Akira menangis pilu. Seharian dia tak keluar kamar hingga bulan beranjak di atas langit kelam. Wiryo menatap meja makan yang kosong, tanpa sesiapa pun yang turun untuk mengisi perut mereka. Winda tak kunjung keluar karena kemarahan Wiryo, Akira juga melebur bersama kesedihannya atas pengkhianatan sang tante. “Bagaimana caranya menghadapi mereka?” gusarnya. “Pak!” Ujang mendekati tuan rumah Keluarga Sudrajat itu, lalu memberikan plastic bening berisi tumpukan kartu undangan yang dia temukan di luar. “Ini, Pak! Tadi Den Angga ke sini, tapi ndak tau. Dia Cuma letak ini kartu di luar saja, lalu pulang. Apa terjadi sesuatu?” Wiryo terkejut. Diambilnya kartu itu, lalu mengira-ngira apa yang terjadi. ‘Apa tadi Angga melihat dan mendengar semuanya?’ Lekas Wiryo naik ke lantai dua, menemui

