Bab 18 - Sangat tergila-gila

1040 Kata
Namun yang tidak diketahui oleh Ranty, semua pembicaraannya memang telah di dengar oleh seseorang yang berdiri di balik pintu kamarnya. Dia melihat gelagat mencurigakan dari Ranty dan mengikutinya. Setelah mendapatkan instruksi dari Rendy, Ranty merasa sedikit lebih baik. Ranty segera mematikan telepon, mencoba mengatur napasnya. Dia harus tetap tenang dan bersikap seperti biasa di depan Ricky. Jika tidak, Ricky akan semakin curiga padanya. Jantungnya masih berdebar kencang, namun kata-kata Rendy sedikit meredakan kepanikannya. Ia harus mengikuti rencana Rendy, tidak boleh ada kesalahan sedikit pun. Ranty sudah selesai berbicara dengan Rendy di telepon, kemudian dia pun keluar dari dalam kamar. Ranty ingin menemui Ricky di ruang kerjanya yang berada di lantai dua. Ranty akhirnya mengetuk pintu ruang kerja Ricky, ia ingin berpamitan padanya. Ia beralasan pada Ricky bahwa ia ada urusan mendadak dan harus segera pergi. Ricky hanya mengangguk dan mengizinkannya pergi. Ranty sangat cemas, jadi dia hanya ingin segera kembali ke rumah kontrakan Rendy untuk membahas masalah ini kembali. Ricky hanya berkata akan menghubungi Ranty kembali bulan depan untuk melakukan tes DNA. Ranty bergegas meninggalkan mansion Ricky. Ranty memesan taksi online dan menuju ke kontrakan Rendy. Di dalam taksi, Ranty meremas ponselnya erat-erat. Jantungnya berdebar kencang. Dia mencoba mengatur napas, mengikuti instruksi Rendy untuk tetap tenang. Namun, bayangan wajah Ricky yang dingin dan penuh curiga terus menghantuinya. Ranty tahu, jika rencananya gagal, dia akan kehilangan segalanya. Setelah beberapa saat mengamati kedua anaknya, Ricky memutuskan untuk kembali ke ruang kerjanya. Ricky duduk di ruang kerjanya, menatap kosong ke luar jendela. Pikirannya berkecamuk. Dia tidak bisa mempercayai Ranty sepenuhnya, tapi dia juga tidak ingin gegabah dalam bertindak. Dia harus memastikan segalanya dengan jelas sebelum mengambil keputusan. Ricky menggenggam erat foto Nayla yang ada di atas mejanya. "Aku akan melakukan yang terbaik untuk anak-anak kita, Nayla." Bisiknya lirih. Malam semakin larut, Ricky masih terjaga di ruang kerjanya. Dia tidak bisa tidur. Bayangan Ranty terus berputar-putar di benaknya. Dia mencoba mencari tahu kebenaran tentang Ranty, tapi tidak tahu harus mulai dari mana. Ricky meraih ponselnya, lalu segera menghubungi Denis. "Denis, cari tahu semua informasi tentang Ranty. Aku ingin tahu soal asal usulnya, darimana asalnya, dan siapa dia sebenarnya." Perintah Ricky dengan nada tegas. Firasatnya mengatakan ada sesuatu yang mungkin disembunyikan oleh Ranty darinya. "Baik Pak Ricky, akan saya laksanakan." Ucap Denis dari seberang telpon. *** Ranty telah tiba di kontrakan milik Rendy. Ranty segera mengetuk pintu. Tak lama kemudian pintu segera terbuka, dan Rendy menyambutnya dengan senyum hangat. Ranty langsung menghambur ke pelukan Rendy. "Aku takut, sayang. Aku benar-benar takut." Ucap Ranty sambil terisak. Rendy memeluk Ranty dengan erat dan menenangkannya. "Tenang, sayang. Aku sudah bilang, aku akan atur semuanya. Kamu percaya padaku, kan?" Ranty mendongak dan menatap Rendy dengan mata yang berkaca-kaca. "Aku percaya padamu, sayang. Tapi bagaimana jika Ricky tetap curiga?" "Jangan khawatir. Aku akan membuat hasil tes DNA itu meyakinkan. Ricky tidak akan curiga sedikit pun." Jawab Rendy dengan nada penuh keyakinan. "Bagaimana sayang, apakah Ricky bodoh itu bilang kapan dia akan melakukan tes DNA itu?" Tanya Rendy penasaran ketika Ranty telah duduk menyandar di sofa. "Ricky bilang, dia akan segera menghubungiku lagi bulan depan, untuk melakukan tes DNA." Jawab Ranty dengan wajah masih terlihat cemas. Rendy