1. Pengalaman Pertama
“s**t! Kau masih perawan.”
Pria itu menggeram rendah di telinga wanita di bawahnya. Wanita berparas ayu yang matanya telah sayu, tubuhnya pun sedari tadi terus menggelinjang seolah ingin segera disentuh dan dipuaskan.
“Lalu? Cepat lakukan!” racau wanita itu sambil memeluk erat pria di atasnya, memintanya segera memasukinya. Tubuhnya sudah panas, sesuatu di bawah sana terus saja berkedut minta dimanjakan.
Pria itu menyeringai tipis lalu kembali berbisik, “Kau yang memintanya, Nona. Aku tak akan berhenti sebelum aku puas walau kau memohon berhenti sekalipun.”
Tepat setelah mengatakan itu, suara desahan dan derit ranjang yang saling bersahutan terdengar, bak menjadi musik merdu di tengah keheningan malam.
***
Tut … tut ….
Ponsel di atas nakas samping tempat tidur itu terus saja berdering, mengganggu tidur seorang wanita yang tubuhnya terbungkus selimut di atas ranjang. Dengan mata malas terbuka, tangan wanita itu terulur mencari sumber suara berisik yang mengganggu tidurnya.
“Halo. Siapa,” ucap wanita itu setelah berhasil mengambil ponselnya dan mengangkat panggilan.
“Mara! Apa maksudmu siapa? Di mana kau sekarang? Satu jam lagi kau ada pemotretan!”
Tsamara Mara namanya, seorang aktris dan model berusia 25 tahun. Parasnya ayu, berpadu sempurna dengan bentuk tubuh yang diidaman para kaum hawa. Tingginya 170 cm dan memiliki d**a yang tampak kencang dan handly, berpadu sempurna dengan b****g sintalnya yang menjadi daya tarik lebih.
Mendengar teriakan dari seberang sana, Mara membuka mata lebar dan mengedarkan pandangan.
Mara bangun menegakkan punggungnya dan meringis merasakan nyeri di bawah sana yang membuatnya mengingat apa yang terjadi semalam.
“Mar, are you, ok? Di mana kau sekarang? Kau baik-baik saja kan?” tanya pemilik suara di seberang sana karena Mara hanya diam setelah ia mendengar ringisan samar darinya.
Mara terdiam seakan tak mendengar suara Famela dari seberang sana. Famela adalah manajer sekaligus asisten pribadinya.
Mara menelan ludah saat kilatan ingatan yang terjadi semalam mulai berputar dalam kepala. Semalam ia menghadiri sebuah acara yang bertempat di ballroom hotel yang ia tempati sekarang, dan entah kenapa, tiba-tiba ia merasa aneh dengan tubuhnya yang membuatnya menyewa kamar untuk beristirahat. Namun, tiba-tiba ia bertemu pria asing yang ia lupa seperti apa wajahnya. Yang ia ingat pria itu tampan, tinggi, dan beraroma maskulin yang membuatnya terangsang.
Desahan berat lolos dari mulut Mara diiringi ia memijit kepala. Bisa-bisanya ia melakukan hal bodoh, bermain s*x dengan pria asing dan gilanya, semalam adalah pengalaman pertamanya.
“Mel, tolong katakan pada Steven, aku tidak enak badan,” ucap Mara. Steven adalah fotografer yang bertugas memotretnya nanti.
“Apa? Tak enak badan? Ada apa denganmu? Katakan dulu kau di mana. Ah, apa kau masih di hotel? Aku ke sana sekarang.”
“He- hei, tu- tunggu–”
Mara kembali mendesah berat saat panggilan berakhir. Ia tak mau Famela tahu dirinya dalam keadaan seperti ini, tahu apa yang dilakukannya semalam. Ia pun bergegas turun dari ranjang, tapi baru saja berdiri, ia kembali terduduk merasakan rasa perih di bawah sana saat hendak melangkah. Bukan hanya rasa perih, ia juga merasakan sesuatu yang meleleh, mengalir membasahi paha.
Kepala Mara berdenyut seketika. Meski ini pengalaman pertama, ia tahu cairan apa yang kini mengalir dari area sensitifnya. Pria semalam tak memakai pengaman dan mengeluarkannya di dalam.
“Sial. Kuharap aku tidak hamil,” batin Mara.
Cukup lama kemudian Mara telah berada di lobi hotel, menunggu Famela. Semalam Famela mengantarnya. Dia tidak ikut sebab memiliki urusan keluarga.
“Mar–”
Famela segera menutup mulutnya melihat Mara melotot padanya.
“So- sorry,” ucap Famela setelah Mara berdiri di depannya. Mara pun segera menarik Famela pergi dari sana, menuju mobil Famela terparkir di luar.
“Hah!” Mara bernapas lega saat membuka maskernya, setelah ia masuk dalam mobil dan duduk di sebelah Famela yang duduk di depan kemudi. Ia harap tak ada yang mengenalinya tadi. Bagaimanapun ia seorang public figure, seorang model dan aktris, bisa gawat jika timbul gosip tentangnya apalagi gosip sexnya dengan pria asing semalam di saat imagenya di dunia hiburan adalah aktris polos, baik hati dan lemah lembut.
“Jas siapa yang kau pakai?” tanya Famela penuh selidik menatap jas yang memeluk tubuh Mara.
“Entah. Aku menemukannya di depan pintu tadi,” jawab Mara lalu melempar jas itu ke kursi belakang. Ia tak punya pilihan lain selain memakai jas milik pria semalam yang tertinggal. Memakainya untuk menutupi sesuatu.
“Kau gila? Bagaimana kalau jas itu milik orang berpenyakit? Bisa-bisanya kau memakainya!” gerutu Famela. Bagaimanapun Mara adalah aset, barang berharga yang menjadi bank uangnya, Mara tak boleh terkena penyakit menular atau apapun itu. “tunggu. Apa ini?”
Famela menajamkan penglihatannya, menyipitkan mata saat menemukan sesuatu di leher Mara. Ia pun segera menyibak rambut Mara yang menutupi lehernya dan terkejut melihat bekas cupang.
“Mara! Apa-apaan ini?!” teriak Famela, melotot melihat beberapa jejak kissmark di leher Mara. Meski berada di samping tapi jejak itu begitu jelas.
Mara menarik kembali rambutnya untuk menutupi leher. Jas yang ia pakai tadi bertujuan menutupi bekas kissmark itu, tapi karena Famela bertanya, ia buru-buru membukanya karena gugup.
“Mara, kau harus mengatakannya padaku. Apa yang kau lakukan semalam,” ucap Famela sambil memegangi kedua bahu Mara. “jangan bilang kau melayani para pejabat yang sejak kemarin terus menerus menerorku ingin tidur denganmu.”
Mara menyingkirkan kedua tangan Famela dari bahu dan mengatakan, “Jangan gila. Aku tak mungkin melakukannya.”
“Lalu itu apa, Mar? Kau mau coba membohongiku? Atau, dengan siapa?” tanya Famela frustasi.
“Aku tidak tahu,” ucap Mara sambil mengalihkan pandangan dari Famela. Ia menghadap ke depan, melihat mobil yang berada di depan mobilnya.
“Hah? Mara! Apa kau gila? Kau bercanda, kan? Katakan kau bercanda, kan?”
“Mel, plis. Aku sudah dewasa, jangan bersikap seakan aku masih di bawah umur yang belum legal,” kata Mara yang berhasil menohok ulu hati Famela.
“Ya- iya, ta- tapi, maksudku, ini pengalaman pertamamu, kan? Kau benar-benar melakukannya dengan pria asing? Jika tahu begini, aku setuju saja saat pejabat itu menawarmu dua milyar.”
Famela segera menutup mulutnya yang keceplosan. Ia juga langsung mendapat pelototan tajam Mara.
“Apa? Kau berniat menjual keperawananku?” tanya Mara dengan mata berkilat tajam.
Famela segera mengibaskan tangan. “A- apa, ti- tidak. Kau tahu sendiri aku menolak pejabat atau siapapun itu yang mau mendekatimu kecuali untuk pekerjaan, kan? Maksudku, kenapa kau melakukannya dengan pria tak dikenal? Bagaimana kalau dia berpenyakit, suami orang, atau gelandangan yang menyamar jadi tamu undangan di acara semalam?”
Mara mendesah berat dan memegangi kepala dengan siku bertumpu kaca mobilnya. “Mel, bisa kita hentikan pembicaraan ini sebentar? Aku pusing. Aku butuh istirahat. Jika tidak, kepalaku bisa pecah, dan kau tahu apa yang akan terjadi, kan?”
Famela tak bisa menolak jika Mara sudah berkata demikian. Namun, ia tak akan berhenti membahas masalah ini sampai jelas siapa pria yang tidur dengan Mara semalam.
Singkat waktu, sudah lewat beberapa Minggu sejak Mara menghabiskan malam panasnya dengan pria asing hari itu. Dan selama itu, Famela belum menemukan identitas pria tersebut.
Famela duduk di kursi meja makan, menatap laptopnya melihat hasil give yang Mara dapatkan kemarin dari salah satu akun sosial medianya sambil sesekali menyesap kopi hitamnya. Ia dan Mara berada di apartemen Mara sekarang.
“Mel, setelah ini apa jadwalku?” tanya Mara sambil memakan buah apel di tangan, baru diambilnya dadi kulkas.
“Jam satu siang kau harus syuting untuk iklan shampo,” jawab Famela.
Mara hanya mengangguk sampai tiba-tiba ia merasa ada yang aneh. Ia meletakkan apelnya ke atas meja dekat laptop Famela, dan berjalan cepat menuju kamar mandi.
Pandangan Famela mengikuti setiap langkah Mara. “Ada apa dengannya?” batinnya. Dan saat Mara kembali, ia segera bertanya.
“Ada apa? Sakit perut?” tanya Famela.
Mara menarik kursi di sebelah kursi yang Famela duduki. “Tidak. Hanya mual,” jawabnya.
Alis Famela berkerut tajam menatap Mara. Tentu ia tak lupa dengan kejadian beberapa Minggu yang lalu apalagi, Mara mengatakan saat itu pria itu tak memakai pengaman.
“Mar, kau … tidak hamil, kan?”
Mara terdiam dan terpaku mendengar pertanyaan Famela. Ia pun mengingat-ingat dan baru sadar, ia belum datang bulan.
Menyadari itu, mata Mara melebar sempurna. Ia segera menunduk menatap perut ratanya. Apa jangan-jangan, dirinya benar-benar hamil?