“Ah! Udah lewat juga, nggak usah dibahas!” “Kamu itu bener-bener!” Bias merapatkan diri lalu memeluk Cinta. “Jam makan siang, aku minta kamar ini dibersihkan. Jadi, kita makan siang di balkon.” “Lepaaasin!” Cinta melotot berang pada Bias. “Jangan galak-galak sama suami,” ucap Bias mencuri satu kecupan di bibir Cinta dengan cepat, “kita itu bakal jadi partner seumur hidup, jadi, bicara dan bersikap yang baik. Seperti mama sama papaku.” “Ck! Aku bukan mama Alma dan kamu bukan papa Danuar!” Meski debaran jantung Cinta mulai berantakan, tetapi ia tidak boleh jatuh dalam permainan Bias, “kamu itu jadi cowok nggak setia. Sudah punya Cia, tapi masih nemplok sana sini.” “Itu karena aku belum nikah,” sanggah Bias santai dan kembali mencuri satu ciuman di bibir Cinta. Gadis itu tidak akan bisa

