[Pak, Rose sudah siuman.] Kabar itu disampaikan Leo pada Narendra. Lekas ditemuinya Rose di ruang rawat. Binar mata wanita itu terlihat putus asanya. Tangisnya mulai luruh saat dia memegang pipinya. Tangannya gemetar, kecelakaan mengerikan itu juga menyiksa psikisnya. “Dokter, ini-“ Dirabanya semua wajahnya. Penuh luka dan kulit kasar yang menggantikan paras cantik kebuleannya dulu. “Ada apa dengan saya, Dok? Wajah saya-“ Rose meminta suster itu memberikan cermin padanya. Tak ada pilihan, Rose melihat tampilannya yang mengerikan pada pantulan. Luka bakar yang cukup hebat. Setidaknya kedua penglihatannya tak terkena imbas dari luka itu. “Nggak, ini-“ “Bu, tenanglah!” pinta suster tersebut. “Teman-teman saya yang lain, bagaimana keadaan mereka, Sus? Dokter! Bagaimana keadaan Satria

