bc

Jadi Istri Kedua Pak Tentara

book_age18+
210
IKUTI
1.7K
BACA
revenge
dark
love-triangle
contract marriage
BE
family
HE
age gap
fated
forced
opposites attract
second chance
friends to lovers
pregnant
arranged marriage
badboy
kickass heroine
heir/heiress
blue collar
drama
tragedy
sweet
bxg
lighthearted
serious
kicking
bold
city
cheating
childhood crush
secrets
war
affair
friends with benefits
like
intro-logo
Uraian

WARNING -> DARK ROMANCE, AREA DEWASA DAN 100% FIKSI BELAKA. TOLONG JANGAN DIKAITKAN DENGAN PAKEM MILITER NEGARA INDONESIA YA! KARENA INI DUNIA MILITER DARI UNIVERSE LAIN!

“Setelah melahirkan anak Mahendra, kamu harus pergi jauh dari keluarga ini!”

Lulus SMA di usia delapan belas tahun, Kartika kehilangan segalanya hampir dalam waktu bersamaan. Nenek yang membesarkan dia meninggal dunia, sementara ayah kandung dia menjual dirinya demi melunasi hutang akibat kalah berjudi.

Sejak saat itu, hidup Kartika berubah total.

Dia dipaksa menjadi istri siri seorang Tentara Angkatan Darat bernama Kolonel Mahendra Abiyaksa, seorang pria berusia tiga puluh delapan tahun yang sejak awal bahkan tidak menginginkannya.

Namun semua mulai berubah saat Mahendra menyadari satu hal …. wajah Kartika sangat mirip dengan wanita dari masa lalu pria itu — wanita yang pernah menjadi cinta pertama sekaligus yang pernah meninggalkan luka terbesar dalam hidup.

