Cinta hanya diam. Mendengarkan semua kalimat kasar Bias yang ditujukan padanya hampir sepanjang jalan. Ia sadar, mereka saat ini sedang berada di jalan raya, sehingga Cinta tidak ingin semakin memancing amarah Bias. “Cinta!” “Ya?” “Sudahi semuanya!” ujar Bias sambil memukul setir mobilnya. “Minggu depan, sertifikat rumah yang ditempati papamu sudah balik nama atas namamu. Masalah saham, aku nggak bisa bantu dan sudah nggak berniat untuk membantumu!” “Sertifikat rumah sudah atas namaku?” Cinta akhirnya menatap Bias. Belum bisa percaya sepenuhnya dengan ucapan pria itu. “Bagaimana bisa?” “Altaf yang minta aku urus semuanya!” jawab Bias masih dengan intonasi yang tinggi. “Jadi, ajukan gugatan setelah itu! Aku mau kita cerai dan namaku tetap baik di mata semua orang!” “Altaf …” Cinta men

