Pria itu terlihat posesif, sangat berbeda dengan Bias yang ditemuinya malam itu di lobi Suara Media. “Ayo!” desis Cinta memegang lengan Bias dan membawa pria menjauh, tanpa berpamitan pada Altaf. “Parkir di mana?” “Di tower sebelah,” ucap Bias sambil menunjuk ke arah gedung tersebut. “Kita makan di sana, biar nggak macet-macetan.” “Ya udah ayok!” “Tapi, harusnya kita ajak Altaf seka–” “Nggak usah! Aku malas!” putus Cinta terus terang. “Dan kamu, nggak usah ikut campur dengan urusanku sama Altaf.” “Oke.” Bias tidak lagi membantah. Rasanya wajar jika Cinta masih sakit hati dengan perlakuan keluarga yang menyisihkannya. “Dan tadi, ngapain kadepmu ada di sini?” “Ketemu mas Arif,” jawab Cinta melepas tangan Bias yang melingkar di pinggangnya, setelah mereka berada di luar gedung. “Lepasi

