Kilatan Darah di Balik Jas Putih
Aroma rumah sakit di sepertiga malam selalu memiliki cara tersendiri untuk menusuk tulang campuran antara antiseptik yang pekat, kelembapan hawa pendingin ruangan, dan bau samar kematian yang tak kasatmata.
Bagi Clara Anindita, lorong-lorong sunyi Rumah Sakit Pusat Medika malam ini terasa berkali-kali lipat lebih mencekam daripada biasanya. Langkah kakinya yang terbungkus flat shoes beludru nyaris tidak terdengar, beradu dengan lantai marmer putih yang memantulkan cahaya lampu neon yang berkedip redup.
Clara mengeratkan pelukannya pada rantang makanan tiga tingkat bermotif floral di dadanya. Di dalamnya ada sup ayam jahe hangat dan tumis daging sapi lada hitam kesukaan suaminya.
"Adrian pasti sangat lelah," pikir Clara, mencoba mengusir rasa dingin yang merayapi tengkuknya.
Suaminya, Dr. Adrian Marcello, adalah seorang spesialis bedah trauma papan atas yang baru saja menyelesaikan operasi darurat maraton selama enam jam. Sebagai istri yang baru dinikahinya selama tiga bulan, Clara merasa bersalah karena membiarkan Adrian melewatkan jam makan malamnya akibat jadwal operasi yang tak kenal ampun. Itulah mengapa dia nekat datang pukul dua dini hari tanpa memberi kabar terlebih dahulu, berniat memberikan kejutan kecil untuk sang suami yang selalu memperlakukannya bak ratu.
Namun, semakin jauh Clara melangkah ke dalam sayap barat rumah sakit, koridor terasa semakin asing. Alih-alih menuju ruang kerja Adrian yang nyaman di lantai empat, petunjuk arah dari perawat di meja depan tadi justru menuntunnya ke lantai semi basement area yang berdekatan dengan ruang autopsi dan laboratorium forensik yang sudah tidak lagi digunakan untuk umum setelah jam kunjungan habis.
"Dokter Adrian sedang memeriksa laporan forensik terakhir di ruang bawah, Nyonya," kata perawat itu dengan senyum sopan setengah jam yang lalu.
Clara mengembuskan napas panjang. Uap tipis keluar dari bibirnya yang mungil. Udara di basement ini terasa sangat dingin, hampir seperti berada di dalam lemari pendingin raksasa. Sunyi di sini begitu mutlak, jenis kesunyian yang membuat detak jantung sendiri terdengar seperti ketukan palu yang bertalu-talu.
Dug. Dug. Dug.
Tiba-tiba, keheningan itu pecah.
Brakk!
Clara tersentak. Langkahnya terhenti seketika di depan sebuah pintu kayu jati ganda bersandaran plakat logam kusam bertuliskan Ruang Forensik B.
Itu bukan suara berkas yang jatuh. Itu adalah suara hantaman keras yang tumpul, disusul oleh suara erangan tertahan yang begitu menyedihkan hingga membuat bulu kuduk Clara berdiri tegak.
"M-mohon... amp-pun... Tuan Marcello... s-saya tidak bermaksud..." Suara itu serak, terputus-putus oleh batuk berdahak yang terdengar basah seolah tenggorokan orang yang berbicara sedang dipenuhi oleh cairan kental. Dar-ah.
Jantung Clara mencelos. Tangannya yang memeluk rantang seketika bergetar hebat. Tuan Marcello? Nama belakang suaminya adalah Marcello. Namun, tidak ada satu orang pun di rumah sakit ini yang memanggil Adrian dengan sebutan 'Tuan'. Semua orang menghormatinya sebagai 'Dokter Adrian', sang penyelamat berwajah malaikat yang tutur katanya selembut sutra.
Didorong oleh rasa takut yang berbaur dengan rasa ingin tahu yang mencekik, Clara melangkah mendekati celah pintu kayu yang rupanya tidak tertutup rapat. Ada celah selebar dua inci di sana. Clara menahan napas, menempelkan sebelah matanya ke celah tersebut, mengintip ke dalam ruangan yang remang-remang.
Pemandangan di dalam ruangan itu seketika membuat seluruh pasokan oksigen di paru-paru Clara lenyap.
Di bawah pendar lampu bedah tunggal yang bergoyang pelan, seorang pria paruh baya dengan pakaian preman yang robek-robek tengah berlutut di lantai semen yang dingin. Wajah pria itu sudah tidak berbentuk; bengkak, biru, dan bersimbah darah segar yang terus mengalir dari pelipis dan hidungnya.
Namun, bukan kondisi pria itu yang membuat dunia Clara runtuh dalam sekejap. Melainkan sosok pria yang berdiri tegap di hadapannya.
Pria itu mengenakan kemeja biru muda yang dibalut jas putih khas dokter. Jas putih yang selama ini diasosiasikan Clara dengan kesembuhan, harapan, dan kemanusiaan. Namun malam ini, jas putih itu telah ternoda oleh percikan darah merah pekat di bagian lengannya.
Pria itu adalah Adrian. Suaminya.
Adrian berdiri dengan postur tubuh yang luar biasa tenang, sangat kontras dengan kekacauan di sekelilingnya. Rambut hitamnya yang biasanya tertata rapi kini sedikit acak-acakan, menjuntai di dahi.
Wajah ketampanan aristokratiknya yang biasa memancarkan kehangatan dan senyum teduh, kini menjelma menjadi topeng yang sangat dingin. Matanya yang gelap gulita menatap pria di bawahnya tanpa ada secercah pun rasa kemanusiaan. Sedingin es. Setajam mata pisau bedah.
"Aku sudah memberimu satu kesempatan, terlambat menyetor laporan bulanan dari kasino berarti pengkhianatan, Hendra," suara Adrian terdengar begitu rendah, baritonnya yang tenang justru terdengar jauh lebih mengerikan daripada teriakan kemarahan.
"S-saya bersumpah... ada sabotase dari kelompok saingan, Tuan! Saya tidak menggelapkan uang itu!" pria bernama Hendra itu menangis, air mata bercampur darah mengalir di pipinya yang hancur. Dia mencoba merangkak, mengulurkan tangannya yang gemetar untuk menggapai ujung sepatu pantofel mahal milik Adrian.
"Tolong, Dokter Adrian... Anda dikenal sebagai orang yang penuh belas kasih..."
Adrian mendengus pelan. Sebuah tawa kecil yang sinis dan sarat akan penghinaan lolos dari bibir tipisnya.
Bugh!
Tanpa peringatan, Adrian menghentakkan tumit sepatu pantofelnya ke atas punggung tangan Hendra yang terulur di lantai. Tidak tanggung-tanggung, Adrian menekan dan memutar tumitnya dengan kekuatan penuh, menghancurkan tulang-tulang jemari pria itu di bawah berat tubuhnya.
"Arghhhhhhh!"
Hendra menjerit histeris, sepasang matanya membelalak hampir keluar dari rongganya akibat rasa sakit yang luar biasa. Tubuhnya kejang di lantai, mencoba menarik tangannya yang kini terdengar mengeluarkan bunyi krek patah yang mengerikan.
Di balik celah pintu, Clara membekap mulutnya sendiri dengan sebelah tangan. Air mata seketika merebak di pelupuk matanya. Seluruh tubuhnya bergetar hebat hingga persendiannya terasa lemas bak jeli. Dia ingin berteriak, namun suaranya tercekat di tenggorokan.
Pria yang sedang menginjak tangan manusia lain dengan tatapan sedingin iblis itu... adalah pria yang sama yang tadi pagi mengecup keningnya dengan lembut sebelum berangkat kerja. Pria yang sama yang selalu memeluknya erat setiap malam, membisikkan kata-kata cinta yang menenangkan jiwanya yang rapuh setelah kematian Reno, mantan kekasihnya.
"Belas kasih?" Adrian berbisik, perlahan membungkukkan badannya. Dia meraih sebilah pisau bedah (scalpel) berkilau yang tergeletak di atas meja dorong besi di sebelahnya. Di bawah cahaya lampu, mata pisau itu berkilat mengancam.
"Belas kasih hanya berlaku di atas meja operasi untuk pasien yang menguntungkanku, Hendra. Di luar ruangan itu, jalanku adalah hukum absolut."
Adrian mengarahkan ujung pisau bedah yang runcing itu tepat di depan mata Hendra yang gemetar.
"Katakan padaku ke mana sisa uang itu sebelum aku memutuskan untuk membedah tenggorokanmu tanpa obat bius," ancam Adrian, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang luar biasa sadis.
Clara tidak sanggup lagi melihatnya. Kepalanya berputar hebat, dilanda badai syok dan horor yang tak terbendung. Monster. Pria yang dinikahinya adalah seorang monster. Dokter bedah yang dielu-elukan sebagai pahlawan kota ini ternyata adalah seorang pemimpin dunia bawah yang kejam dan tak kenal ampun.
Ketakutan yang luar biasa membuat insting Clara berteriak untuk segera melarikan diri dari tempat terkutuk itu. Dia melangkah mundur dengan tergesa-gesa, melupakan kondisi tubuhnya yang sudah gemetar tanpa kendali.
Klek. Pyarrrr!
Dalam kepanikannya, siku Clara menyenggol rantang makanan yang dipegangnya. Wadah besi itu terlepas dari pelukannya, jatuh menghantam lantai marmer dengan suara dentangan keras yang menggema memekakkan telinga di lorong sepi itu. Sup ayam jahe dan potongan daging tumpah berantakan, mengotori lantai putih bersih bersamaan dengan hancurnya seluruh ilusi kehidupan bahagia Clara.
Bunyi itu terdengar sangat nyaring. Dan fatal.
Di dalam ruangan, suara erangan Hendra mendadak berhenti. Keheningan yang mencekam kembali menguasai atmosfer.
Clara membeku di tempatnya berdiri, menatap nanar ke arah rantang yang terguling. Detak jantungnya seolah berhenti berdenyut selama beberapa detik. Dengan keberanian yang tersisa, dia kembali melirik ke arah celah pintu.
Adrian tidak lagi menatap Hendra.
Kepala suaminya itu kini telah berputar sepenuhnya ke arah pintu kayu. Tatapan mata gelap Adrian yang sedingin iblis kini terarah tepat ke titik di mana Clara berada. Meski terhalang jarak dan celah pintu yang sempit, Clara bisa merasakan hawa membunuh yang pekat menembus udara, menguliti eksistensinya hingga ke tulang.
Adrian tahu ada seseorang di luar. Dan Adrian tahu posisinya telah terancam.
Langkah kaki yang berat dan teratur mulai terdengar dari dalam ruangan, berjalan mendekati pintu. Setiap ketukan sepatu Adrian di lantai semen terdengar seperti lonceng kematian bagi Clara.
Tuk. Tuk. Tuk.
"Siapa di luar?" suara Adrian terdengar, begitu tenang namun sarat akan ancaman yang mematikan.
Clara tersadar dari pingsan mentalnya. Air mata ketakutan mengalir deras di pipinya. Dengan sisa-sisa tenaga yang ada, dia membalikkan badan dan berlari sekencang mungkin membelah kegelapan koridor semi-basement, meninggalkan rantang makanannya yang hancur, dan berlari menjauhi malaikat maut yang kini tengah membuka pintu di belakangnya.