Ricky hanya mengangguk pelan menanggapi ucapan wanita tersebut. Ricky terlalu sedih dan lelah dalam beberapa hari ini, dia sudah tidak memiliki tenaga untuk menanggapi orang-orang sekitar. Setelah semua orang pergi, hanya tersisa Ricky dan Ranty.
Ranty menawarkan diri untuk mengantar Ricky pulang, karena Ricky terlihat kelelahan. "Saya temani Pak Ricky pulang ya?" Ajak Ranty sambil berjalan mendekati Ricky.
Namun Ricky menolak dengan tegas, "Tidak perlu, ada sopir yang mengantarku pulang." Tegasnya.
Kemudian Ricky melangkah pergi meninggalkan Ranty yang masih terpaku di sana. Ricky berjalan menuju mobilnya yang di parkir tidak jauh dari sana.
Ranty yang di tinggal pergi begitu saja, kemudian mengepalkan kedua telapak tangannya dengan erat sambil bergumam, "Ricky, cepat atau lambat kamu pasti akan jatuh ke dalam pelukanku!" Gumamnya dengan nada penuh emosi. Ranty menatap kepergian Ricky dengan sorot mata yang tajam.
Ricky pun tiba di mansion kediamannya. Dengan langkah kaki besar, Ricky berjalan menuju kamarnya dan masuk ke dalam. Sudah tiga hari Ricky tidak tidur. Ricky kemudian membersihkan diri, berbaring di atas tempat tidur dan beristirahat sejenak.
Ricky memejamkan mata, mencoba menenangkan diri. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Ricky berusaha menerima kenyataan pahit yang harus dihadapinya. Nayla telah pergi untuk selama-lamanya, dan kini ia harus membesarkan Ken dan Luna seorang diri.
Setelah beberapa menit berbaring, Ricky bangkit dari tempat tidur. Ia berjalan menuju kamar bayi, tempat Ken dan Luna berada. Ricky membuka pintu dengan perlahan, agar tidak mengganggu tidur kedua buah hatinya. Ia melihat Bi Siti sedang menidurkan Ken dan Luna di dalam box bayi.
"Bagaimana keadaan mereka, Bi?" Tanya Ricky dengan suara pelan.
Bi Siti menoleh ke arah Ricky, lalu tersenyum. "Mereka baik-baik saja, Den. Mereka sudah minum s**u dan sekarang sedang tidur." Jawab Bi Siti ramah.
Ricky mendekati box bayi, lalu menatap wajah kedua buah hatinya dengan penuh kasih sayang. Ken dan Luna terlihat sangat tenang dan damai ketika tidur. Ricky merasa hatinya sedikit terobati melihat wajah kedua bayinya.
"Terima kasih, Bi. Bibi sudah menjaga mereka berdua dengan baik." Ucap Ricky tulus.
"Sama-sama, Den. Ini sudah menjadi tugas Bibi." Jawab Bi Siti dengan rendah hati.
Ricky mengulurkan tangannya, lalu mengelus kepala Ken dan Luna dengan lembut. Ia berjanji pada dirinya sendiri akan memberikan yang terbaik untuk kedua anak-anaknya. Ricky tidak ingin Ken dan Luna merasakan kekurangan kasih sayang, meski tanpa kehadiran seorang ibu.
"Bi, saya ingin bicara sebentar denganmu." Ucap Ricky.
"Baik, Den." Jawab Bi Siti.
Ricky dan Bi Siti keluar dari kamar bayi, lalu keduanya berjalan menuju ruang keluarga. Mereka duduk di sofa, saling berhadapan.
"Bi, saya ingin meminta bantuanmu." Ucap Ricky memulai pembicaraan.
"Bantuan apa, Den?" Tanya Bi Siti.
"Saya ingin Bi Siti membantu saya merawat Ken dan Luna. Saya tahu, saya tidak akan bisa melakukannya seorang diri. Saya sangat membutuhkan bantuan Bi Siti." Jelas Ricky dengan nada memohon.
Bi Siti tersenyum, lalu mengangguk. "Tentu saja, Den. Bibi akan dengan senang hati membantu Den Ricky merawat Ken dan Luna. Bibi sudah menganggap mereka berdua seperti cucu Bibi sendiri." Jawab Bi Siti dengan penuh kasih sayang.
Ricky tersenyum tipis, ia merasa sangat lega mendengar jawaban dari Bi Siti. Ia tahu, Bi Siti adalah orang yang tepat untuk membantunya merawat Ken dan Luna. Bi Siti sudah seperti ibu baginya, dan ia sangat percaya pada Bi Siti.
"Oh ya Den, Bibi memiliki seorang keponakan bernama Mawar. Dia berasal dari desa kelahiran Bibi. Kebetulan dia baru lulus SMA dan ingin mencari pekerjaan untuk tambahan biaya kuliah. Anaknya sangat baik dan menyukai anak-anak, bagaimana jika Den Ricky mempertimbangkan Mawar sebagai pengasuh anak-anak?" Jelas Bi Siti pada Ricky.
Ricky merenung sejenak, memang mengasuh dua bayi sekaligus sangat melelahkan. Kenapa dia tidak berpikir sejauh itu.
"Baiklah Bi, dia dapat bekerja di sini sebagai pengasuh Ken dan Luna untuk membantu Bibi." Jawab Ricky singkat.
"Baik Den, terima kasih." Ucap Bi Siti tersenyum lega.
***
Ricky berdiri di depan jendela besar, menatap hamparan lampu taman yang berkelip-kelip. Bayangan wajahnya yang lelah terpantul di kaca, mencerminkan beban duka yang masih mengimpit dadanya. Istrinya, Nayla, telah pergi sebulan lalu, meninggalkan dirinya dan sepasang bayi kembar yang baru lahir. Kehadiran buah hati seharusnya menjadi sumber kebahagiaan, tetapi kini justru mengingatkan Ricky pada kehilangan yang mendalam.
Di sudut ruangan, Bi Siti, pelayan setia yang sudah dianggap seperti ibu sendiri, sedang menimang Luna. Kerutan di wajahnya semakin jelas saat tersenyum pada kedua bayi itu. Bi Siti-lah yang selama ini merawat Ken dan Luna, sehingga kedua bayi terurus dengan baik. Namun, Ricky tahu, usia Bi Siti sudah senja, dan merawat dua bayi sekaligus bukanlah tugas yang ringan.
"Tuan Ricky, Mawar sudah datang." Suara Bima memecah lamunan Ricky.
Mawar, nama itu terasa asing namun juga menenangkan di telinganya. Gadis desa yang direkomendasikan Bi Siti untuk membantu mengurus si kembar. Ricky menghela napas, membenarkan dasinya, dan berbalik.
Mawar berdiri di ambang pintu, mengenakan blus sederhana dan rok panjang. Rambutnya yang hitam legam tergerai, membingkai wajahnya yang polos, cantik dan teduh. Matanya yang cokelat berbinar, memancarkan kehangatan yang kontras dengan aura dingin yang selalu dipancarkan Ricky.
"Selamat malam, Tuan Ricky. Saya Mawar, keponakan Bi Siti." Sapa Mawar dengan suara lembut.
Ricky mengangguk singkat. "Selamat datang, Mawar. Bi Siti sudah menceritakan tentangmu."
Mawar mendekat, matanya tertuju pada Luna yang berada dalam gendongan Bi Siti. "Saya senang bisa membantu merawat anak-anak anda, Tuan. Karena saya sangat menyukai anak-anak."
Ricky terdiam, mengamati Mawar. Ada sesuatu dalam diri gadis itu yang menarik perhatiannya. Bukan hanya karena perkataan Mawar yang menyukai anak-anak, tetapi ada ketulusan dan kehangatan yang terpancar darinya.
"Bima, siapkan sebuah kamar di sebelah kamar bayi untuk Mawar." Ucap Ricky pada Bima sang kepala pelayan.
Bi Siti dan Bima sedikit terkejut. Letak kamar yang ada di sebelah kamar bayi itu tepat berada di depan kamar Ricky.
"Baik, Tuan Ricky." Ucap Bima, kemudian mengantar Mawar ke kamar barunya.
Sudah sebulan juga sejak kepergian Nayla. Ricky merasa hari-harinya hampa tanpa kehadiran sang istri. Selama sebulan ini, ia bahkan tak pernah sekalipun pergi ke kantor. Denis, asistennya, yang selama ini mengurus semua pekerjaannya. Ranty, sekretarisnya, juga sering berkunjung ke mansion dengan alasan menyerahkan berkas. Ia mencoba mendekati Ricky melalui kedua anak-anaknya, berharap bisa menarik perhatian pria tersebut.
Di ruang keluarga, Ricky duduk termenung. Ken dan Luna tertidur pulas di box bayi, Mawar dengan telaten menjaga keduanya. Ricky memandangi wajah kedua anaknya, hatinya terasa perih. Ia merindukan Nayla, senyumnya, suaranya, kehadirannya. Ricky merasa bersalah karena belum bisa menjadi ayah yang baik untuk Ken dan Luna. Ia masih terlarut dalam kesedihan, belum bisa menerima kenyataan bahwa Nayla telah pergi.
Bi Siti mendekat, membawa secangkir teh hangat untuk Ricky. "Den Ricky, jangan terlalu larut dalam kesedihan. Kasihan Ken dan Luna, mereka juga butuh Aden." Ucap Bi Siti dengan lembut.
Ricky menghela napas panjang. "Saya tahu, Bi. Tapi saya merasa tidak mampu. Saya tidak tahu bagaimana caranya menjadi seorang ayah sekaligus ibu untuk mereka berdua." Jawab Ricky dengan suara lirih.
"Den Ricky tidak sendiri. Ada Bibi dan Mawar di sini yang akan membantu Aden merawat Ken dan Luna." Ucap Bi Siti sambil tersenyum.
Ricky menatap Bi Siti dengan tatapan penuh terima kasih. "Terima kasih, Bi. Saya tidak tahu apa jadinya saya tanpa bantuan Bibi." Ucap Ricky dengan tulus.
"Sudah menjadi kewajiban Bibi untuk membantu Den Ricky. Den Ricky sudah Bibi anggap seperti anak sendiri." Jawab Bi Siti lembut.
Beberapa minggu berlalu dengan cepat, kehadiran Mawar membawa perubahan signifikan dalam kehidupan Ricky. Rumah terasa lebih hidup, tawa bayi kembar menggema di setiap sudut ruangan.
Mawar dengan sabar dan telaten mengurus Ken dan Luna, memberi susuu, mengganti popok, dan menidurkan mereka. Ricky seringkali terpaku mengamati Mawar, terpesona dengan kelembutan dan kasih sayangnya.
Di taman belakang, Mawar sedang bermain dengan Ken dan Luna di atas selimut. Ia tertawa riang saat Ken menggenggam jarinya erat-erat. Luna tertidur pulas di sampingnya, bibirnya bergerak-gerak seolah sedang menyusu.
Tanpa disadari Mawar, Ricky berdiri di ambang pintu, mengamatinya dari kejauhan. Pemandangan itu terasa begitu indah dan menenangkan. Ia merasakan kehangatan menjalar di hatinya.
Ricky berjalan mendekat, membuat Mawar menoleh. "Tuan Ricky, sedang apa di sini?" Tanya Mawar dengan senyum polos.
Ricky berdeham, mencoba menenangkan dirinya. "Saya hanya ingin melihat anak-anak." Jawabnya, berusaha menyembunyikan debaran jantungnya.
Mawar tersenyum. "Ken dan Luna sangat senang bermain di sini. Udara segar dan pemandangannya indah."
Ricky duduk di samping Mawar, merasakan kehangatan tubuh gadis itu di dekatnya. Ia menatap Mawar, matanya memancarkan perasaan yang sedang ia pendam.
Setelah berbincang beberapa saat, Ricky terpaksa kembali ke ruang kerjanya. Masih banyak pekerjaan yang harus dia kerjakan. Ricky duduk di ruang kerja sambil menatap laporan keuangan di hadapannya, namun pikirannya melayang jauh.
Aroma bedak bayi dan s**u formula yang tertinggal di udara mengingatkannya pada Mawar. Ia menggelengkan kepala, mencoba mengusir bayangan gadis itu dari benaknya. Ia tidak seharusnya memikirkan Mawar lebih dari sekadar pengasuh anak-anaknya.
Semakin hari, Ricky semakin sulit mengendalikan perasaannya. Setiap kali melihat Mawar tersenyum, jantungnya berdebar kencang. Setiap kali Mawar tak sengaja menyentuhnya saat memberikan Ken atau Luna, tubuhnya terasa dialiri listrik. Ia sadar, mungkin ia telah jatuh cinta pada Mawar.
Malam itu, Ricky tak bisa tidur. Pikirannya dipenuhi oleh Mawar. Bayangan gadis itu menari-nari di benaknya, senyumnya, tatapannya, kelembutannya. Ia berguling di tempat tidur, mencoba mencari posisi yang nyaman, namun tak berhasil. Ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju balkon kamarnya.
Udara malam yang dingin menerpa wajahnya, mencoba menenangkan gejolak dalam hatinya. Ia menatap langit yang bertaburan bintang, mencari jawaban atas kegundahannya. Apakah pantas baginya untuk mencintai Mawar? Apakah ia tidak mengkhianati Nayla jika ia membuka hatinya untuk gadis lain?
Di saat yang sama, Mawar juga terjaga. Kamar barunya memang nyaman, namun ia merasa aneh. Pikirannya terus tertuju pada Ricky. Ia tak mengerti mengapa ia merasa seperti ini. Ia merasa nyaman berada di dekat pria itu, merasa aman dan terlindungi.
Mawar menatap langit-langit kamarnya. Ia tak bisa memungkiri bahwa ia merasa kagum pada Ricky. Pria itu tampan, berwibawa, dan baik hati. Ia juga sangat menyayangi Ken dan Luna. Namun, ia sadar bahwa ia hanyalah seorang gadis desa yang bekerja sebagai pengasuh anak. Ia tak mungkin memiliki kesempatan untuk bersama dengan Ricky.
Pagi harinya, Ricky memutuskan untuk menghampiri Mawar di kamarnya. Ia ingin berbicara dengannya, ingin mengungkapkan perasaannya yang selama ini ia pendam. Ia berjalan dengan langkah mantap menuju kamar Mawar, jantungnya berdebar kencang.
Sesampainya di depan kamar Mawar, Ricky mengetuk pintu dengan ragu. "Mawar, apakah kamu sudah bangun?" Tanyanya dengan suara pelan.
Mawar membuka pintu dengan wajah terkejut. "Tuan Ricky? Ada apa?" Tanyanya bingung. Rambutnya masih sedikit berantakan, dan ia mengenakan piyama tidur berwarna biru muda.
Ricky menelan ludah, mencoba menenangkan dirinya. "Saya... saya ingin berbicara denganmu." Ucapnya dengan gugup.
Mawar mempersilakan Ricky masuk ke kamarnya. Kamar itu sederhana, namun bersih dan rapi. Aroma sabun dan bedak bayi tercium di udara.
Ricky duduk di tepi tempat tidur, merasa canggung. Ia menatap Mawar, mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya. "Mawar, sebenarnya... ada sesuatu yang ingin saya sampaikan." Ucapnya dengan suara lirih.
Mawar menatap Ricky dengan tatapan penuh tanya. "Apa itu, Tuan?" Tanyanya penasaran. Ia mendekat, duduk di samping Ricky. Jantungnya berdebar kencang, ia penasaran dengan apa yang akan dikatakannya.