Dua bulan berlalu sejak malam yang penuh kekacauan itu. Ricky telah memecat Ranty, rasa muak menyelimuti setiap kali ia melihat wajah wanita yang telah menjebaknya. Sayangnya, tanpa bukti yang kuat, ia tak bisa menghukum Ranty. Sekretaris baru telah menggantikan posisinya, dan hari-hari Ricky berjalan seperti biasa, meski penyesalan dan rasa bersalah kerap menghantuinya. Ranty sendiri menghilang, seolah ditelan bumi.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Sebuah mobil berhenti di depan mansion, dan seorang wanita keluar dengan terisak.
Para pelayan yang berada di dalam mansion sudah lama tidak melihat Ranty, mereka merasa terkejut dengan kedatangannya.
Para pelayan tidak tahu apa yang telah dialami oleh Ranty dan Ricky. Maka saat melihat kedatangan Ranty ke mansion, para pelayan menyambutnya dengan hangat.
Salah seorang pelayan menyambut Ranty dengan tatapan bingung namun tetap sopan. Dia ingin bertanya mengapa Ranty menangis, namun dia juga merasa sungkan.
"Maaf, Nona Ranty, ada keperluan apa datang kemari?" Tanya pelayan tersebut dengan hati-hati.
Ranty, dengan air mata yang membasahi pipinya, menjawab dengan suara serak, "Aku... aku ingin bertemu dengan Pak Ricky."
Para pelayan saling bertukar pandang. Mereka tahu bahwa Ranty telah dipecat dari kantor dan tidak lagi memiliki hubungan dengan Ricky. Namun, melihat kondisinya yang begitu memprihatinkan, mereka tidak tega untuk mengusirnya.
"Baiklah, Nona Ranty. Biar saya panggilkan kepala pelayan Bima terlebih dahulu." Ucap pelayan itu akhirnya, lalu bergegas masuk ke dalam mansion untuk memberi tahu sang kepala pelayan.
Akhirnya Bima datang menyambut kedatangan Ranty dan berkata, "Selamat malam Nona Ranty, sudah lama anda tidak datang kemari." Sapa sang kepala pelayan dengan sopan.
Ranty melihat Bima dengan wajah yang terlihat sedih. "Pak Ricky telah memecat saya dan juga tidak membiarkan saya datang ke mansion." Ucap wanita itu terisak-isak dengan suaranya yang parau.
Kepala pelayan Bima sudah mendengar jika Ranty sudah tidak lagi bekerja di perusahaan, namun dia tetap terkejut mendengarnya. Lalu Bima berkata, "Jadi, apa gerangan yang membuat Nona Ranty datang ke mansion ini?"
Mata Ranty masih meneteskan air mata, dia dengan sedih berkata "Saya ingin bertemu dengan Pak Ricky. Bisakah anda memberitahukan Pak Ricky, jika ada masalah penting yang harus saya bicarakan dengannya?"
Bima melihat penampilan Ranty terlihat sangat kasihan. Lalu Bima segera mengantarnya ke ruang tamu dan menyerahkan sekotak tisu yang berada di atas meja tamu.
"Baiklah, tunggu di sini sebentar Nona Ranty. Saya akan sampaikan kedatangan anda pada Tuan Ricky." Ucapnya sambil menyuruh Ranty untuk tetap menunggu di ruang tamu. Bima memerintahkan salah seorang pelayan menyiapkan segelas minuman untuk Ranty.
Bima kemudian naik ke lantai atas menuju ruang kerja Ricky. Dia kemudian mengetuk pintu.
Ricky sedang duduk di ruang kerjanya. Ia mendengar ketukan pintu, lalu menghentikan aktifitasnya.
"Masuk." Sahut Ricky tanpa mengalihkan pandangannya.
Kepala pelayan Bima masuk dengan ragu dan berkata, "Maaf mengganggu, Tuan Ricky. Nona Ranty datang dan ingin bertemu dengan Anda. Sekarang ia sedang menunggu anda di ruang tamu." Ucap Bima melapor pada Ricky perihal kedatangan Ranty ke mansion.
Ricky terkejut mendengar nama Ranty. Ia berdecak kesal dan bangkit dari kursinya dengan tatapan marah. "Untuk apa dia kemari!!! Suruh dia pergi! Aku tidak ingin bertemu dengannya!" Bentak Ricky dengan nada tinggi.
Bima terkejut mendengar bentakan Ricky, namun ia tetap berusaha menjelaskan, "Tapi, Tuan Ricky, Nona Ranty terlihat sangat sedih dan memohon agar bisa bertemu dengan Anda. Bagaimana kalau Anda menemuinya sebentar saja?"
Ricky terdiam sejenak, menimbang-nimbang. Di satu sisi, ia merasa muak dan benci terhadap Ranty. Di sisi lain, ia penasaran dengan apa yang ingin Ranty bicarakan padanya.
"Baiklah, Bima. Aku akan segera ke sana." Ucap Ricky akhirnya dengan nada enggan.
Bima mengangguk lega dan segera pergi untuk menyampaikan pesan Ricky pada Ranty.
Ricky menghela napas panjang dan mengusap wajahnya dengan kasar. Ia merasa hidupnya tidak pernah tenang sejak bertemu dengan wanita itu.
Ricky pun bangkit dari tempat duduk dan keluar dari ruang kerjanya. Dengan berat hati, Ricky berjalan menuju ruang tamu untuk menemui wanita tersebut.
Ricky berjalan menuruni anak tangga menuju ruang tamu, Namun ia merasakan perasaan yang campur aduk. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi, namun ia yakin bahwa pertemuan ini akan membawa perubahan besar dalam hidupnya.
Tatapan Ricky menjadi dingin, ketika ia melihat Ranty yang sedang duduk di sudut sofa menunggu kedatangannya.
Ricky menatap Ranty dengan tatapan tajam dan bertanya dengan dingin, "Untuk apa lagi kamu datang kemari? Tidak cukupkah kamu menjebak saya di malam itu?"
Ranty kemudian bangkit dari sofa lalu berlutut di hadapan Ricky, "Pak Ricky.." Dia menangis tersedu-sedu terlihat sangat kasihan.
"Berdiri!!! Untuk apa kamu berlutut di depan saya? Kamu pikir saya akan memaafkan kamu setelah menjebak saya seperti itu?" Ucap Ricky penuh dengan emosi.
"Pak Ricky, saya hamil." Ucap Ranty terisak-isak sambil memegang tangan Ricky.
Namun, apa yang diucapkan Ranty setelahnya membuat Ricky menjadi tercengang. Ricky menepis dengan kasar tangan Ranty yang sedang memegang tangannya. "Tidak mungkin!!!" Ucap Ricky tidak ingin mempercayai apa yang baru saja ia dengar.
Namun detik itu juga Ranty memberikan hasil laporan pemeriksaan kehamilannya pada Ricky.
Ricky menerima kertas itu dengan tangan gemetar. Dia membaca setiap baris kalimat di sana, matanya membelalak tak percaya. Hasil pemeriksaan itu jelas menunjukkan bahwa Ranty memang sedang mengandung, dan usia kandungannya sudah memasuki dua bulan.
"Ini... ini tidak mungkin..." Gumam Ricky lirih, merasa dunianya berputar. Dia menatap Ranty dengan tatapan nanar, mencoba mencari kebohongan di wajahnya, tetapi yang dia lihat hanyalah air mata dan ekspresi putus asa.
"Saya tahu ini sulit dipercaya, Pak Ricky. Tapi ini adalah kenyataannya. Saya mengandung anak Pak Ricky." Ucap Ranty dengan suara bergetar.
Ricky terdiam membisu, otaknya berusaha mencerna semua informasi yang baru saja dia dapatkan. Bagaimana bisa? Malam itu, dia berada di bawah pengaruh obat tidur, dan dia tidak ingat apa pun yang terjadi setelahnya. Mungkinkah Ranty benar-benar mengandung anaknya?
"Saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan, Pak Ricky. Saya tidak punya siapa-siapa lagi selain Pak Ricky. Saya mohon, jangan tinggalkan saya dan anak ini." Ucap Ranty sedih.
Ricky memalingkan wajahnya, tidak sanggup menatap Ranty lebih lama lagi. Dia merasa jijik, marah, dan bingung pada saat yang bersamaan. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan, tetapi satu hal yang pasti, dia tidak bisa begitu saja mengabaikan kenyataan bahwa ada seorang anak yang tidak bersalah yang akan lahir ke dunia ini. Anak yang mungkin saja adalah darah dagingnya sendiri.