“Cin, mau bagaimanapun juga, dia itu papamu.” Bias memang tidak berada di posisi Cinta dan tidak mengerti sedalam apa luka di hatinya. Namun, ia ingin mencoba memperbaiki beberapa hal dan mengembalikan semua ke tempatnya, “yang aku dengar dari Altaf, sejak kecil papamu selalu baik dan kamu selalu dimanja. Jadi, apa nggak bisa kamu ingat masa-masa bahagiamu itu.” “Nggak bisa.” Cinta mendadak kehilangan nafsu makannya. Namun, mau tidak mau ia harus tetap menyuapkan makanannya untuk mengisi tenaganya. “Tapi, kalau kamu nanti ketemu sama dia, aku ditinggal di sini? Sendirian?” “Makanya, ikut.” “Mending aku pulang.” “Kalau kamu pulang, mama sama papa pasti curiga,” ujar Bias sambil menyomot kentang goreng milik Cinta, “aku sudah bilang, kita staycation dua hari tiga malam.” “Kerjaanku? Mem

