah dengan Mawar. 'Mawar, maafkan aku. Aku merasa tidak bisa menjadi pria yang baik untukmu dan menjadi ayah yang baik untuk Ken dan Luna.' Tatapan mata Ricky terlihat sangat sedih, apakah Mawar akan menerimanya jika ia tahu kejadian ini? Ricky berdiri dari kursinya dan berjalan menuju jendela. Ia menatap langit Jakarta yang mendung, seolah ikut merasakan kesedihan dan kekacauan hatinya. Ia harus segera mencari bukti bahwa ia tidak melakukan perbuatan kotor ini, dia pasti hanya dijebak oleh Ranty. "Mawar..." Bisik Ricky lirih. Ia teringat akan senyum manis dan kelembutan Mawar yang selalu membuatnya tenang. Ia sangat merindukan wanita itu. Ricky meraih ponselnya dan mencari nama Mawar di daftar kontaknya. Jari-jarinya ragu untuk menekan tombol panggil. Ia takut Mawar akan kecewa padanya jika tahu dia memgalami skandal dengan Ranty. Namun, ia tidak bisa terus berdiam diri. Ia harus menjelaskan semuanya kepada Mawar. Dengan menarik napas dalam-dalam, Ricky akhirnya menekan tombol panggil. Ia menunggu dengan jantung berdebar, berharap Mawar akan mengangkat teleponnya. Di sisi lain, Mawar sedang menidurkan Ken dan Luna di kamar bayi. Setelah memastikan kedua bayi itu tertidur pulas, Mawar duduk di kursi dekat jendela sambil membaca buku. Ia merasa gelisah karena Ricky belum juga pulang ke mansion dari semalam. Dia juga belum menghubunginya. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada pria itu. Tiba-tiba, ponsel Mawar berdering. Ia terkejut melihat nama Ricky tertera di layar. Dengan gugup, Mawar mengangkat telepon itu. "Halo, Tuan Ricky?" Sapa Mawar dengan suara lembut. Ricky mendengar suara lembut Mawar di seberang telepon, namun lidahnya terasa kelu. Ia tidak tahu harus memulai dari mana. Rasa bersalah dan malu bercampur aduk di dalam hatinya. "Mawar." Akhirnya Ricky membuka suara, terdengar berat dan penuh keraguan. "Aku... aku ingin bicara sesuatu padamu." Mawar merasakan nada aneh dalam suara Ricky. Hatinya semakin tidak tenang. "Ada apa, Tuan Ricky? Apa terjadi sesuatu?" Tanyanya cemas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN