Hari pertama masuk kerja setelah libur panjang nasional membuat suasana kantor jauh lebih santai dari biasanya.
Banyak karyawan memilih mengambil cuti tambahan untuk menikmati waktu istirahat mereka.
Namun masih ada orang-orang yang tetap bekerja tanpa kenal lelah.
Salah satunya adalah Laras.
Pagi itu, Laras meminta Rendra menurunkannya beberapa ratus meter dari gedung Nusantara Fashion.
Bagaimanapun juga, itu adalah mobil milik direktur utama.
Jika sampai ada rekan kerja yang melihatnya turun dari sana, akan sulit baginya untuk menjelaskan.
Begitu turun dari mobil, Laras langsung masuk ke sebuah apotek.
Tak lama kemudian, ia keluar sambil membawa pil kontrasepsi darurat.
Meskipun tidak tahu apakah Arya sempat melakukan tindakan pencegahan atau tidak, ia tetap meminumnya untuk berjaga-jaga.
Saat itu juga ponselnya berdering.
Nama yang muncul di layar membuat sudut bibirnya terangkat sinis.
Kevin.
Pacarnya saat ini.
Laras menatap nama itu sejenak.
Rasa muak perlahan memenuhi dadanya.
Ia dan Kevin telah berpacaran selama lima tahun sejak masa kuliah.
Laras adalah mahasiswi berprestasi yang beberapa kali melompati jenjang pendidikan. Saat mereka bertemu, Kevin tiga tahun lebih tua darinya.
Dua tahun lalu, Laras mengikuti ibunya pindah ke luar negeri untuk belajar dan menjalani kehidupan baru.
Sejak saat itu hubungan mereka berubah menjadi hubungan jarak jauh.
Namun Kevin tidak mampu menahan kesepian.
Diam-diam, pria itu menjalin hubungan dengan sahabat Laras yang berada di Indonesia.
Laras sudah lama mengetahui semuanya.
Tetapi ia tidak memutuskan hubungan mereka.
Bukan karena ia masih mencintainya.
Ia hanya tidak ingin membuang waktu dan emosi untuk pertengkaran yang tidak berarti.
Ia sudah menyiapkan cara yang lebih tepat untuk mengakhiri semuanya.
Tanpa ragu, Laras langsung memutus panggilan itu.
Saat hendak mematikan layar, sebuah notifikasi permintaan pertemanan muncul dari aplikasi WeChat.
Pengirimnya:
Arya.
Laras terdiam.
Beberapa detik ia hanya menatap layar ponselnya.
Ia bahkan mengira dirinya salah lihat.
Permintaan pertemanan itu dikirim atas dasar apa?
Sebagai atasan?
Atau...
Sebagai teman tidur?
Laras mengatupkan gigi.
Lalu tanpa ragu menekan tombol tolak.
**
Ia baru bekerja di Nusantara Fashion selama satu tahun sebagai desainer.
Selain direktur departemen, ia hampir tidak pernah berinteraksi dengan para petinggi perusahaan.
Nusantara Fashion adalah perusahaan mode terbesar di Jakarta.
Produk-produknya bahkan dipasarkan hingga ke luar negeri.
Sosok petinggi seperti Arya biasanya hanya bisa dilihat dari kejauhan.
Dan malam sebelumnya hanyalah pengecualian.
Karena peragaan busana Hari Nasional tahun ini berhasil memecahkan rekor sebelumnya, Arya hadir secara langsung.
**
Sebuah pesan grup departemen desain muncul di layar.
[Rapat di ruang konferensi dalam sepuluh menit.]
"Astaga..."
Laras langsung mempercepat langkah menuju kantor.
***
(Di dalam Gedung Nusantara Fashion).
Begitu memasuki lift, Laras bertemu dengan Yelina.
"Lar, bukannya kamu paling tidak suka memakai pakaian formal?" tanya Yelina sambil memandangnya dari atas sampai bawah.
"Kenapa hari ini malah pakai jas?"
Memang benar.
Laras tidak menyukai setelan jas.
Ia berusaha terlihat tenang sambil merapikan pakaiannya.
"Untuk menunjukkan profesionalisme."
"Haha..."
Yelina melirik bagian depan tubuh Laras.
Lalu menepuk bokongnya cukup keras.
"Pria mana pun yang menikahimu pasti beruntung sekali!"
Laras langsung menggertakkan gigi.
Sakit sekali.
Tepat ketika pintu lift hampir tertutup, sebuah tangan muncul dan menahannya.
Pintu kembali terbuka.
Rendra berdiri di luar.
Kemudian Arya masuk ke dalam lift.
Pria itu mengenakan setelan jas berwarna gelap yang rapi dan elegan.
Laras dan Yelina otomatis menyingkir memberi ruang.
Laras menelan ludah.
Saat ini Arya berdiri tepat di sampingnya.
Sementara Yelina berada di depan mereka.
Ia tidak berani menoleh.
Entah karena ruang lift yang terlalu sempit atau karena kehadiran Arya yang terlalu kuat, Laras merasa kesulitan bernapas.
Rasa panas perlahan menjalar dari telinganya ke pipi.
Mereka berdiri sangat dekat.
Namun terlalu canggung jika ia tiba-tiba menjauh.
Samar-samar, Laras mencium aroma sandalwood yang familiar.
Aroma yang sama seperti semalam.
Aroma yang sulit diabaikan.
Ia menggigit bibir bawahnya pelan.
Berusaha menenangkan diri.
Berusaha melupakan kejadian semalam.
Namun semakin berusaha melupakan, justru semakin jelas ingatan itu muncul dalam benaknya.
Untungnya lift segera berhenti di lantai dua puluh delapan.
Begitu pintu terbuka, Laras dan Yelina langsung keluar.
"Astaga, aku takut sekali tadi!"
Yelina menepuk dadanya.
"Setelah pesta semalam, aku melihat ada seorang wanita di mobil Pak Arya."
Langkah Laras nyaris terhenti.
"Ya Tuhan, kamu tidak akan percaya. Wanita itu memeluk leher Pak Arya dan terus menciumnya. Pak Arya bahkan tidak menolak!"
"..."
Wajah Laras langsung memanas.
Biasanya ia sangat suka bergosip.
Namun ketika dirinya sendiri menjadi bahan gosip, ia tidak tahu harus berkata apa.
"Benarkah?" katanya pelan.
"Aku bahkan sempat menghubungi Rendra untuk bertanya, tapi mulutnya rapat sekali."
Yelina mendengus kesal sambil merapikan buku catatannya.
***
Sepuluh menit kemudian, seluruh karyawan berkumpul di ruang rapat.
Karena banyak yang masih cuti, jumlah peserta tidak terlalu banyak.
Rapat pagi itu digunakan untuk mengevaluasi acara yang baru saja selesai.
Direktur Nanda membuka rapat dengan penuh percaya diri.
Dari nada bicaranya, terlihat jelas bahwa ia sangat puas dengan hasil acara tersebut.
Banyak orang bahkan mengatakan bonus tahunannya pasti menjadi yang tertinggi.
Entah kenapa, Laras merasa pujian yang keluar dari mulut Nanda tidak sepenuhnya tulus.
Rapat yang seharusnya menjadi evaluasi terasa lebih seperti ajang menerima pujian.
Tak lama kemudian, Nanda memandang ke arah Laras.
"Orang yang paling layak kita ucapkan terima kasih adalah Bu Laras. Desain yang paling banyak digunakan tahun ini berasal darinya, dan produk dengan penjualan tertinggi juga merupakan hasil karyanya."
Laras hanya tersenyum tipis.
Pujian seperti itu sudah ia dengar sejak malam sebelumnya.
Ia tidak ingin mendengarnya lagi.
Kemampuan Nanda memang tidak bisa diragukan.
Dengan kepribadiannya yang ramah dan sedikit liar, ia mudah bergaul dengan siapa saja.
Banyak orang menyukainya.
Namun Laras tidak.
Karena ia selalu merasa Nanda memiliki ketertarikan khusus terhadap dirinya.
Seolah pria itu berharap Laras akan jatuh hati pada pesonanya.
**
Tidak lama kemudian, rapat berakhir.
Saat semua orang hendak keluar, pintu ruang rapat diketuk.
Rendra masuk.
"Bu Laras, Pak Arya meminta Anda datang ke kantor direktur utama."
Ruangan langsung hening.
Laras yang hampir tertidur di kursinya bisa merasakan puluhan pasang mata menatap ke arahnya.
Kantor direktur utama berada di lantai tiga puluh.
Hampir tidak ada orang yang pernah masuk ke sana.
Rapat perusahaan biasanya dilakukan di lantai dua puluh sembilan. Sedangkan lantai tiga puluh selalu menjadi tempat yang misterius.
Bahkan ada yang menjulukinya sebagai...
Neraka.
Konon, direktur sebelumnya pernah keluar dari sana dengan bahu terkilir.
Sementara mantan asisten Arya keluar dengan kaki patah dan harus ditandu.
Karena itulah posisi tersebut akhirnya jatuh ke tangan Rendra.
"Rendra, apa kamu tahu ada masalah apa?" tanya Nanda.
Semua orang ikut memandang ke arahnya.
Meski mereka tahu kemungkinan besar tidak akan mendapatkan jawaban.
"Aku tidak tahu."
Seperti biasa, mulut Rendra rapat sekali.
"Baiklah."
Wajah Laras terasa panas sejak pagi dan tidak kunjung membaik.
Pikirannya kembali dipenuhi bayangan Arya semalam.
"Bu Laras, wajahmu merah terus sejak pagi. Apa kamu ingin beristirahat?" tanya Nanda.
Sebagai atasan, ia memang selalu memperhatikan bawahannya, sehingga tidak ada yang menganggap pertanyaan itu aneh.
"Tidak perlu. Aku akan segera kembali."
Laras berdiri sambil membawa catatan rapatnya.
Lalu menghela napas.
"Kalau aku tidak kembali, anggap saja semua sketsa di mejaku sebagai hadiah perpisahan untuk kalian."
Setelah berkata demikian, ia berjalan keluar mengikuti Rendra.
***
Laras mengikuti Rendra menuju lift.
Lift menuju lantai tiga puluh memerlukan pemindai wajah atau kartu akses khusus.
Karena itulah hampir tidak ada orang yang bisa naik ke sana.
Rendra memindai wajahnya.
Lift perlahan bergerak naik.
"Sekarang tidak ada orang lain. Bisa beri tahu aku kenapa beliau memanggilku?" tanya Laras.
"Aku juga tidak tahu pasti."
Rendra tersenyum tipis.
"Tapi sepertinya suasana hati beliau sedang cukup baik."
Laras mendengus pelan.
Tentu saja suasana hati Arya sedang baik.
Siapa yang tahu berapa kali pria itu merasa "senang" semalam.