“Vanila, nggak usah dicampur apa-apa.” “Oke.” Belum ada satu menit Ranu beranjak, datang seorang pria muda duduk di ujung bangku yang sama. Tadinya, Cinta tidak memiliki firasat apa pun, karena pria tersebut mungkin sama seperti pengunjung lainnya. Merasa lelah berjalan di mall, lalu duduk untuk mengistirahatkan kakinya. Namun, saat Cinta menerima panggilan dari Yosep, di situlah ia mulai waspada dan harus menjalankan rencana selanjutnya. Ternyata, rencana Altaf tidak sia-sia. Akhirnya, pucuk dicinta ulam pun tiba. Cinta tetap tenang, menunggu Ranu membawa es krim mereka. Sementara itu, ia pun segera menjalankan rencana pertamanya. Ia berdehem pelan, lalu berulang kali batuk kecil seolah-olah tenggorokannya terasa tidak nyaman. Dengan gerakan tenang, Cinta mengeluarkan masker dari dal

