"Aku pergi ya, Mas.” Alexander mengangguk. Jennifer kembali dengan tampilan cantiknya dengan pakaian formal. Berlagak menjadi atasan menduduki kursi Alexander di perusahaan Atmadja. “Itu makan sama teh kamu, Mas.” Alexander duduk bersandar di sisi kasur. Sarapan sudah terhidang di atas meja rias. Tak lupa sebelumnya, Jennifer mencampurkan obat pada tehnya lagi. “Nanti kalau ada berkas penting, aku tanya kamu untuk minta persetujuan, ya!” ujar Jennifer sambil memoles lipstiknya. Dikecupnya bibir sang suami, lalu berlalu pergi meninggalkan kamar. Pria itu tak menaruh curiga apa pun karena selama pernikahan, Jennifer bersikap sebagai istri sempurna meskipun kejatuhan pangkat yang dialami. Saat bergabung di ruang makan, mereka heran melihat Jennifer berdandan serapi ini. “Mulai hari ini

