Tanpa jarak. Tanpa jeda. Cinta hanya mematung, membiarkan debar di dadanya mengguncang tanpa henti. Semua protes yang sempat mengendap di kepala, lenyap begitu saja. Hanyut dalam kejutan yang tidak memberinya ruang untuk bernapas, apalagi berpikir. “Ehm!” Suara deheman seseorang membuat Bias dan Cinta kompak menjauhkan diri. Cinta mengumpat dalam hati dan mengusap bibirnya berulang kali sambil memunggungi pintu. Menahan malu, sekaligus sedang menyusun kalimat yang tepat untuk memberi alasan. “Kami tadi–” “Maaf mengganggu,” sela Alma menyodorkan sebuah kotak persegi berwarna hitam pada Bias dan tidak berniat berlama-lama. “Buat Cinta. Nanti dipake, ya, Cin,” ucapnya saat benda tersebut berpindah ke tangan putranya. “Mama ke bawah dulu, silakan di lanjut,” kata Alma sambil menarik hand

