95~BC-2

970 Kata

Altaf duduk berseberangan dengan Cinta. “Jadi, kita akan perkarakan papa.” “Kenapa memangnya?” tanya Cinta tersenyum miring, “kamu takut, dua adek kesayanganmu itu nggak akan dapat apa-apa?” “Cinta, bukan itu maksudku.” “Kamu itu anak kesayangan pak Kiano, jadi kamu nggak akan ngerti gimana perasaanku.” “Aku cuma capek dengan semua ini,” keluh Altaf kemudian bersandar lesu di kursinya, “kenapa keluarga kita jadi seperti ini. Kenapa papa harus nikah dengan tante Briana padahal sudah punya mama. Kenapa papa sampai harus–” “Serakah,” putus Cinta tegas, “dia mau Briana, tapi juga mau mama sama semua hartanya. Nggak cuma harta mama, tapi juga perusahaan ini. Harusnya, setelah kita cukup umur, pak Kiano menyerahkan perusahaan ini ke kita. Atau, paling nggak dia bilang, kalau dia akan mengel

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN