Seperti dugaan Famela, Mara benar-benar didatangi wartawan. Meski bukan artis yang sangat terkenal, tapi berita pernikahan mendadaknya cukup menyita perhatian.
Mara menjawab setiap pertanyaan wartawan yang kebanyakan menanyakan siapa sosok suaminya. Famela benar-benar telah menyiapkan semuanya, menyiapkan naskah berisi jawaban yang harus Mara berikan tentang siapa suaminya, pekerjaannya, dan banyak lainnya termasuk alasan pernikahan mendadaknya.
“Hah … akhirnya ….” Mara mendesah berat saat baru saja masuk mobil dan menyandarkan punggung pada jok. Ia berhasil menjawab pertanyaan-pertanyaan wartawan dan berharap setelah ini ia tak perlu klarifikasi lagi.
“Mel, aku butuh air,” ucap Mara pada Famela yang juga baru duduk.
Famela mengambil air mineral dingin dari box dan memberikannya pada Mara.
“Lihat, dugaanku benar. Untung kau menghafal script yang sudah aku berikan semalam,” ucap Famela.
Mara meminum air mineral di tangan seperti sangat kehausan sampai-sampai isinya tinggal separuh saat ia memberikan botol itu pada Famela.
“Mel, aku lapar,” ucap Mara nyaris merengek.
Famela menghela napas lalu mengambil roti isi yang sudah ia siapkan. Tak seperti wanita hamil lain pada umumnya yang tak nafsu makan, Mara justru sebaliknya.
“Kita pergi sekarang?” tanya Saga yang sedari tadi duduk di depan kemudi. Bukan hanya menjadi suami Mara, ia juga menjadi sopir pribadi sekarang menggantikan Famela.
“Ya. Sebaiknya kita pergi sekarang sebelum wartawan ke sini dan tahu kau suaminya,” jawab Famela.
Saga hanya diam lalu menyalakan start dan tak lama mobil pun melaju menuju rumah Mara. Tanpa ketiganya sadari, sebuah mobil membuntuti.
Sekitar 20 menit kemudian, mobil Mara berhenti di halaman. Ketiganya pun keluar dan segera masuk ke dalam rumah tanpa tahu mobil yang sedari tadi membuntuti telah parkir di seberang jalan.
“Sial. Apa itu suami Mara?” gumam Riky.
Rupanya Riky lah yang membuntuti Mara sejak keluar dari tempat syuting. Sejak kejadian malam itu ia sengaja menjaga jarak dengan Mara. Saat ia memasuki kamar yang harusnya menjadi kamar Mara bermalam, wanita itu justru tidak ada. Bahkan meski ia menunggu sampai pagi Mara juga tak menunjukkan batang hidungnya. Dan sialnya, ia sudah terlanjur meminum obat kuat yang membuatnya terpaksa memanggil wanita bayaran untuk memuaskannya. Ia pun berpikir, bahwa mungkin Mara sudah tahu niat busuknya dan sengaja mengerjainya. Itu lah kenapa ia memilih menjaga jarak, bahkan tak berani menghubungi Mara untuk bertanya ke mana dia sebenarnya.
Riky memukul setir melampiaskan kekesalannya. Berita pernikahan Mara kemarin tentu sudah sampai ke telinganya dan ia sama sekali tak menyangka akan hal itu.
Riky meremas setir dan mengarah pandangan pada rumah Mara, ia tengah memutar otak, mencari cara agar Mara bercerai dari suaminya. Ia tertarik pada Mara, pada tubuhnya, dan tak akan berhenti berusaha mendapatkannya. Tapi, sebelum itu ia harus tahu siapa suami Mara. Dengan begitu pasti akan lebih mudah menjatuhkannya, merangkai skenario agar Mara menceraikannya.
Di dalam rumah, Mara tengah menikmati makan siang keduanya di ruang makan yang menyatu dengan dapur. Padahal siang tadi saat di lokasi syuting ia sudah mendapat jatah makan siang, tapi menjelang sore ini ia sudah kembali lapar.
“Mel, Saga sudah makan belum?” tanya Mara pada Famela yang duduk di sebelahnya, tengah sibuk dengan smartphone di tangan. Seperti semalam, ia tengah sibuk membaca komen netizen serta mencari berita tentang Mara, jangan sampai ada berita buruk tentangnya.
“Aku sudah menyuruhnya cari makan tadi siang,” jawab Famela tanpa mengalihkan fokusnya dari layar.
Brak!
Mara terjingkat saat Famela menggebrak meja tiba-tiba.
“Sialan, lagi-lagi ada netizen julid!” geram Famela saat menemukan salah satu komentar tentang Mara.
“Nggak ada angin nggak ada hujan, tiba-tiba married. Pasti hamidun.”
“Pasti hamil duluan. Aku penasaran, siapa suaminya. Apa jangan-jangan suami orang? Makanya nggak mau spill muka.”
“Apa suaminya jelek?”
“Mungkin suaminya pejabat, makanya nggak mau nunjukin mukanya. Nggak heran sih, artis kurang terkenal kalau nggak jadi peliharaannya pejabat ya jual diri.”
“Jadi istri kedua, ya, makanya takut spill suaminya, takut dilabrak istri pertama.”
Hati Mara terasa ngilu membaca komentar-komentar buruk netizen. Padahal semalam lebih banyak komen positif, tapi sekarang banyak komentar negatif.
“Udah, nggak usah mikirin komentar-komentar manusia berupa hewan-hewan ini. Anggap saja mereka anjing yang menggonggong,” ucap Famela saat melihat raut wajah Mara sedikit berubah setelah membaca komentar yang membuat kesal.
“Tapi … rasanya …,” gumam Mara menggantung ucapannya. “maksudku, baru kali ini aku mendapat komentar negatif. Ya, biasanya ada, tapi hanya beberapa, kan. Tapi kenapa … ini banyak sekali?”
“Aih, ayolah, Mar. Sebelum kau terjun ke dunia yang membesarkan namamu, kau sudah tahu konsekuensinya, kan. Anggap saja komentar negatif sebagai angin lalu. Toh, selama ini citramu positif. Dan lagi, lebih banyak yang mendukungmu, memberimu selamat,” ujar Famela.
Mara hanya diam di mana wajahnya terlihat murung. Sepertinya kehamilannya membuatnya menjadi lebih sensitif.
Tanpa Mara dan Famela sadari, Saga sedari tadi mendengarkan pembicaraan mereka, berdiri di balik dinding dekat pintu dapur. Memasukkan kedua tangan ke saku celana, ia mengambil langkah menuju kamarnya untuk menghubungi seseorang.
Keesokan harinya, komentar-komentar negatif semakin membludak. Dan bukan tanpa alasan melainkan telah direncanakan oleh Riky. Ia membayar orang untuk memberi komentar negatif dengan akun fake. Dan yang dilakukannya itu berhasil memancing warganet berkomentar karena terhasut komentar negatifnya.
Famela memijit pelipis dan mendesah berat. Saat ini ia di dapur sekarang ditemani teh hangat sambil memantau perkembangan sosial media Mara. Ia tak berniat memberitahukan ini pada Mara teringat apa yang terjadi kemarin. Ia tak mau membuat Mara kepikiran apalagi ia tengah hamil.
“Apa kita akan pergi syuting lagi hari ini?”
Famela tersentak dan mengarah pandangan pada Saga yang berdiri di ambang pintu dapur.
“Nanti jam sepuluh. Kenapa?”
“Tidak ada. Jika aku tidak ada mengantar ke tempat syuting, aku ingin melihat adikku di rumah sakit.”
“Oh.” Hanya itu yang Famela katakan sebelum akhirnya bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar Mara. Namun, langkahnya terhenti sejenak setelah beberapa langkah melewati Saga. “oh, ya, nanti aku ada urusan. Kau antar Mara tapi ingat, jangan turun dari mobil. Langsung saja pergi setelah mengantarnya. Kau boleh menemui adikmu. Lokasinya sama seperti kemarin,” ucapnya kemudian melanjutkan langkah. Namun, tiba-tiba kembali terhenti saat teringat sesuatu. “ah, ya, satu lagi. Setelah itu dia ada kegiatan lain. Dia jadi tamu undangan di acara talk show, aku akan mengirim lokasinya dan menunggu kalian di sana.”
Setelah mengatakan itu Famela melanjutkan langkahnya, meninggalkan Saga yang menatapnya dalam diam.
Sesampainya Famela di kamar Mara, ia terkejut melihat Mara masih berada di atas tempat tidur. Padahal ini sudah jam 8 pagi.
“Mar, bangun. Jangan lupa kau harus berangkat nanti jam sepuluh,” ucap Famela, duduk di tepi ranjang sambil membangunkan Mara.
Lenguhan samar lolos dari mulut Mara. “Sebentar lagi, Mel,” ucapnya.
Famela menghela napas berat dan memutar bola mata malas. “Hah. Ya udah. Oh, ya, nanti kau ke lokasi dengan Saga. Aku harus mengantar ibuku ke rumah sakit.”
“Um. Ya, ya,” ucap Mara dengan mata masih terpejam. Ia benar-benar masih ingin bermalas-malasan.
Famela bangkit dari duduknya, membiarkan Mara tidur 5 menit lagi. Ia lalu berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tak lama kemudian, Famela telah rapi dan bersiap pergi. Tentu saja setelah membangunkan Mara dan menyiapkan pakaiannya.
“Mar! Aku berangkat sekarang! Semua sudah kusiapkan di atas kasur!” teriak Famela pada Mara yang tengah berada di kamar mandi. Setelahnya, ia pun pergi tanpa menunggu Mara selesai. “sarapan juga sudah suamimu siapkan,” imbuhnya sebelum akhirnya menutup pintu kamar Mara.
“Aku pergi sekarang. Jangan lupa dengan jadwal dan lokasi yang sudah kukirim padamu. Dan ya, jangan macam-macam pada Mara dan kau harus pastikan dia baik-baik saja selama aku pergi dan selama dia bersamamu,” ujar Famela sebelum meninggalkan rumah.
Saga hanya diam dan mengangguk seperti anak buah yang patuh. Namun, tepat setelah Famela pergi dijemput taksi online, ia berjalan ke kamar Mara, berdiri di depan pintu selama beberapa saat sebelum akhirnya membukanya dengan hati-hati.