Malam itu Mara menghadiri sebuah acara yakni pesta ulang tahun putri seorang pejabat yang juga merupakan mantan artis senior. Pernah bermain bersama di salah satu judul FTV, ia pun diundang dan menjadi salah satu tamu.
Mara berjalan anggun memasuki aula ballroom hotel tempat acara berlangsung. Ia tampil cantik dan menawan dengan gaun model A-line berwarna champagne gold tanpa lengan. Rambutnya ia ikat tinggi dengan anak rambut bergelombang membingkai wajah. Melengkapi penampilannya, ia memakai make up natural yang tak mengurangi sedikitpun kecantikannya.
“Mara.”
Mara menghentikan langkahnya saat seorang wanita mendekat dan menyapa. Ia adalah Dinara Lolly, aktris yang pernah bermain satu sinetron dengannya. Mereka tidak berteman dekat, tapi cukup saling mengenal.
“Lama tak bertemu, bagaimana kabarmu?” tanya wanita yang kerap dipanggil Dinar itu.
“Baik. Bagaimana denganmu?” balas Mara sedikit berbasa-basi meski sebenarnya ia ingin pergi. Dinar merupakan artis yang cukup kontroversial, meski begitu namanya tetap exis di dunia hiburan. Bukan Mara sengaja memilah-milih teman, ia hanya tidak ingin namanya terseret jika Dinar kembali membuat skandal hanya karena mereka terlihat akrab.
Belum sempat Dinar menjawab, tiba-tiba seorang pria mendekat menghampiri Mara.
“Hai, Mar, kukira kau tidak datang,” ucap pria itu. Riky namanya, seorang aktor yang namanya cukup dikenal meski lebih sering berperan sebagai pemain sampingan.
“Ya, tentu saja. Aku tak mungkin mengecewakan beliau,” kata Mara seraya mengarah pandangan pada Rano Y, pemilik acara.
Riky tertawa pelan dan mengatakan, “Ya, kau benar.”
Tiba-tiba Dinar menyela, sengaja ingin bicara dengan Riky. Namun, pria itu seolah enggan dan memilih pergi saat Mara juga pergi, menyapa si pemilik acara dan mengucapkan selamat untuk putrinya.
Setelah menyapa sang tuan pemilik acara, Mara tetap di sana menikmati pesta, berbincang dengan beberapa orang yang ia kenal sampai tiba-tiba, Riky kembali menyapa dan ikut bergabung.
“Apa aku mengganggu? Mereka langsung pergi saat aku di sini,” ucap Riky setelah dua orang yang bicara dengan Mara sebelumnya pergi.
“Mereka hanya buru-buru, ingin menyapa Om Rano dan putrinya lalu pulang karena ada urursan,” ucap Mara membantah prasangka buruk Riky pada Rara dan Jun.
Riky berdecak dan mengatakan, “Kau selalu saja, Mar. Apa di pikiranmu semua orang itu baik?”
Di saat yang sama, seorang pelayan datang sambil membawa senampan minuman yang memang sengaja ia berikan untuk tamu. Riky pun menghentikannya, dan mengambil dua gelas minuman untuknya dan Mara.
“Terima kasih,” ucap Mara menerima minuman yang Riky berikan. Tanpa ragu ia pun meminumnya melihat Riky meminum minumannya hingga tandas.
“Hah, aku benar-benar malas datang ke acara seperti ini, bertemu dengan artis-artis sombong yang menatap kita sebelah mata,” gerutu Riky yang selalu merasa diabaikan artis-artis yang lebih senior atau terkenal.
Mara hanya diam, kadang ia juga berpikir seperti itu, tapi lebih memilih diam atau bicara pada Famela.
Tak lama kemudian, Mara merasa ada yang aneh dengannya. Kepalanya tiba-tiba terasa berat, ia juga merasa gerah, padahal sebelumnya ia baik-baik saja. Ia pun memutuskan pulang saat merasakan tubuhnya semakin tak karuan tak lama kemudian. Tapi, ingat bahwa Famela memiliki acara dengan keluarganya, ia tak ingin mengganggu dan memilih memesan kamar di hotel itu. Ia bisa saja meminta tolong pada siapapun di sana yang ia kenal untuk mengantarnya pulang, tapi ia terlalu sungkan. Ia bukan orang yang sok akrab dengan siapapun dan bisa meminta tolong begitu saja.
“Terima kasih,” ucap Mara setelah mendapatkan kunci kamar.
Tanpa Mara sadari, seseorang mengikutinya dari belakang menuju kamarnya di lantai 9 setelah sebelumnya bertanya pada resepsionis hotel nomor kamar Mara. Dan siapa lagi kalau bukan Riky.
Ting!
Mara keluar dari lift setelah tiba di lantai 9. Berpikir ia akan pingsan, ia berjalan cepat mencari kamarnya, kamar nomor 906. Namun, ia mengambil langkah yang salah. Harusnya ia mengambil koridor kanan, tapi ia justru mengambil koridor kiri.
Brugh!
Karena terlalu terburu-buru, tanpa sengaja Mara menabrak seorang pria yang hendak memasuki kamarnya. Mara pun jatuh terduduk dan segera menatap uluran tangan dari pria berwajah tampan itu.
Mara menajamkan penglihatannya dan melihat pria berwajah tampan dengan aroma maskulin yang kuat, membuat denyutan di bawah sana semakin menggila. Mara tak tahu apa yang terjadi padanya, tubuhnya terasa makin panas hingga ia ingin melepaskan seluruh pakaiannya. Kepalanya pusing hingga tingkat kesadarannya seolah hanya 80%, dan bagian sensitifnya, terus saja berkedut-kedut.
Mara menerima uluran tangan pria itu dan saat pria itu menariknya, ia jatuh dalam dekapannya.
Pria itu sedikit terkejut dan berniat mendorong Mara. Namun, Mara mencengkram kuat kemeja hitamnya.
“Tuan, kau tampan sekali,” ucap Mara dengan mata yang telah sayu. Ia lalu dengan berani berjinjit dan mendaratkan bibir di bibir pria itu lalu mendorongnya hingga mereka masuk ke kamar pria tersebut.
Tepat setelah pintu tertutup, Riky keluar dari lift dan mencari kamar Mara sambil membawa kunci cadangan yang ia minta pada petugas setelah memberinya uang. Setelah berdiri di depan kamar 906, Riky mengeluarkan sesuatu dari saku celana, sebuah obat kecil dengan khasiat yang besar.
“Tunggu aku, Mara. Kita akan bersenang-senang,” gumam Riky setelah menelan obat itu dan langsung membuat sesuatu di balik celananya yang telah mengeras, semakin berdiri tegak.
Sementara itu, di dalam kamar pria asing yang Mara masuki, Mara terus memperdalam ciuman mereka meski pria asing itu terus berusaha mendorongnya. Bukan tanpa sebab, melainkan Mara sama sekali tidak ahli berciuman hingga membuat bibir dan lidah pria itu sakit. Bukan mengisap lidah dan bibirnya, Mara justru menggigit hingga bibir dan lidah pria itu berdarah.
Tak tahan lagi, pria itu mendorong Mara, menjatuhkannya ke ranjang hingga tubuhnya memantul. Ia lalu menyeka bibirnya, dan meludahkan darah yang tercipta karena ciuman kasar Mara.
“Dasar sinting,” batin pria itu. Rasa hati ingin memaki Mara, tapi makiannya kembali tertelan saat Mara membuka sendiri gaunnya, memperlihatkan dua mochi kembar yang tampak kencang tapi juga kenyal.
Mara melenguh saat kedutan di bawah sana semakin menjadi dan menggila. Seperti bukan kehendak sendiri ia segera membuka lebar kakinya setelah menanggalkan gaun indahnya.
“Tuan, bisakah anda menyelamatkan aku? Aku mungkin akan mati karena dia terus berkedut setiap waktu,” ucap Mara sambil menunjuk bagian sensitifnya yang tak lagi terlindungi celana dalam.
Pria itu menelan ludah. Jiwa kelelakiannya meronta ingin segera menyantap santapan lezat yang berwarna pink itu, tapi nuraninya melarangnya. Mereka tak saling kenal, dan sepertinya wanita itu berada dalam pengaruh obat.
Pria itu mengepalkan tangan kuat dan membalikkan badan, berusaha tetap berada di jalan yang benar. Namun, usahanya itu sia-sia saat Mara memeluknya dari belakang dan menjelajahi tubuh depannya yang masih terlindungi celana dan kemeja dengan tangan dan jari lentiknya.
Tak lama, erangan Mara terdengar memenuhi kamar saat pria itu akhirnya kalah. Pada akhirnya ketahanan pria itu goyah. Ia segera mendorong Mara dan memberi apa yang Mara inginkan, menikmatinya dengan gila.
Mara menjepit kepala pria itu dengan kedua paha, tubuhnya menegang kala gelombang kepuasan yang pertama akhirnya ia dapatkan.
Pria itu menegakkan punggungnya dan menyapu area mulutnya yang basah dengan lidah. Ia lalu menindih Mara, berniat memberi Mara hidangan utama sampai akhirnya ia tahu, bahwa Mara masih perawan.
****
Mara yang duduk di sofa menjatuhkan kepala hingga ia mendongak kala teringat kejadian waktu itu. Padahal ia sudah mulai bisa melupakan kejadian itu, tapi dugaan bahwa dirinya hamil membuatnya kembali mengingatnya. Sayangnya, ia tak bisa mengingat seperti apa wajah pria malam itu.
Mara mengambil bantal peluk di sampingnya, digunakannya menutupi wajah sampai tiba-tiba suara cempreng Famela terdengar.
“Mara! Mar! Aku mendapatkannya! Cepat, cepat coba sekarang!” ucap Famela seraya memberikan 3 testpack pada Mara.
Mara membuang bantal yang menutupi wajah dan menatap 3 testpack yang berada di depan mukanya. Rasa takut dan cemas pun timbul menatap ketiga benda itu. Namun, ia tak punya pilihan lain agar semua lebih jelas. Jangan sampai perutnya tiba-tiba besar tanpa ia sadari.
Cukup lama kemudian, Mara telah duduk di atas kloset duduk, tengah menunggu test pack-nya bereaksi. Ia masih berharap ia hanya masuk angin hingga membuatnya mual.
Mara mengembuskan napas berat dari mulut sebelum mengambil testpack tersebut. Dan setelah testpack berada di tangan, degupan jantungnya terasa menggila. Ia penasaran, tapi merasa belum siap menerima kenyataan jika dirinya benar-benar hamil. Ia masih punya kontrak kerja 1 tahun kedepan, dan beberapa bulan lagi melakukan pemotretan untuk brand pakaian terkenal.
“Ayo, Mar. Kau harus berani,” monolog Mara sebelum akhirnya mengambil napas dan membuka kedua tangan yang menggenggam testpack.
Di tempat lain, seorang pria duduk di sofa beludru hitam dengan kaki menyilang. Sambil menikmati minuman beralkohol di tangan, satu tangannya yang lain memegang foto Mara.
"Kita akan bertemu lagi."