mengangguk. "Bagus. Itu memberi kita waktu untuk mempersiapkan segalanya. Kamu tidak perlu khawatir, sayang. Aku akan mengurus semuanya dengan baik." Ucap Rendy pasti, dengan tatapan penuh keyakinan Ranty memeluk Rendy erat-erat. "Aku sangat takut, sayang. Aku tidak ingin kehilangan Ricky. Jika aku kehilangan Ricky, maka kesempatan emas kita untuk merebut hartanya pun akan sirna begitu saja." Ucap Ranty, dia masih merasakan kecemasan. Rendy membalas pelukan Ranty. "Kamu tidak akan kehilangan kesempatan emas itu, sayang. Aku janji, semuanya akan baik-baik saja. Kamu hanya perlu mempercayai aku saja." Rendy menangkup wajah Ranty, menatapnya dengan tatapan penuh keyakinan. Mereka berdua saling bertatapan, lalu Rendy mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Ranty dengan lembut. Ciuman itu semakin lama semakin dalam dan penuh gairah. Ranty membalas ciuman Rendy dengan penuh nafsu, melupakan sejenak ketakutannya. Sentuhan Rendy selalu berhasil menenangkan dirinya, memberikan rasa aman padanya. Ciuman itu membawa mereka berdua ke tempat tidur. Rendy dan Ranty saling melepaskan pakaian masing-masing dengan tergesa-gesa. Mereka berdua sudah tidak sabar untuk menyatukan tubuh mereka. Di benak Ranty, bayangan Ricky seolah menghilang, tergantikan oleh hasrat yang membara. Di atas ranjang yang sempit itu, Rendy dan Ranty saling memuaskan hasrat mereka. Mereka berdua lupa akan masalah yang sedang mereka hadapi. Yang ada di pikiran mereka hanyalah kenikmatan sesaat. Desahan dan erangan memenuhi ruangan kontrakan Rendy yang sederhana. Setelah puas bercinta, Rendy dan Ranty berbaring berdampingan di atas tempat tidur. Keduanya terdiam, mengatur napas masing-masing, merasakan kenikmatan. "Terima kasih, sayang." Ucap Ranty sambil memeluk Rendy dengan erat. Ia menggantungkan seluruh harapannya pada Rendy, berharap pria itu benar-benar bisa membantunya. "Sama-sama, sayang. Aku akan selalu ada untukmu, jadi kamu tidak erlu khawatir." Balas Rendy sambil mencium kening Ranty. Ranty tersenyum mendengar ucapan Rendy. Ia merasa beruntung memiliki Rendy di sisinya, meskipun dia hanya memanfaatkan Rendy untuk mencapai ambisinya. Rendy adalah satu-satunya pria yang bisa ia andalkan. "Apa yang akan kamu lakukan, Rendy? Aku benar-benar takut Ricky tahu yang sebenarnya." Tanya Ranty, dengan nada khawatir. "Tenang saja, sayang. Aku sudah punya rencana. Aku akan pastikan hasil tes DNA itu sesuai dengan keinginan kita. Kamu hanya perlu percaya padaku saja." Jawab Rendy, dengan senyum licik. Ia sudah memikirkan berbagai cara untuk memanipulasi hasil tes, termasuk menyuap petugas laboratorium atau bahkan mengganti sampel DNA. "Aku harap kamu berhasil, Rendy. Jika tidak, semua rencana kita akan hancur." Ucap Ranty, dengan nada penuh harap. Ia tidak ingin kehilangan Ricky dan semua kemewahan yang akan ia nikmati nanti. "Aku pasti berhasil, sayang. Demi kamu, aku akan melakukan apa saja." Jawab Rendy, sambil memeluk Ranty dengan erat. Rendy sangat mencintai Ranty, meskipun ia tahu wanita itu hanya memanfaatkannya untuk mendapatkan kekayaan pria lain. Namun, ia tidak peduli. Ia rela melakukan apa saja untuk membuat Ranty bahagia. Keesokan paginya, Ranty masih terlelap di pelukan Rendy setelah keduanya mengalami pergulatan yang panjang semalaman. Rendy menatap wajah Ranty dengan penuh kasih sayang. Rendy mencium kening Ranty dengan lembut, kemudian menurun ke hidungnya yang mancung, dan terakhir dia mengecup bibirnya yang mungil. Rendy sangat tergila-gila dengan Ranty. Dia bahkan rela melakukan apapun untuk kekasih hatinya tersebut. Walaupun dengan taruhan nyawa, Rendy bersedia melakukan demi wanita yang dia cintai itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN