“Bagaimana, Al? Masih ragu atau mau pikir-pikir lagi?” tanya Danuar penuh penekanan. “Bukan ragu atau mau pikir-pikir lagi,” ujar Altaf menyugar rambutnya ke belakang dengan perlahan dan kasar, “tapi … saya masih … syok. Bagaimana bisa, papa saya mencelakai istrinya sendiri. Kok, tega? Kenapa bisa sejahat itu?” Felix meletakkan cangkir kopinya, setelah menyesapnya sebentar. “Ini semua memang nggak mudah. Tapi, bagaimanapun juga, semua harus diungkap, kan? Atau, kamu mau kita diam aja dan tutup mata dengan semua ini?” “Kalau kamu mundur, Cinta yang akan maju,” ucap Danuar sudah bisa menebak hal tersebut, “dan aku pastikan, hubunganmu dengan Cinta setelah ini akan jauh lebih buruk dari sebelumnya.” “Aku yang akan maju, Om,” ujar Altaf. Sebagai anak pertama, ia merasa punya tanggung jawa

