Mereka terdiam dengan jantung saling bersahutan. Tatapan Gevan semakin intens. Membuat Alina hanya mampu terdiam kaku. Sampai wanita manis ini tak sadar, jika tubuhnya sudah terdorong ke belakang saat Gevan mendorong pintu kamar wanita manis ini perlahan, sampai pria ini mampu menyusup ke dalam kamar Alina. Setelah tubuhnya sepenuhnya masuk, Gevan menutup pintu kamar sang calon istri. Mereka harus bicara berdua. Hanya berdua. Tanpa gangguan siapapun. Dia harus meluruskan kesalahpahaman ini. Segera! Gevan menarik pinggang Alina dengan kedua tangan kekarnya, yang membuat Alina memekik seperti anak tikus. "Pak!" "Dengar, Cherry... Aku bukan gay. Aku pria normal seperti pria-pria kebanyakan. Aku mencintai wanita, dan itu kamu," bisik Gevan parau dengan ekspresi datarnya, tepat di depa

