Bab 13 - Maukah kamu menikah dan hidup bersamaku?

1241 Kata
Ricky menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberaniannya. "Aku... aku telah melakukan kesalahan besar." Ucapnya dengan suara tercekat. Mawar terdiam. Jantungnya berdegup kencang. Ia menunggu Ricky melanjutkan kalimatnya, namun pria itu tampak kesulitan untuk berbicara. "Kesalahan apa, Tuan Ricky?" Tanyanya bingung. "Aku... aku tidak bisa menjelaskannya lewat telepon. Bisakah kita bertemu? Aku ingin bicara langsung denganmu." Ucap Ricky dengan nada sedih. Mawar ragu sejenak. Ia merasa ada sesuatu yang sangat buruk telah terjadi. Namun, ia tidak bisa menolak permintaan Ricky. "Baiklah, Tuan Ricky. Saya akan menunggu anda pulang." Ucapnya lembut. "Saya akan pulang sekarang juga." Jawab Ricky cepat. Ia ingin segera bertemu Mawar dan menjelaskan semuanya sebelum Ranty menyebarkan fitnah yang lebih jauh. "Sekarang? Bagaimana dengan Ken dan Luna, Tuan?" Mawar terkejut. "Mereka masih tidur di kamar bayi." Ucapnya lagi. "Ada Bi Siti yang menjaga mereka." Ucap Ricky. Mawar menghela napas. Ia tahu Ricky pasti sedang sangat membutuhkan dirinya. "Baiklah. Tuan Ricky hati-hati di jalan, ya." Ucapnya lembut. Setelah menutup telepon, Mawar bergegas mengganti pakaiannya. Pikirannya dipenuhi dengan pertanyaan dan kecemasan. Ia tidak tahu apa yang akan ia dengar dari Ricky, namun ia siap menghadapi apa pun yang terjadi. Sementara itu, Ricky sudah berada di dalam mobil dan meminta Ardi untuk segera melajukan kendaraan menuju mansion. Ia tidak sabar untuk bertemu Mawar dan meminta maaf atas segala kebodohannya. Ia berharap Mawar akan mengerti dan memaafkannya. Ia berharap Mawar masih dapat menerimanya. Namun, di balik semua itu, Ricky juga merasa takut. Ia takut Mawar akan meninggalkannya setelah mengetahui kejadian yang sebenarnya. Ia tidak bisa membayangkan hidupnya tanpa Mawar. Ken dan Luna juga sudah sangat dekat dan menyukainya. Ia sangat mencintai mereka, dan ia akan melakukan apa pun untuk bersama dengan Mawar. Ardi melirik Ricky dari kaca spion. Ia bisa merasakan kegelisahan dan kesedihan yang terpancar dari wajah atasannya itu. Ia tidak tahu apa yang telah terjadi, namun ia berharap Ricky bisa segera menyelesaikan masalahnya. Ardi mempercepat laju mobil sesuai permintaan Ricky. Ricky sendiri menatap kosong ke luar jendela, pikirannya berkecamuk. Ia mencoba menyusun kata-kata yang tepat untuk menjelaskan semuanya pada Mawar, namun rasanya semua kalimat yang terlintas di benaknya terasa hambar dan tidak mampu menggambarkan betapa bodohnya dirinya. Sesampainya di rumah, Ricky segera keluar dari mobil dan bergegas masuk ke dalam. Ia melihat Mawar sudah menunggunya di ruang tamu, mengenakan blus sederhana dan rok panjang yang biasa ia pakai. Wajahnya terlihat cemas, namun tetap berusaha tersenyum saat melihat Ricky. "Tuan Ricky." Sapa Mawar lembut. "Ada apa? Apa yang ingin Tuan bicarakan?" Ricky mendekat dan meraih tangan Mawar. Sentuhan lembut itu sejenak menenangkannya. "Mawar, aku telah melakukan kesalahan besar, dan aku sangat menyesal." Ucap Ricky lesu. Mawar mengerutkan keningnya. Ia bisa merasakan getaran di tangan Ricky, menandakan betapa berat beban yang sedang dipikul pria itu. "Kesalahan apa, Tuan? Tolong, jangan membuat saya khawatir." Ricky menarik napas dalam-dalam dan mulai menceritakan semuanya. Tentang makan malam dengan Ranty, tentang minuman yang membuatnya kehilangan kesadaran, tentang dirinya yang terbangun di kamar hotel bersama Ranty, dan tentang hilangnya rekaman CCTV. Ia menceritakan semuanya dengan jujur, tanpa berusaha menutupi kebodohannya sendiri. Mawar mendengarkan dengan seksama, tanpa menyela. Ia bisa merasakan kemarahan dan kekecewaan Ricky, namun ia juga bisa melihat ketulusan di mata pria itu. Ia terkejut mendengar cerita Ricky, tetapi ia percaya bahwa Ricky bukanlah pria seperti itu. Ketika Ricky selesai bercerita, Mawar terdiam sejenak. Ia mencoba mencerna semua informasi yang baru saja ia dengar. "Tuan Ricky," ucapnya akhirnya, "saya percaya Tuan tidak mungkin melakukan hal itu. Saya tahu Tuan adalah orang baik." Ricky menatap Mawar dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak menyangka Mawar akan mempercayainya begitu saja. "Mawar, terima kasih. Terima kasih karena kamu percaya padaku." Ucapnya lirih. "Tapi, Tuan. Menurut saya, Tuan harus mencari tahu siapa yang telah menjebak Tuan. Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja." Lanjut Mawar. Ricky mengangguk setuju. Ia menggenggam erat tangan Mawar. "Aku akan mencari tahu siapa yang bertanggung jawab atas semua ini, Mawar. Aku tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja." "Saya yakin, cepat atau lambat kebenaran akan terungkap. Saat ini, Tuan harus lebih waspada pada Nona Ranty." Ucap Mawar mengingatkan. Ricky tersenyum. Ia merasa lega dan bersyukur karena Mawar ada di sisinya. Ia tahu, bersama Mawar, ia akan mampu menghadapi semua ini. Ia memeluk Mawar erat, merasakan kehangatan dan ketenangan yang selalu ia rasakan saat berada di dekat wanita itu. "Terima kasih, Mawar." Bisiknya di telinga Mawar. "Terima kasih karena kamu sudah mempercayaiku." Suasana di ruangan itu terasa hening setelah Ricky menyelesaikan ceritanya. Mawar, dengan tatapan lembut namun penuh keyakinan, menggenggam tangan Ricky lebih erat. Ricky merasa ada setitik harapan yang kembali menyala di dalam hatinya. Ia sangat bersyukur memiliki Mawar di sisinya. "Mawar, setelah masalah ini selesai dan jelas, maukah kamu menikah dan hidup bersamaku? Menjadi ibu dari kedua anak-anakku? Sejak kamu datang dalam hidupku, aku mulai jatuh cinta padamu." Mata Ricky menatap Mawar dengan penuh harap, menunggu jawaban. Jantungnya berdebar kencang, seolah ingin melompat keluar dari dadanya. Ia merasa rentan dan cemas, sesuatu yang jarang ia rasakan selama ini. Mawar menunduk, menyembunyikan rona merah yang menjalar di pipinya. Ia merasa terharu dan bahagia mendengar pengakuan cinta dari pria yang selama ini diam-diam ia kagumi. Namun, di saat yang sama, ia juga merasa ragu dan takut. Ia sadar akan perbedaan status sosial antara dirinya dan Ricky. Ia hanyalah seorang gadis desa yang beruntung bisa bekerja sebagai pengasuh anak di rumah mewah ini, sementara Ricky adalah seorang CEO kaya raya yang terpandang. "Tuan Ricky..." Ucap Mawar lirih, masih dengan kepala tertunduk. "Saya... saya tidak tahu apakah saya pantas untuk Tuan. Tuan pantas mendapatkan seseorang yang lebih baik dari saya." Ricky mengangkat dagu Mawar dengan lembut, memaksanya untuk menatap matanya. "Mawar, jangan pernah merendahkan dirimu sendiri. Kamu adalah wanita yang paling baik dan tulus yang pernah aku temui. Kamu tidak hanya pantas untukku, tapi kamu adalah yang terbaik untukku dan anak-anak." Ricky menggenggam kedua tangan Mawar, menatapnya dengan penuh cinta. "Aku tahu ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan hal ini, tapi aku tidak ingin kehilanganmu, Mawar. Aku ingin kamu menjadi bagian dari hidupku, menjadi ibu bagi Ken dan Luna, dan menjadi pendamping hidupku selamanya." Mawar menatap mata Ricky, melihat ketulusan dan kesungguhan di sana. Ia merasa hatinya luluh dan semua keraguan yang selama ini menghantuinya perlahan menghilang. Ia tahu, Ricky adalah pria yang baik dan bertanggung jawab. Ia percaya, bersama Ricky, ia akan bahagia. "Tuan Ricky," Ucap Mawar dengan suara bergetar. "Saya... saya juga mencintai Tuan. Saya bersedia menikah dengan Tuan dan menjadi ibu bagi Ken dan Luna." Ricky tersenyum bahagia mendengar jawaban Mawar. Ia langsung menarik Mawar ke dalam pelukannya, memeluknya erat-erat. Ia merasa lega dan bahagia karena cintanya terbalas. "Terima kasih, Mawar." Bisik Ricky di telinga Mawar. "Terima kasih karena kamu sudah menerima cintaku." Mereka berpelukan erat untuk beberapa saat, menikmati kebahagiaan yang sedang mereka rasakan. Ricky mendekatkan wajahnya ke wajah Mawar. Ia bisa merasakan napas Mawar yang hangat menerpa kulitnya. Ia menatap bibir Mawar yang merah merekah, merasa begitu tergoda untuk menciumnya. Namun, sebelum ia sempat melakukan apa pun, Mawar menarik diri. Ia menunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah. "Tuan, ini terlalu tiba-tiba. Saya butuh waktu untuk itu." Ricky menghela napas, merasa sedikit kecewa. Namun, ia menghargai kejujuran Mawar. Ia tidak ingin memaksa Mawar. "Baiklah, Mawar. Aku akan memberimu waktu untuk membiasakan diri denganku. Aku ingin kamu tahu, bahwa aku serius dengan perasaanku padamu." ucap Ricky dengan lembut. Ricky menggenggam tangan Mawar sekali lagi, lalu melepaskannya. Ia tahu, perjalanan mereka masih panjang. Namun, Ricky yakin, jika mereka saling percaya dan saling mendukung, mereka akan mampu mengatasi semua rintangan yang menghadang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN