Bab 2 - Sangat terpukul

1978 Kata
Ricky menatap Nayla dengan penuh cinta. "Apa pun itu, Sayang. Mas akan berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhinya." Jawab Ricky dengan tulus, sambil menatap lembut wajah Nayla. "Mas Ricky harus janji pada Nayla, Mas Ricky akan selalu menjaga dan menyayangi Ken dan Luna. Mas Ricky harus menjadi ayah yang baik bagi mereka. Bimbing mereka agar menjadi anak-anak yang berbakti dan berguna di masa depan." Pinta Nayla dengan air mata yang terus mengalir. Ricky terdiam sesaat, mencoba mencerna kata-kata Nayla. Dia masih menatap lekat wajah pucat Nayla dengan heran, mengapa kata-kata istrinya itu seperti sedang mengucapkan perpisahan dan pesan terakhir untuknya. Ia pun menggenggam tangan Nayla semakin erat. "Mas janji, Sayang. Mas akan selalu menjaga dan menyayangi Ken dan Luna. Mas akan menjadi ayah yang baik bagi mereka berdua. Mas akan membimbing mereka agar menjadi anak-anak yang berbakti dan berguna di masa depan. Mas janji padamu." Ucap Ricky dengan suara yang bergetar, berusaha untuk tidak menangis di depan Nayla. Nayla tersenyum lega mendengar janji Ricky. "Terima kasih, Mas Ricky. Nayla sangat mencintaimu." Ucap Nayla dengan suara yang semakin lirih. Ricky mendekatkan wajahnya pada Nayla lalu mengecupnya dengan lembut. Ia merasakan betapa rapuhnya Nayla saat ini. "Mas juga sangat mencintaimu, Sayang. Jangan khawatirkan apa pun. Mas akan selalu ada di sini untukmu, istirahatlah dengan baik." Bisik Ricky di telinga Nayla. Nayla kembali memejamkan matanya perlahan. Ia memang merasa sangat lelah dan lemah. Namun, Nayla tetap berusaha untuk tetap tegar demi suaminya yang tercinta. Sementara itu, Ricky terus menggenggam tangan Nayla erat. Ia tidak ingin melepaskannya sedetik pun. Ia berdoa dalam hati agar Nayla diberikan kekuatan dan kesembuhan. Namun tiba-tiba Ricky mendengar suara Bipppp.. Ia melihat ke arah monitor pemantau tanda vital istrinya, monitor itu menunjukkan garis lurus. Ricky sangat terkejut melihatnya. Salah seorang perawat menyerahkan bayi tersebut pada Ricky. Dengan tergesa-gesa perawat itu berlari keluar ruangan dan memanggil dokter. Melihat kekacauan tersebut, dari luar orang tua Nayla dan Ricky menjadi panik. Dengan tergesa-gesa mereka semua masuk ke dalam untuk melihat keadaan Nayla. Melihat kondisi Nayla, Jony dan Rina semakin panik. Jony segera menghampiri Ricky, "Ricky, apa yang terjadi?" Tanya ayah mertua Ricky dengan nada cemas. Ricky yang masih terkejut, menyerahkan kedua bayinya kepada ayah dan ibunya. "A-Aku tidak tahu Ayah. Setelah mengucapkan beberapa patah kata, kondisi Nayla jadi seperti ini." Ucapnya gugup, air mata mulai membasahi pipinya. Jony berusaha tetap tenang, menepuk pundak Ricky pelan. "Tenang Nak, jangan panik. Kita di sini berdoa yang terbaik untuk Nayla." Ibunya mendekat ke arah Ricky dan memeluknya erat. "Ricky, kamu yang sabar ya Nak, Mama tahu ini berat untukmu. Tapi kamu harus kuat, kamu harus tegar demi kedua anak-anakmu apapun yang terjadi." Ayahnya, mengangguk setuju dengan ucapan istrinya. "Iya Nak, kamu harus kuat. Jangan biarkan kesedihan ini menguasai dirimu. Kamu harus bisa menjadi ayah yang baik bagi Ken dan Luna, mereka berdua membutuhkanmu." Dokter tiba di ruang perawatan dengan langkah cepat. Dia memberi isyarat kepada keluarga untuk memberikan ruang, lalu segera memeriksa kondisi Nayla dengan seksama. Alat pacu jantung ia gunakan, berupaya keras mengembalikan detak jantung Nayla yang telah hilang. Usaha maksimal telah dikerahkan olehnya, namun sang dokter hanya mampu menghela napas, menggelengkan kepala dengan perlahan. Matanya melirik jam di pergelangan tangan, sebelum akhirnya berucap lirih kepada perawat yang mendampingi. "Waktu kematian, pukul 10.47 pagi." Dokter wanita itu kemudian berjalan menghampiri Ricky. "Maaf Pak Ricky, kami telah berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan Ibu Nayla. Namun Ibu Nayla tidak berhasil kami selamatkan, dengan sangat menyesal kami menyampaikan bahwa Ibu Nayla telah meninggal dunia. Waktu kematian pukul 10.47 pagi." "Nayla... Sayang... Jangan tinggalkan aku!" Teriak Ricky histeris saat melihat Nayla menghembuskan nafas terakhirnya. Ricky tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. Ia merasa dunianya runtuh seketika. Kehilangan Nayla adalah pukulan terberat dalam hidupnya. Ia tidak tahu bagaimana caranya menjalani hidup tanpa Nayla di sisinya. Tangannya memegangi tembok, tubuhnya sedikit limbung. Ricky berjalan perlahan mendekati Nayla, dia menangis dengan sangat pilu. Pria itu memegang tangan Nayla yang mulai terasa dingin. Tangis Ricky pecah, ia memeluk erat tubuh Nayla yang sudah mulai dingin. "Nayla, mengapa kamu tega meninggalkan Mas dan kedua anak kita begitu saja?" Tangisannya terdengar pilu. Dokter yang melihatnya meminta para perawat yang lainnya untuk meninggalkan ruangan, memberikan waktu untuk Ricky beserta keluarga lainnya. Ricky membelai pipi Nayla yang sudah dingin. Ricky merasa tak berdaya. Namun memikirkan kedua buah hati yang ditinggalkan oleh istrinya, membuat Ricky merenung sejenak. Ricky mulai menerima kenyataan pahit ini. Kedua orang tua Nayla menangis dengan sangat pilu melihat putrinya yang terbujur kaku di atas ranjang rumah sakit. Mereka berdua tak kuasa melihat putrinya yang masih muda telah pergi mendahului mereka. Dina juga tidak dapat menahan air matanya, dia mendekat ke arah suaminya dan memeluknya dengan erat. Dony pun mencoba menenangkan istrinya, walaupun dia sendiri merasa sangat terpukul. Ricky hanya bisa terdiam, seolah separuh jiwanya telah hilang. Dokter menghampiri Ricky dan menepuk pundaknya dengan lembut. "Pak Ricky, saya turut berduka cita atas kepergian istri anda. Kami telah melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan Bu Nayla, namun takdir berkata lain." Ricky mengangguk pelan, mencoba menerima kenyataan pahit yang ada di hadapannya. "Terima kasih Dokter, saya mengerti." Suasana ruang perawatan menjadi hening, hanya terdengar isak tangis pilu dari keluarga yang berduka. Kepergian Nayla meninggalkan luka yang mendalam bagi semua orang yang mencintainya. Ricky merasa hancur, namun ia harus kuat demi kedua buah hatinya. Ricky menatap wajah Nayla yang pucat, mencoba mengukir setiap detail dalam ingatan. Ini adalah wajah yang dicintainya, wajah yang selalu membuatnya merasa damai dan bahagia. Ricky membelai rambutnya dengan lembut, mencoba merasakan kehadirannya sekali lagi. "Selamat jalan, sayang. Aku akan selalu mencintaimu." Bisik Ricky lirih. Perawat datang dan memberitahukan bahwa jenazah Nayla harus segera dibawa ke kamar jenazah untuk disucikan dan di bawa ke rumah duka. Ricky masih terpaku di ruang perawatan, tidak bisa menerima kenyataan bahwa Nayla telah pergi untuk selama-lamanya. Ken dan Luna, yang masih berada di dalam gendongan ayah dan ibunya, menangis seolah merasakan kesedihan yang mendalam. Ricky menatap kedua buah hatinya dengan tatapan sendu. Ia tahu, mulai saat ini, ia harus menjadi ayah sekaligus ibu bagi Ken dan Luna. Ia harus memberikan kasih sayang yang utuh kepada mereka, meskipun hatinya sedang hancur berkeping-keping. Ricky berjalan mendekat ke arah kedua anaknya. Ricky meminta pada ayah, ibu dan juga kedua mertuanya untuk mengabari berita kematian sang istri kepada para kerabat terdekat. Ricky juga menghubungi Denis, asisten pribadinya, untuk mengatur rumah duka dan tempat pemakaman untuk Nayla. Ricky ingin membawa pulang kedua bayinya dulu ke mansion. Ardi dengan sigap mengantar Ricky menuju mansion, dalam waktu 10 menit mereka pun tiba. Ardi turun dan membukakan pintu belakang mobil untuk Ricky. Ricky masuk ke dalam mansion bersama kedua bayinya dan menyerahkan kedua bayi tersebut pada Bi Siti untuk di asuh, wanita paruh baya yang dulu pernah merawatnya sewaktu Ricky masih kecil. "Bi Siti, tolong bantu saya untuk merawat dan menjaga kedua anak-anak ini. Mereka bernama Ken dan Luna. Saya masih harus mengurus pemakaman untuk Nayla." Ucap Ricky, kemudian menatap kedua buah hatinya dengan tatapan sedih. Bi Siti mengangguk sambil berkata, "Baik Den, percayakan mereka berdua kepada saya. Saya akan mengurus kedua bayi anda dengan baik seperti saya dulu merawat anda." Bi Siti telah mendengar kabar dari Ardi. Jadi dia memang sudah menunggu kedatangan Ricky. Ricky sangat berterima kasih pada Bi Siti. Hanya wanita paruh baya ini yang dapat dia percaya untuk membantunya merawat dan mengasuh kedua buah hatinya tersebut. Kemudian setelah menyerahkan mereka, Ricky segera pergi ke rumah duka. Denis juga telah mengurus semuanya dengan baik, jenazah Nayla dibawa ke rumah duka setelah semuanya dipersiapkan dengan baik. Kedua orang tua Ricky dan Nayla telah tiba di rumah duka. Tak lama setelahnya Ricky juga tiba di rumah duka. Kedatangan Ricky disambut suasana yang sarat akan kesedihan. Karangan bunga duka cita berjejeran, mengirimkan pesan simpati dan kehilangan mendalam. Ayah dan ibunya, serta kedua mertuanya, menyambutnya dengan pelukan erat, mencoba menyalurkan kekuatan di tengah duka yang mendalam. "Ricky, Nak, yang sabar ya." Ucap ibunya, dengan suara bergetar. "Kami semua ada di sini untukmu." Ricky hanya mengangguk, air mata kembali membasahi pipinya. Ia berjalan mendekat ke peti jenazah Nayla, hatinya kembali berdenyut nyeri. Wajah Nayla tampak tenang, seolah sedang tertidur lelap. Ricky tidak bisa lagi membendung air matanya, ia menangis sejadi-jadinya. "Nayla, sayang... kenapa kamu ninggalin Mas secepat ini?" Isak Ricky, suaranya tercekat. Kedua orang tua Nayla mendekat dan memeluk Ricky erat. Mereka tahu betul betapa hancurnya perasaan Ricky saat ini. Mereka juga merasakan kehilangan yang sama, kehilangan putri tercinta mereka. "Ricky, Nayla pasti ingin kamu kuat." Ujar ayah Nayla, dengan nada menenangkan. Ricky mengangguk, mencoba menguatkan dirinya. Ia tahu, Nayla akan sedih jika melihatnya terus-menerus terpuruk dalam kesedihan. Ia harus bangkit, demi kedua buah hatinya, demi janjinya pada Nayla. Setelah memberikan penghormatan terakhir kepada Nayla, Ricky menyalami para pelayat yang hadir. Banyak kolega bisnis dan teman-teman dekat yang datang untuk menyampaikan belasungkawa. Mereka semua turut berduka atas kepergian Nayla, wanita yang dikenal baik dan ramah. "Ricky, kami turut berduka cita atas kepergian Nayla," ucap salah seorang kolega bisnisnya. "Semoga kamu diberikan kekuatan untuk menghadapi cobaan ini." Ricky