Akira menangis haru, lalu jemari Angga menyingkirkan helai rambut yang menghalangi pandang calon istrinya ini. Wajah cantik Akira yang selalu membiusnya sejak pertama kali bertemu lagi. “Aku mencintaimu, Ra, entah sejak kapan. Aku takut saat kemarin, kamu mungkin akan mendatangiku untuk memutuskan mengakhiri semuanya. Aku takut dengan kesedihan Mitha, juga takut dengan hatiku yang berubah kelam setelah ini. Aku-“ Akira tersenyum, membungkam bibir Angga dengan telapak tangannya. “Mas Gara janji bisa membahagiakanku?” Angga mengangguk, lalu membantu Akira untuk duduk nyaman. Keduanya duduk berdampingan dengan dentum hebat dan rona canggung. “Kalau begitu, kita tetap akan menikah. Maaf kalau nantinya, sewaktu-waktu hati Mas Gara sakit karena aku. Aku akan belajar mencintai Mas dan melupak

