“Datang ke Warta awal bulan.” Djiwa bangkit dan menjabat tangan Cinta dengan singkat. “Dan langsung kerja. Ingat, redaksi berbeda dengan produksi. Jadi, kamu harus menyesuaikan ritme kerja dengan cepat.” “Siap, Mas!” Cinta menatap Nila. “Aku balik ya.” Nila berpamitan pada Djiwa, lalu pergi keluar untuk mengantarkan Cinta. Namun, langkah mereka berhenti di ruang tamu. Suara tawa Gavin dan Bias yang terlihat akrab membuat keduanya kompak menatap tanya. “Papa kenal sama mas Bias?” tanya Nila. “Kenal,” jawab Gavin. “Papanya Bias itu teman ngopi waktu kuliah dulu. Tapi, sekarang sudah jarang ketemu.” Gavin mendadak teringat sesuatu. “Loh! Kan, waktu itu pak Danuar datang pas kamu nikah.” Nila hanya membulatkan bibirnya. Kembali mengingat-ingat, para tamu yang datang ke resepsinya dengan

