“Heh! Harusnya suaminya disemangatin!” “Heh! Aku sudah sering ngingetin, ya!” balas Cinta, intonasi bicaranya sama dengan Bias, “berkali-kali aku bilang, ingat perut, ingat perut, ingat perut! Tapi apa? Kamu itu nggak bisa lihat cemilan di depan mata, los aja disambar kayak jalan tol.” “Ya, mau gimana?” Bias terkekeh. Menyesal pun percuma, karena camilan-camilan yang disebut Cinta juga sudah masuk ke perutnya, “aku nggak tahan kalau lihat cemilan di depan mata. Kasihan mereka kalau nggak dimakan.” “Ya udah, terima tuh lemak.” “Aku harus nge-gym ini.” “Nge-gym di rumah,” balas Cinta cepat dengan memberi lirikan tajam, “kalau kamu ke tempat gym, pasti matanya lari ke mana-mana. Iya kalau cuma mata, kalau tangan sama kakimu yang ikut ke mana-mana?” Giliran Bias yang mengulurkan tangan d

