“Beneran nggak bisa dihubungi, ya?” Samantha menggeleng. Tugas kantor yang tak bisa ditinggal memaksa dia dan Han membawa si kecil ikut bertugas di perusahaan. Ditekannya lagi nomor ponsel Rose, tak ada jawaban. “Nanti aja, lah, itu! Ini gue udah siapin resume-nya! Coba periksa dulu berkas ini.” Han meninggalkan meja, lalu bertukar posisi menggendong Morgan dari Samantha yang sedari tadi rewel, tak henti dia menangis. Samantha memeriksa berkas, terlihat tak konsen karena raungan si kecil yang luar biasa. “Apa dia haus, Sam? Mungkin mau netek,” kata Han sambil meletakkan jarinya di bibir Morgan. “Lo t***k-in.” Han mendelik, Samantha bicara asal tanpa menolehkan pandangan dari berkas. “Eh, maksud gue, bikinin s**u. Itu ada di dalam tasnya. Pake dotnya, ada aturan pakainya di kaleng.”

