Mereka hanya berdua dan bisa melakukan apa pun, di mana pun tanpa khawatir ada yang akan melihat atau mendengarnya. Dunia benar-benar milik berdua. Hanya Cinta dan Bias. “Hm.” Bias hanya menggumam. Bukannya melepas pelukan lalu menggapai ponselnya di nakas, Bias justru mengeratkannya. Membiarkan ponselnya berdering, hingga nadanya berakhir dengan sendirinya. Beberapa saat berlalu, ponsel Bias kembali berdering. “Bi, angkat,” ujar Cinta masih dengan suara berat, “siapa tau mama.” “Nggak mungkin mama ganggu kita pagi-pagi gini,” jawab Bias lalu membuka mata. Menatap puncak kepala Cinta yang menempel di dadanya. “Lihat dulu coba.” “Gimana bisa lihat, kalau kamu nempel begini?” Cinta berdecak pelan. Dengan perlahan, ia menjauh dari tubuh Bias lalu memunggungi sang suami. Lebih baik men

