Part 1: Dia.. Bosku?!
Saat membuka mata, Laras mendapati dirinya terbaring di atas ranjang yang asing.
Dengan kepala yang masih terasa berat, ia memandang sekeliling ruangan yang tidak dikenalnya.
Malam sebelumnya adalah acara makan malam departemen. Tanpa sengaja, ia minum beberapa gelas lebih banyak dari biasanya.
Lalu...
Pikirannya yang semula kacau mendadak menjadi jernih.
Suara erangan berat seorang pria kembali terngiang di telinganya.
Laras langsung tersentak sadar.
Ia harus segera meninggalkan tempat ini.
Pandangannya jatuh pada kemeja putih yang robek di lantai. Mustahil ia mengenakannya untuk keluar.
Dengan tangan sedikit gemetar, ia menyingkirkan pakaian itu.
Di samping ranjang terdapat satu set pakaian bersih yang tampaknya sengaja ditinggalkan seseorang.
Sebuah setelan jas.
Tanpa berpikir panjang, Laras segera mengenakannya.
Modelnya bukan gaya berpakaian yang biasa ia gunakan. Kemungkinan besar pakaian itu dibeli seadanya untuk keadaan darurat.
Ia memperhatikan lehernya di cermin.
Bersih.
Namun bagian bawah tulang selangkanya...
Benar-benar berantakan.
Laras tertawa hambar.
Setidaknya pria itu cukup tahu diri untuk tidak meninggalkan bekas di tempat yang mudah terlihat orang.
Ia menghela napas pelan, lalu keluar dari kamar mandi dan mengamati sekeliling.
Ini adalah sebuah suite yang luas.
Tidak tampak seperti hotel, tetapi juga tidak terlihat seperti rumah yang benar-benar dihuni.
***
Setelah mengambil tas di samping ranjang, Laras berjalan keluar.
Dan benar saja.
Tempat ini bukan hotel.
Begitu pintu terbuka, sebuah ruang tamu besar langsung terlihat di hadapannya.
Seorang pria yang dikenalnya sedang duduk di sofa.
Pria itu mengenakan headphone, dengan sebuah bantal di pangkuannya dan laptop di atas bantal tersebut.
Ia memakai pakaian kasual berwarna hitam dan tampak begitu malas sekaligus santai.
**
Mendengar suara pintu terbuka, pria itu mengangkat pandangan.
Tatapan matanya dalam dan tenang.
Laras tertegun.
Karena pria itu ternyata adalah atasannya sendiri.
Arya.
Bukankah semua orang mengenalnya sebagai pria yang dingin dan sangat menjaga diri dari urusan percintaan?
Namun jika mengingat keadaannya semalam...
Pria itu sama sekali tidak terlihat seperti orang yang mampu menjaga diri.
Lebih mirip serigala kelaparan yang sudah menahan diri selama puluhan tahun.
**
Saat Laras masih terdiam, Arya berbicara lebih dulu.
"Aku sedang rapat."
Suaranya rendah dan datar.
Laras langsung mengerti maksudnya dan tidak berani mengeluarkan suara.
"Ke sini. Sarapan dulu."
Arya sedikit membungkuk, lalu mendorong segelas air madu ke arahnya.
Namun ia tidak menyadari bahwa gerakan itu membuat bekas merah di lehernya terlihat jelas oleh para eksekutif yang sedang mengikuti rapat daring.
Wajah Laras langsung memanas.
Bekas itu kemungkinan besar ulahnya.
Ia benar-benar tidak menyangka dirinya bisa meninggalkan jejak sedemikian jelas.
Andai saja ini benar-benar hotel.
Maka begitu keluar dari kamar, ia bisa langsung pulang dan melupakan semuanya.
**
Dengan langkah kaku, Laras duduk di meja makan.
Ia menghindari tatapan Arya dan meneguk air madu di depannya sebelum mulai memakan sandwich yang tersedia.
Arya terkenal dingin.
Kepribadiannya dingin.
Sifatnya dingin.
Bahkan seluruh auranya terasa dingin.
Karena itu Laras tidak pernah membayangkan dirinya akan terlibat dalam situasi seperti ini dengannya.
Mungkin semalam ia benar-benar salah naik mobil.
Tetapi...
Kalau ia salah naik mobil, bukan berarti Arya juga salah mengenali orang, bukan?
Tidur dengan karyawan sendiri.
Apa pria itu tidak memikirkan reputasinya?
**
Lima belas menit kemudian, rapat selesai.
Arya menutup laptopnya dan baru mulai menikmati sarapan.
"Maaf."
Ia berbicara tanpa ekspresi sedikit pun.
"Aku tidak tahu itu pertama kalimu. Semalam aku agak terlalu kasar."
"Huk—"
Laras yang baru saja berhasil menenangkan diri hampir tersedak.
Apa dia benar-benar harus membahas kejadian semalam?
"Dokter keluarga akan segera datang. Tunggu sebentar sebelum pulang."
Laras menggenggam gelas susunya.
Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Arya makan dengan cepat.
Tak lama kemudian, sarapannya habis.
"Tunggu di sini. Aku masih harus ke kantor hari ini. Nanti Rendra akan mengantarmu pulang."
Laras segera menggeleng.
"Pak Arya, saya bisa pulang sendiri. Tidak perlu merepotkan."
Arya mengangkat pandangan.
"Apakah kamu sedang mengeluhkan performaku semalam?"
"Hah?"
Jantung Laras langsung berdegup kencang.
Bagaimana mungkin ia berani mengeluh?
Ia sampai tidak tahu harus membantah dari mana.
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar kehabisan kata-kata.
Tepat saat itu, seorang wanita paruh baya muncul di dekat mereka.
"Pak Arya, Dokter Nani sudah datang."
Arya tidak menjawab.
Ia hanya memandang Laras dalam diam.
Laras memiliki kulit putih dan rambut pirang alami yang indah. Sebagai wanita blasteran, wajahnya memang sangat menonjol.
Postur tubuhnya pun proporsional dan menarik perhatian.
Tatapan Arya membuat wajahnya semakin panas.
"Ayo ikut."
Baru setelah itu Arya berdiri.
Laras menurut dan mengikutinya.
***
Sesampainya kembali di kamar tempat semua kekacauan semalam terjadi, ia kembali merasa gugup.
Telapak tangannya berkeringat saat melihat ranjang itu.
Namun seluruh jejak kejadian semalam sudah dibersihkan oleh pelayan hingga tidak tersisa sedikit pun.
Tak lama kemudian, seorang dokter wanita masuk.
Arya keluar dan menutup pintu.
Awalnya Laras mengira ia akan diberi pil atau suntikan pencegah kehamilan.
Namun ternyata bukan.
Dokter itu justru memeriksa dan mengoleskan obat pada bagian tubuh yang terluka.
Laras merasa sangat malu.
Ia menutupi wajahnya sepanjang pemeriksaan berlangsung.
Untungnya, salep yang diberikan memang cukup membantu.
***
Ketika keluar dari kamar, Arya sudah pergi.
Yang menunggunya hanyalah Rendra.
Rendra seumuran dengannya.
Mereka berasal dari universitas yang sama, mengikuti wawancara kerja di waktu yang hampir bersamaan, dan masuk perusahaan pada tahun yang sama.
Bedanya, posisi mereka saat ini.
Rendra adalah satu-satunya asisten yang selalu berada di sisi Arya.
**
Begitu masuk ke mobil, Laras langsung memandang keluar jendela.
Lalu bertanya pelan,
"Semalam... aku benar-benar salah naik mobil?"
"Benar, calon Nyonya Arya."
Rendra tersenyum sambil menggoda.
Lalu ia mulai bercerita.
"Aku sudah lama kenal kamu, dan ini pertama kalinya aku lihat kamu minum sebanyak itu. Semalam kamu salah masuk mobil. Begitu duduk, kamu langsung memeluk Pak Arya, memanggilnya boneka beruang besar, lalu menciumnya habis-habisan."
Laras langsung menundukkan kepala.
"Pak Arya sebenarnya juga minum sedikit malam itu. Tapi beliau bahkan tidak berani bergerak. Kamu tahu sendiri, beliau orangnya sangat perfeksionis. Kamu bahkan sampai merobek kemejanya dan membuat beberapa kancingnya terlepas."
Laras hanya bisa membayangkan kejadian itu sambil menahan rasa malu.
"Awalnya kami ingin mengantarmu pulang. Tapi karena kamu tinggal sendiri, Pak Arya khawatir terjadi sesuatu padamu, jadi beliau membawamu ke rumahnya."
"Hehe..."
Laras tersenyum kaku.
"Jadi, kamu dan Pak Arya benar-benar..."
Rendra meliriknya melalui kaca spion.
Laras menunjuk lehernya yang bersih.
"Seperti yang bisa kamu lihat."
"Sepertinya Pak Arya cukup gentleman."
"Iya..."
Laras menarik napas panjang.
Benar-benar gentleman.
Atau mungkin...
Munafik kelas berat.