Cinta tersenyum kecil, tidak enak hati. “Yang kita lihat Altaf di kafe waktu itu, ternyata Ranu lagi ngenalin dia sama bang Raksa. Sorry, ya, Din, aku nggak ngomong.” “Nyante kali, ah!” sahut Dinda, “aku, kan, dah bilang, kalau aku sama Altaf itu beda alam. Aku suka dia, tapi, yaaa, nggak sampe segitunya juga. Nge-fans doang.” “Dahlah mending sama bang Raksa aja,” bujuk Cinta, “udah terbukti green flag ke mana-mana. Entar kamu pasti diratuin sama dia. Makasih, Mbak Denok.” Cinta agak terkejut saat melihat Denok membawa minuman dan camilan ke ruang tamu. Padahal, ia lupa menyampaikan jika sedang kedatangan tamu. “Sama-sama, Mbak Cin.” “Nggak! Aku mau jadi produser dulu,” ucap Dinda tanpa keraguan saat Denok meninggalkan ruang tamu. “nggak mikirin gituan du–” “Cin!” Bias datang terburu