mengucapkan terima kasih atas ucapan belasungkawa dan dukungan yang diberikan. Ia merasa sedikit terhibur dengan kehadiran orang-orang yang menyayanginya. Namun, hatinya tetap terasa kosong dan hampa. Selama berada di rumah duka, Ricky tidak bisa berhenti memikirkan Nayla. Ia teringat semua kenangan indah yang pernah mereka lalui bersama. Mulai dari saat mereka pertama kali bertemu, saat mereka menikah, hingga saat mereka menantikan kelahiran Ken dan Luna. Semua kenangan itu kini terasa begitu menyakitkan. Di tengah kesedihannya, Ricky juga merasa khawatir dengan masa depan Ken dan Luna. Ia tidak tahu bagaimana caranya membesarkan kedua bayi itu seorang diri. Ia merasa tidak mampu menggantikan peran Nayla sebagai seorang ibu. Denis juga terlihat sibuk mengatur segala keperluan, memastikan para tamu mendapatkan tempat duduk yang nyaman, menyediakan minuman dan makanan, serta mengatur alur para pelayat yang ingin memberikan salam perpisahan kepada Nayla. Ardi juga turut membantu dengan memarkirkan mobil para tamu dan mengatur lalu lintas di sekitar rumah duka. Ricky menyambut satu per satu para pelayat dengan senyum yang dipaksakan. Ia mengucapkan terima kasih atas kehadiran dan dukungan mereka. Ia berusaha tegar di hadapan mereka. Ranty, sekretaris Ricky, juga terlihat hadir di antara para pelayat. Ia mengenakan pakaian serba hitam, namun tatapannya menyimpan sesuatu yang sulit diartikan. Ia mendekati Ricky dengan langkah anggun, lalu mengulurkan tangannya. "Pak Ricky, saya turut berduka cita atas kepergian Bu Nayla." Ucap Ranty dengan suara yang dibuat lirih. Ricky menjabat tangan Ranty dengan dingin, tanpa membalas tatapannya. Ia tahu, Ranty tidak benar-benar tulus dalam menyampaikan belasungkawa. Ricky tidak mempedulikan Ranty lebih lanjut, hatinya masih terlalu penuh dengan duka untuk meladeni wanita itu. Setelah menyalami Ricky, Ranty menghampiri kedua orang tua Ricky. Ia menjabat tangan mereka satu per satu. Ranty berkata, "Tante, Om, yang sabar ya, Ranty akan lebih memperhatikan Pak Ricky ke depannya." Dini dan Dony hanya mengangguk pelan, tanpa membalas ucapan Ranty. Mereka tahu, Ranty hanya sedang mencari muka di hadapan mereka. Mereka tidak menyukai wanita itu, namun mereka tidak ingin membuat keributan di tengah suasana duka. *** Keesokan harinya, di tempat pemakaman, suasana terasa pilu. Semua yang hadir mengenakan pakaian serba hitam, tanda berkabung yang mendalam. Para pegawai perusahaan Ricky pun turut hadir, wajah mereka menyimpan duka yang sama. Di antara mereka, tampak Ranty, sekretaris Ricky. Selama ini dia berusaha mendekati Ricky, meski tahu Ricky sudah memiliki istri. Ranty memang dikenal sebagai wanita tercantik di perusahaan Ricky. Ia tak pernah melewatkan kesempatan untuk menggoda Ricky, namun usahanya selalu menemui jalan buntu. Ricky adalah sosok pria dingin yang sulit tergoda, bahkan oleh pesona Ranty sekalipun. Ranty memiliki penampilan yang cantik dan juga sexy, pakaian yang dikenakan pun selalu minim dan terlihat kekurangan bahan. Namun Ricky tetap tidak tergoda oleh Ranty. Ranty menatap kuburan Nayla sambil tersenyum jahat. Saingan terberatnya akhirnya lenyap juga. Ranty sangat senang setelah mendengar kabar kematian Nayla. Ranty menghampiri Ricky, berpura-pura sedih, dan berusaha untuk menghiburnya. "Yang tabah ya Pak Ricky, mungkin ini sudah takdir Bu Nayla." Ucap Ranty sambil menatap Ricky dengan lekat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN