10. Minta Jatah

1148 Kata
Mara membuka mata perlahan dan menyadari ia tak lagi berada di tempat sebelumnya. Ia berada di backstage sekarang, terbaring di sofa ditemani Saga dan seorang kru. Sambil memijit kepala, Mara bangun untuk duduk. “Akhirnya Mbak bangun,” ucap kru wanita itu. “silakan minum dulu, Mbak,” ucapnya lagi seraya memberikan sebotol air mineral untuk Mara. Mara menerimanya lalu meminumnya sedikit. “Terima kasih,” ucap Mara. “apa acaranya sudah selesai?” “Belum, tapi Mbak Mara tidak perlu memikirkannya.” “Tapi … ini acara live.” “Tidak apa-apa. Sepertinya Mbak Mara tidak enak badan. Pak Choir sudah memberi izin Mbak Mara jika tidak bisa melanjutkannya,” ujar kru tersebut. Mara merasa tidak enak, tapi ia memang merasa tidak enak badan. Saga yang sedari tadi berdiri tak jauh dari sofa yang Mara duduki, hanya diam sambil sesekali melirik Mara. “Pak Choir juga mengizinkan Mbak Mara pulang.” “A- apa … tapi–” “Dengar? Jadi sebaiknya kita pulang,” kata Saga Dahi Mara sedikit berkerut menatap Saga. Ia merasa Saga lebih banyak bicara sekarang, lebih banyak ikut campur urusannya. Kru wanita itu menatap Saga dengan pandangan tak terbaca. Sama seperti orang lain, ia bertanya-tanya siapa sebenarnya Saga. Apakah pengganti Famela, atau suami Mara. Apalagi, ia sempat melihat Saga bicara dengan kepala produksi saat Mara pingsan dan dibawa ke backstage. Mara mengabaikan Saga, dan meminta kru itu menyampaikan permintaan maafnya. Ia berpikir ingin menemui Pak Choir secara langsung untuk menyampaikan permohonan maafnya, tapi tentu tidak mungkin karena acara masih berlangsung. Cukup lama kemudian, Mara dan Saga telah dalam perjalanan pulang. Pada akhirnya Mara memutuskan pulang, meski masih memikirkan Pak Choir karena telah meninggalkan acara. Saga yang mengemudi, sesekali melirik Mara yang duduk di belakang. Rasa hati ingin memarahi Mara, tapi ia menahan diri. “Antar aku ke rumah sakit,” ucap Mara tiba-tiba. “Tidak,” sahut Saga segera. “Apa katamu?” “Kubilang tidak. Kecuali kalau kau ingin keguguran.” “Kau–” Mara menahan diri saat kata kasar nyaris lolos dari mulut. Kekesalan tampak jelas di wajahnya. Saga hanya diam dan terus melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang hingga akhirnya sampai di kediaman. Namun, setibanya mereka, mereka dikejutkan dengan kehadiran 2 polisi yang sepertinya sudah menunggu cukup lama. Mara segera turun dari mobil, menyambut 2 polisi itu, berpikir kedatangan keduanya untuk membicarakan kecelakaan yang Famela alami. “Selamat malam Nona. Kami dari pihak kepolisian,” ucap salah 1 dari 2 polisi itu setelah Mara berdiri di depannya. “Ah, ya, Pak. Ada apa, ya? Apa Bapak-bapak yang menangani kasus kecelakaan tadi siang?” tanya Mara. “Tidak. Kedatangan kami ke sini karena mendapat laporan bahwa seseorang yang tinggal di sini telah melakukan kekerasan pada saudara Riky,” ujar rekan polisi yang menyambut Mara. “Apa? Melakukan … kekerasan? Pada Riki?” Dua polisi itu mengangguk kemudian memberikan amplop berisi surat panggilan untuk Saga yang dilaporkan atas tindakan penganiayaan. Riky melaporkan Saga atas tindakannya tadi siang. Saga merampas amplop itu sebelum Mara menerimanya lalu memasukkannya ke dalam saku celana. Ia kemudian mengulurkan kedua tangan, membiarkan 2 polisi itu memborgol tangannya. Dua polisi itu saling melempar lirikan sekilas kemudian salah satu diantaranya memborgol Saga. “Apa yang sebenarnya kau lakukan?!” tanya Mara bernada tinggi. Ia terkejut sekaligus bingung. “Tenang saja aku akan segera kembali,” ucap Saga. “masuk dan kunci pintu,” ucapnya kembali sebelum 2 polisi itu membawanya. Mulut Mara terbuka dengan d**a naik turun mengatur napas, tangannya menepuk jidat. Ia harap semua yang terjadi hari ini adalah mimpi. Tak lama kemudian, Mara telah berada di kamarnya, mencoba menghubungi Riky. “Halo, Rik. Bisa jelaskan apa yang terjadi? Dua orang polisi datang dan menangkap–” “Sopirmu?” potong Riky. Mara menggigit ujung kuku jari-jarinya. Ia hampir saja menyebut nama Saga.. “Tanyakan saja padanya. Dia sudah membuat seluruh jariku hampir putus!” Dahi Mara berkerut tajam. “Apa? Apa yang dia lakukan padamu?” Riky tak menjawab, lalu mengubah panggilan menjadi video call menunjukkan jari-jari tangannya yang dibalut perban. “Lihat. Ini yang sudah dia lakukan!” Mara terkejut. Meski tak tahu apa yang sebenarnya Saga lakukan, tapi melihat semua jadi Riky diperban, pasti lukanya cukup serius. “Bagaimana bisa dia melakukan itu padamu? Di mana kalian bertemu?” “I- itu tidak penting. Yang penting, sopirmu harus bertanggung jawab,” jawab Riky yang sedikit gelagapan. Mara merasa ada yang aneh. Tak mungkin Saga melakukan tindakan sejauh itu tanpa alasan. “Terserah apa yang kau pikirkan, Mar. Tapi akan kubuat sopir kurang ajarmu itu membayar apa yang sudah dia lakukan.” Setelah mengatakan itu, Riky mengakhiri panggilan. “Ha- halo, tunggu, Rik. Riky!” Mara berdecak saat menurunkan ponselnya dari telinga. Ia lalu memijit kepala yang semakin berdenyut-denyut. “Aku harus menanyakannya sendiri,” gumam Mara berniat bertanya langsung pada Saga. Mengabaikan sakit kepala dan nyeri di perutnya, ia berniat menyusul Saga ke kantor polisi. Sayangnya, saat ia baru saja melewati pintu depan, ia terkejut mendapati Saga berjalan ke arahnya. “Kau!” ucap Mara saat keterkejutan. “bukannya tadi kau dibawa ke kantor polisi?” Mara tentu saja heran. Saga dan dua polisi yang membawanya belum lama pergi, belum ada 15 menit. “Aku bebas,” kata Saga. “mau ke mana?” Mara mengenyahkan sejenak keheranannya, dan bertanya tentang apa yang sebenarnya terjadi. “Jelaskan padaku. Apa yang sudah kau lakukan pada Riky. Kau memotong tangannya?” “Oh, kau sudah tahu?” “Jelaskan saja!” “Kenapa tidak bertanya padanya? Ah, pasti dia tidak akan bicara,” ucap Saga. “sudah malam. Kujelaskan di dalam.” Saga membawa Mara masuk ke dalam rumah dan bicara di ruang tamu. “Dia mengikutiku setelah aku mengantarmu. Dia lalu mengajakku bekerja sama, mau membayarku sekian agar aku memberitahu siapa suamimu,” ujar Saga tanpa ada yang ia tutupi. “Hah?” Mara benar-benar dibuat terkejut. Ia juga bingung kenapa Riky sangat penasaran dengan sosok suaminya. Semua orang mungkin penasaran, tapi tak sampai melakukan tindakan sejauh itu. “Mungkin dia menyukaimu, jadi tak rela kau sudah menikah,” kata Saga. Mara berbalik dan memijit kepalanya. Selama ini ia hanya menganggap Riky sebagai teman biasa. Pria itu juga berteman dengannya sewajarnya. “Kepalaku rasanya mau pecah. Aku mau istirahat,” ucap Mara seraya berjalan ke kamarnya. Saga bergeming, tetap diam tanpa mengalihkan pandangan. Sekarang hanya ada mereka berdua di rumah, dirinya juga sudah sah menjadi suami Mara. Kalau begitu, tak apa jika ia meminta jatah, bukan? Meminta haknya sebagai seorang suami. Tanpa mengalihkan pandangan sedetikpun, Saga berjalan di belakang Mara, mengikuti istrinya itu hingga sampai di depan kamar. Mara yang menyadarinya pun menoleh, dan menatap Saga penuh tanya. “Aku ingin meminta hakku,” ucap Saga membuat Mara mengerutkan alis. “Bayaranmu?” Saga mengambil langkah hingga berdiri tepat di depan Mara. “Hakku sebagai suamimu,” ucap Saga jelas dan tegas membuat Mara melebarkan mata
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN