“Ba-baru aja, Pa,” jawab Cinta kemudian menunduk. “Belum ada 10 menit.” “BI!” Alma langsung membentak. Tidak habis pikir dengan sikap putranya. “Kamu pikir pernikahan ini main-main!” Bias terdiam, rahangnya menegang. Sementara Cinta menunduk lebih dalam, menahan senyum kecil yang hampir saja lolos dari bibirnya. “Keluarkan hapemu,” titah Alma mengulurkan tangan pada Bias. “Telpon Cia. Mama mau bicara sama dia.” “Ma—” “Sekarang!” sentak Alma masih mengulurkan tangan pada putranya. “Atau kamu mau Mama pergi nemui Cia pagi ini?” Bias menggeram. Tidak punya pilihan, selain menuruti perintah Alma. Ia mengeluarkan ponsel, lalu menghubungi Ciara. Saat nada sambungnya berbunyi, Bias menyerahkan ponselnya ke tangan sang mami. Alma menghempas tubuh di sofa. Menyilang kaki, lalu bicara pada C

