“Sedikit.” Cinta mendongak. “Masih sakit kalau dipakein sepatu, Bang. Kaku.” “Silakan,” ucap Raksa merentangkan satu tangan, saat pintu lift terbuka di lantai lobi. “Jangan lupa kontrol ke dokter, biar kakimu itu cepat sembuh.” “Iya, Bang.” Cinta mencebik saat melewati Raksa. “Biar saya bisa disuruh-suruh lagi, kan?” Raksa tertawa dan mensejajarkan langkah dengan Cinta. “Biar kamu nggak makan gaji buta.” “Yang ada, justru gajinya kurang banyak.” Cinta meringis lalu mengangguk kecil. “Duluan, Bang.” “Yok! Hati-hati!” Raksa segera melihat ke sekeliling lobi. Mencari sosok sang adik yang sudah menunggunya. Setelah melihat gadis itu duduk di lobi dan menatapnya, Raksa pun segera menghampiri. “Ngapain ke sini, Ran?” “Cewek yang tadi, cantik.” Ranu menyerahkan sebuah tas spunbond pada Raks

