“Hampir.” Arif menghela pendek. Meminum esnya sebentar lalu menatap Bias sembari berpikir. “Sebenarnya, alasannya Cia, kan?” Bias tidak menjawab. Ia justru ragu, jika Cinta mengajukan gugatan cerai karena masalah Ciara. Ini semua pasti karena sandiwaranya telah ketahuan. “Yang aku lihat, kamu sepertinya nggak mau cerai,” lanjut Arif yang sejak tadi selalu memperhatikan ekspresi Bias. “Aku mau cerai!” jawab Bias cepat. “Dan aku yang lebih dulu mau cerai. Bukan Cinta. Kamu tau sendiri, kan, kalau kita menikah karena terpaksa. Karena skandal sialan itu.” “Oke.” Arif membuang napas besar melalui mulutnya. “Kalau begitu, kita bisa mempercepat prosesnya. Dan satu lagi, Cinta nggak mau ada mediasi.” “Gono gini?” “Nggak juga,” jawab Arif. “Dia cuma mau semua cepat selesai.” Bias mengetuk-n

