Bab 17 - Ikuti saja semua yang aku katakan

1180 Kata
Tiba di perusahaan, Denis langsung membacakan jadwal Ricky. "Pak, hari ini ada pertemuan dengan klien penting, PT. Dirgantara Group, jam dua siang." Ucap Denis sambil menyerahkan sebuah map berwarna biru. Ricky mengangguk, menerima map tersebut. "Siapkan semua berkas yang diperlukan. Pastikan semuanya lengkap dan tidak ada yang tertinggal." Perintah Ricky dengan tegas. Denis dengan sigap menjawab, "Baik, Pak Ricky. Semua sudah saya siapkan." Ricky berjalan menuju ruangannya, diikuti oleh Denis. Pikirannya masih dipenuhi dengan masalah kehamilan Ranty. Meskipun ia sudah berjanji pada orang tuanya untuk melakukan tes DNA, ia tetap merasa cemas dan tidak tenang. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Sesampainya di ruangan, Ricky duduk di kursi kerjanya. Ia membuka map yang diberikan Denis dan mulai membaca berkas-berkas tentang PT. Dirgantara Group. Ia mencoba fokus pada pekerjaannya, tetapi pikirannya terus melayang. "Denis, tolong batalkan semua jadwal saya setelah pertemuan dengan PT. Dirgantara Group. Saya ingin pulang lebih cepat hari ini." Ucap Ricky tiba-tiba, memecah keheningan. Denis terkejut mendengar permintaan Ricky. "Baik, Pak Ricky. Tapi, apakah ada sesuatu yang bisa saya bantu?" Tawar Denis dengan nada khawatir. Ricky menggelengkan kepalanya. "Tidak ada, Denis. Terima kasih. Saya hanya ingin istirahat dan menghabiskan waktu bersama anak-anak saya." Jawab Ricky dengan nada lelah. Denis mengangguk mengerti. Ia tahu bahwa Ricky sedang mengalami masa-masa sulit. "Baiklah, Pak Ricky. Saya akan segera membatalkan semua jadwal Bapak." Waktu berlalu dengan cepat, dan jam menunjukkan pukul dua siang. Ricky dan Denis segera menuju ruang rapat untuk bertemu dengan perwakilan dari PT. Dirgantara Group. Pertemuan berjalan dengan lancar, dan kedua belah pihak mencapai kesepakatan yang menguntungkan. Setelah pertemuan selesai, Ricky merasa lega. Ia segera kembali ke ruangannya dan membereskan barang-barangnya. Ia sudah tidak sabar ingin pulang dan bertemu dengan Ken dan Luna. Ketika Ricky sampai di mansion, ia melihat Ranty sedang duduk di ruang tamu sambil menonton televisi. Wanita itu tampak santai dan nyaman, seolah-olah dia sudah menjadi bagian dari keluarga itu. Ricky menghela napas dalam hati, merasa tidak nyaman dengan pemandangan itu. Dia tahu bahwa dia harus segera berbicara dengan Ranty dan menetapkan batasan-batasan yang jelas. Dia tidak ingin Ranty terlalu ikut campur dalam hidupnya, dan dia tidak ingin wanita itu berpikir bahwa dia bisa menggantikan Nayla di hatinya. Ricky menatap Ranty dengan dingin. "Ranty, kenapa kamu masih di sini?" Ucapnya dengan nada dingin. Ranty, yang duduk di sofa, terkejut karena Ricky pulang lebih awal. Ia tidak menyangka Ricky akan pulang secepat ini. Biasanya, Ricky akan lembur di kantor hingga larut malam. "Pak Ricky? Bapak sudah pulang?" Tanya Ranty dengan nada terkejut. Ia berusaha menyembunyikan kegugupannya di balik senyuman manis. "Ya, saya sudah pulang. Dan saya ingin kita bicara sekarang." Jawab Ricky dengan tegas. Ia berjalan mendekat ke arah Ranty dan duduk di sofa yang berlawanan. Ranty menelan ludah. Ia merasa ada sesuatu yang tidak beres. "Bicara tentang apa, Pak Ricky?" Tanyanya dengan nada hati-hati. "Tentang tes DNA." Jawab Ricky singkat. Ia menatap Ranty dengan tatapan yang tajam dan penuh curiga. Ranty terkejut mendengar ucapan Ricky. Ia mencoba untuk tetap tenang, meskipun jantungnya berdegup kencang. "Tes DNA? Kenapa Pak Ricky tiba-tiba ingin melakukan tes DNA?" Tanyanya dengan nada gugup. "Saya hanya ingin memastikan semuanya, Ranty. Saya ingin tahu apakah anak yang kamu kandung itu benar-benar anak saya." Jawab Ricky dengan tegas. Ia tidak ingin lagi dibodohi oleh Ranty. Ia ingin tahu kebenaran yang sebenarnya. Ranty terdiam sejenak. Ia berusaha mencari alasan untuk menolak permintaan Ricky, tetapi ia tidak bisa menemukan satu pun alasan yang masuk akal. Ia tahu bahwa jika ia menolak, Ricky akan semakin curiga padanya. "Baiklah, Pak Ricky. saya setuju untuk melakukan tes DNA." Jawab Ranty akhirnya. Ia pasrah dengan keadaan yang ada. Ia tahu bahwa ini adalah satu-satunya cara untuk meyakinkan Ricky bahwa ia tidak berbohong. Ricky mengangguk. "Bagus. Saya akan mengatur jadwal tes DNA secepatnya. Dan setelah hasilnya keluar, kita akan bicarakan lagi." Ucapnya dengan nada dingin. Ricky berdiri dari sofa dan berjalan menuju kamar bayi. Ia ingin melupakan sejenak masalah yang sedang dihadapinya. Langkah kakinya terasa berat saat menaiki tangga menuju lantai atas. Ia ingin segera melihat Ken dan Luna, mencium pipi mereka, dan merasakan kedamaian sejenak. Namun, sebelum mencapai kamar bayi, matanya menangkap sosok Mawar yang sedang berjalan keluar dari sana. Jantung Ricky berdegup kencang. Ia terdiam, terpaku di tempatnya. Mawar terlihat cantik dengan pakaiannya yang sederhana, aura keibuan terpancar jelas dari wajahnya. Rambutnya yang panjang tergerai indah, dan senyumnya yang lembut mampu menenangkan hati siapa pun yang melihatnya. "Tuan Ricky sudah pulang?" Sapa Mawar dengan nada lembut. Ia tersenyum, namun Ricky dapat melihat sedikit keraguan di matanya. Ricky mengangguk pelan. "Iya, Mawar. Maaf, saya jadi telat pulang." Ucapnya dengan suara yang sedikit bergetar. Ia merasa bersalah karena tidak bisa memberikan kabar kepada Mawar. "Tidak apa-apa, Tuan. Saya mengerti, Tuan Ricky pasti sibuk." Jawab Mawar dengan tulus. "Ken dan Luna sudah tidur. Tadi sempat rewel, tapi sekarang sudah tenang." Tambahnya. Ricky merasa lega mendengar kabar itu. Ia ingin segera melihat kedua anaknya, memastikan mereka baik-baik saja. "Saya melihat mereka sebentar." Ucapnya pelan. Mawar tersenyum dan mengangguk. "Baiklah, Tuan. Saya ingin ke dapur dulu menyiapkan s**u untuk anak-anak." Ucapnya lalu berjalan menuruni tangga. Ricky menatap punggung Mawar yang semakin menjauh, matanya tidak bisa lepas dari sosoknya. Ia mengagumi ketulusan dan kesabaran Mawar dalam merawat Ken dan Luna. Ia merasa beruntung memiliki Mawar di rumah ini. Sesampainya di kamar bayi, Ricky langsung menghampiri kedua anaknya yang sedang tertidur pulas di dalam box bayi masing-masing. Ia menatap wajah mereka dengan penuh kasih sayang. Ken dan Luna terlihat sangat damai dan tenang. Setelah Ranty melihat kepergian Ricky, tatapannya menjadi kosong. Ia merasa sangat khawatir dan takut. Ia tahu bahwa jika hasil tes DNA menunjukkan bahwa anak yang dikandungnya bukanlah anak Ricky, maka semua rencananya akan gagal total. Ia harus segera mencari cara untuk mengatasi masalah ini. Ranty beranjak dari sofa dan berjalan menuju kamarnya. Ia menutup pintu kamarnya dengan pelan dan mengunci pintu tersebut. Ia kemudian berjalan menuju meja rias dan mengambil ponselnya. Ia mencari nomor Rendy dan segera menghubunginya. Ia ingin meminta bantuan Rendy untuk mengatasi masalah ini. Ia tahu bahwa Rendy adalah satu-satunya orang yang bisa membantunya saat ini. "Halo sayang, ini aku." Sapa Ranty dengan suara yang menunjukkan kecemasan. "Ya, sayang, ada apa kamu menghubungiku?" Tanyanya "Gawat sayang, Ricky mau melakukan tes DNA!" Ucap Ranty setengah berbisik pada Rendy di telepon. "Kamu tenang saja sayang, kamu kan tahu aku ini seorang dokter. Aku bisa mengaturnya. Kamu tidak perlu khawatirkan hal ini." Rendy meyakinkan Ranty di balik telepon. Ranty menghela napas lega mendengar ucapan Rendy. Setidaknya, ada secercah harapan untuk menyelamatkan rencananya. "Aku sangat cemas, sayang. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan jika Ricky tahu yang sebenarnya." Ucap Ranty dengan nada panik. "Dengarkan aku baik-baik, sayang. Kamu ikuti saja semua yang aku katakan nanti. Aku akan pastikan hasil tes DNA akan sesuai dengan apa yang kita inginkan." Balas Rendy dengan nada meyakinkan. "Ngomong-ngomong kapan kamu akan pulang? Aku sudah kangen banget sama kamu, sayang." Tanya Rendy. "Aku akan pulang sekarang juga. Sampai ketemu lagi, sayang." Ucap Ranty masih setengah berbisik, lalu mengakhiri panggilan tersebut. Ranty khawatir, jika ada seseorang yang mendengar pembicaraannya dengan Rendy. Jadi dia harus lebih berhati-hati.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN