Ricky menghela napas panjang dan berkata dengan suara berat, "Saya perlu waktu untuk memikirkan ini.."
Ranty menatap Ricky dengan mata berbinar dan mengangguk cepat. "Terima kasih, Pak Ricky. Terima kasih banyak."
Ricky tidak menjawab dan hanya berbalik badan, berjalan menuju jendela dan menatap kosong ke arah taman belakang. Pikirannya berkecamuk, mencoba mencari jalan keluar dari situasi yang semakin rumit ini. Dia merasa seperti terperangkap dalam labirin yang gelap dan menyesakkan, tanpa tahu ke mana harus melangkah.
Ricky mengusap wajahnya dengan kasar. Raut wajahnya terlihat sangat muram. Ricky seperti kehilangan jiwanya saat ini. Bagaimana tidak, dia merasa telah menghianati Mawar. Janji untuk menikah dan hidup bersama terancam gagal.
Akhirnya, mau tidak mau Ricky berkata dengan wajah yang terlihat suram, "Saya harus membicarakan masalah ini pada kedua orang tua saya lebih dulu. Saya akan bertanggung jawab jika memang kamu mengandung anak saya. Namun ada hal yang harus kamu ingat, sampai kapan pun, saya tidak akan pernah bisa mencintaimu! Kita juga tidak akan tidur di kamar yang sama setelah menikah, cam kan itu baik-baik!"
Ranty mengangguk setuju, air matanya mengalir dengan deras dan mengucapkan, "Terima kasih Pak Ricky." Akan tetapi, tangannya terkepal dengan erat hingga ke empat kuku jarinya menancap masuk ke dalam telapak tangan.
"Jangan berterima kasih dulu. Saya belum sepenuhnya yakin anak yang kamu kandung ini adalah anak saya." ucap Ricky dengan nada sinis.
Ranty hanya diam. Dalam hati Ranty berkata, 'Ricky, suatu hari nanti aku akan membuat dirimu menangis dan bertekuk lutut di bawah kakiku!" Sekilas Ranty menatap wajah Ricky dengan sangat dingin, namun dengan cepat dia menunduk kembali agar tidak terlihat oleh Ricky.
Ricky berbalik dan menjauh dari sana. Dia tidak tahan berlama-lama berada di dekat Ranty, wanita yang telah menghancurkan hidupnya. Dia berjalan menuju pintu, berniat untuk keluar dari ruangan itu dan mencari udara segar.
"Hari sudah larut, malam ini kamu istirahatlah di sini. Bima akan mengantarmu ke kamar tamu." Ucap Ricky tanpa menoleh ke arah Ranty.
Ricky keluar dari ruangan itu dan berjalan menuju kamarnya. Dia merasa sangat lelah dan ingin segera beristirahat. Namun, pikirannya terus berkecamuk, membuatnya sulit untuk memejamkan mata.
Ia meraih ponselnya dan menghubungi Denis. "Denis, batalkan semua jadwal saya besok. Saya tidak ingin diganggu oleh siapa pun," perintahnya dengan nada dingin.
Setelah menutup telepon, Ricky memejamkan matanya, mencoba menenangkan pikirannya. Ia merasa lelah, bukan hanya secara fisik, tetapi juga mental. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, tetapi ia tahu bahwa hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Bayangan Mawar tiba-tiba muncul di benaknya. Ia merasa bersalah karena merasa memberi harapan palsu padanya.
Dia memikirkan janjinya pada Mawar dan merasa bersalah karena mungkin dia tidak dapat menepati janjinya. Dia juga memikirkan anak-anaknya, Ken dan Luna.
Ricky mengacak-acak rambutnya merasa frustrasi. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Dia merasa seperti berada di persimpangan jalan, tanpa tahu arah mana yang harus dia pilih.
Sementara itu, di kamar tamu, Ranty tersenyum sinis. Dia berhasil menjebak Ricky dan membuatnya bertanggung jawab atas kehamilannya. Sekarang, dia hanya perlu menunggu waktu yang tepat untuk melaksanakan rencana selanjutnya.
Ranty akan membuat Ricky jatuh cinta padanya, menguras seluruh hartanya dan kemudian menghancurkan hidupnya perlahan-lahan. Dia ingin membalas dendam atas semua yang telah Ricky lakukan padanya. Dia ingin melihat Ricky menderita dan bertekuk lutut di hadapannya.
"Tunggu saja, Ricky. Penderitaanmu baru akan di mulai!" Gumam Ranty dengan suara serak.
Kemudian Bima datang menghampirinya, Ranty berpura-pura menyeka air matanya, dan berkata pada Bima, "Bima, mohon bantuannya ya."
Bima yang memang sudah lama bekerja pada keluarga Pratama hanya mengangguk dan tersenyum pada Ranty. Dalam hatinya, Bima merasa sedikit simpati pada Ranty.
Keesokan harinya, setelah berpikir semalaman, di pagi yang cerah itu, Ricky akhirnya memutuskan untuk mendatangi mansion tempat dimana kediaman ayah dan ibunya tinggal. Setelah tiba di kediaman orang tuanya, kepala pelayan menyambutnya dengan hangat, lalu membawa Ricky masuk ke dalam ruang keluarga.
Ayah Ricky, Dony Pratama heran melihat kedatangan putranya tanpa kabar. Biasanya Ricky akan memberitahukan kedatangannya.
"Tumben sekali kamu ingat untuk pulang mengunjungi Ayah dan Ibu. Bukankah kamu selalu sibuk bekerja?" Ucap pria paruh baya yang telah berusia 50 tahun itu.
Ricky ingin menyampaikan niatnya kepada kedua orang tuanya tentang dirinya yang ingin menikahi Ranty. Lalu dia berkata, "Ayah, Ibu, ada hal penting yang ingin aku bahas pada Ayah dan Ibu." Jawabnya menatap wajah kedua orang tuanya dengan raut wajah yang terlihat sangat serius.
Ibu Ricky, Dina Pratiwi menyesap teh yang disajikan oleh kepala pelayan, lalu bertanya dengan penasaran, "Hal penting apa yang ingin kamu katakan kepada kami? Kelihatanya sangat serius sekali." Wanita paruh baya yang kini telah berusia 45 tahun itu, menatap wajah Ricky dengan penuh selidik.
Ricky menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri sebelum menyampaikan berita yang akan mengejutkan kedua orang tuanya. "Ayah, Ibu.. Aku berencana menikahi Ranty. Aku ingin meminta restu dari kalian berdua." Ucapnya dengan wajah yang masih terlihat muram, namun ia mencoba mengendalikan emosi di hatinya tersebut. Ini bukan karena perasaan cinta, namun lebih ke arah tanggung jawab pada wanita yang di hamili olehnya.
"Apa??? Kamu ingin menikahi Ranty, sekertarismu itu? Ibu tidak setuju!" Ucap Dina menentang Ricky.
Raut wajah Dina terlihat sangat terkejut dan tidak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. "Tidak, Ibu tidak bisa menerima ini. Kamu belum lama kehilangan Nayla, dan sekarang kamu ingin menikahi wanita itu? Apalagi dia terlihat seperti wanita jalangg! Dia pasti bukan wanita baik-baik. Ibu tidak setuju kamu menikah dengannya!" Tegasnya lagi dengan nada yang meninggi.
Dony Pratama menatap Ricky dengan tatapan tajam. Dia tidak menyangka bahwa putranya akan membuat keputusan yang begitu mengejutkan dan terkesan terburu-buru.
"Ricky, apa kamu yakin dengan keputusanmu ini? Ini bukan masalah yang bisa kamu putuskan dengan tergesa-gesa. Pernikahan adalah sesuatu yang sakral dan membutuhkan pertimbangan yang matang." Ucapnya dengan nada yang lebih tenang dari istrinya.
Ricky menunduk, tidak berani menatap wajah kedua orang tuanya. Dia tahu bahwa keputusannya ini akan membuat mereka kecewa dan marah. Namun, dia merasa bahwa dia tidak punya pilihan lain. "Aku tahu ini sulit untuk di terima, tapi aku harus bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi. Ranty sedang mengandung, dan kemungkinan itu adalah anakku. Aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja." Jawabnya dengan suara yang lirih.