Lalu bagaimana jika pernikahan yang awalnya hanya sebuah transaksi perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih berbahaya?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1. Gadis Belia Jadi Istri Kedua
"Ampun, Ayah! Tolong jangan bawa aku pergi dari sini!" Jerit tangis Kartika pecah, jari-jari mungil gadis berusia delapan belas tahun yang baru lulus SMA itu mencengkeram erat kaki meja kayu di ruang tamu, berusaha menahan tubuhnya agar tidak diseret lebih jauh. Tanah makam sang Nenek — satu-satunya orang yang menyayangi dia di dunia ini — bahkan belum kering, tapi Ayah kandungnya sudah membawa ujian hidup bagi gadis itu lagi. "Jangan jual aku, Ayah!" "Lepas, Kartika! Jangan bikin malu Ayah di depan utusan Nyonya Dahayu!" Suara Janaka menggelegar, pria dengan wajah kusam akibat kecanduan rokok, alkohol dan judi itu tampak murka. Tanpa belas kasihan, dia menendang pergelangan tangan Kartika hingga cengkeraman gadis itu terlepas dari kaki meja. "Sakit, Ayah!" Kartika meringis kesakitan. "Aku tidak peduli! Cepat berdiri!" Janaka bahkan tega menjambak rambut panjang Kartika tanpa belas kasihan agar anak gadisnya itu segera bangkit. "Aaakh!" Kartika menjerit, merasakan kulit kepalanya seperti akan terkelupas akibat tarikan kasar itu. Air mata mengalir semakin deras, sementara tangan kiri refleks mencengkeram pergelangan tangan Janaka yang menjambak rambutnya. "Ayah ... aku ini anak kandungmu! Kenapa Ayah tega menjualku?" jerit Kartika di sela isak tangisnya. "Kalau bukan karena kamu, utang Ayah yang puluhan juta itu tidak akan pernah lunas! Kamu mau lihat Ayah mati di tangan rentenir, hah?!" Janaka mencengkeram lengan Kartika, lalu mendorong tubuh mungil itu ke arah dua pria berbadan tegap berpakaian hitam di ambang pintu. "Bawa dia sekarang! Pastikan dia tidak kabur dan merusak perjanjianku dengan Nyonya Dahayu!" "Baik, Pak!" sahut dua pria berbadan tegap berpakaian hitam itu kompak sambil mengangguk, lalu mereka mencengkeram kedua lengan Kartika dengan kuat. "Lepas! Lepaskan aku!" Kartika menjerit histeris, meronta sekuat tenaga. Kedua pria itu menyeret Kartika keluar halaman dan memasukkannya ke dalam sebuah mobil mewah berwarna hitam. Dan di dalam mobil, Kartika akhirnya hanya bisa pasrah, dia meringkuk di pojok kursi, memeluk lutut, meratapi nasibnya yang kini tak ubahnya seperti barang dagangan. Setelah satu jam menembus jalanan kota, mobil yang Kartika tumpangi itu berhenti di depan sebuah mansion bergaya Eropa klasik yang bangunannya sangat luas dan megah. "Turun, Nona!" ucap pelayan wanita yang menyambutnya di depan pintu mobil. Kartika hanya bisa pasrah saat para pelayan wanita menggiringnya ke lantai atas. Kemegahan mansion itu tidak membuatnya terkesan, karena baginya, tempat itu tak ubahnya sebuah penjara. Tak lama kemudian, dia didorong masuk ke sebuah kamar besar yang dipenuhi aroma mawar. "Lepas pakaianmu, Nona! Kami harus membersihkan tubuhmu segera," perintah seorang pelayan yang paling senior. "T-tapi ... untuk apa?" tanya Kartika dengan suara gemetar. "Jangan banyak bertanya dan ikuti saja perintah kami!" Lagi-lagi Kartika tidak punya pilihan. Para pelayan itu memandikannya, menata rambut panjangnya, lalu menyodorkan sebuah gaun berbahan satin berwarna merah marun. "Kenapa aku harus pakai ini?" Kartika membelalak melihat potongan gaun yang di bagian dadanya tampak sangat rendah serta belahan tinggi di bagian paha kiri. "Karena ini adalah perintah Sang Nyonya Besar," jawab pelayan itu singkat. Sementara Kartika berada di dalam kamar, sebuah akad nikah siri tengah berlangsung di ruang tamu mansion. Gadis itu tidak menyadari bahwa dirinya sedang dinikahkan dengan seorang pria yang bahkan belum pernah dia temui. *** Janaka duduk menghadap seorang ustaz yang bertindak sebagai wali hakim. Pernikahan itu terpaksa menggunakan wali hakim karena Janaka tidak memiliki hak menjadi wali nasab — dia menikahi almarhum ibu Kartika dalam keadaan sudah hamil besar, meski Kartika memanglah anak kandungnya. Di sisi lain meja, duduk Kolonel Mahendra Abiyaksa. Karena baru pulang bertugas, pria berusia 38 tahun itu masih mengenakan jaket bomber, celana loreng, dan sepatu lars. Wajahnya tampak tampan dan berwibawa, dengan rahang tegas yang memperkuat kesan maskulin. Sorot matanya tajam bak elang, memancarkan ketegasan dan kewibawaan yang membuat siapa pun segan menatapnya terlalu lama. "Bagaimana, Kolonel Mahendra? Bisa kita mulai?" tanya sang ustaz dengan suara lembut. "Silakan, Ustaz." Mahendra mengangguk kaku, kemudian dia mengulurkan tangan untuk menjabat tangan sang wali hakim. “Saudara Mahendra Abiyaksa bin Santoso Abiyaksa, saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Kartika Dewi Arumsari binti almarhumah Kenanga dengan maskawin tersebut, dibayar tunai.” "Saya terima nikah dan kawinnya Kartika Dewi Arumsari binti almarhumah Kenanga dengan maskawin tersebut dibayar tunai." "Sah?" "Sah!" *** Suara putaran kunci pintu kamar seketika memutus lamunan Kartika. Tubuh Kartika menegang sempurna dan jantungnya berdegup begitu kencang hingga terasa menyakitkan. Refleks, Kartika merangkak mundur hingga ke sudut ranjang, kedua tangan berusaha menutupi belahan d**a gaun yang terlalu terbuka itu, sementara kedua kaki dia tekuk rapat-rapat untuk menyembunyikan paha yang terekspos. Pintu terbuka lebar. Mahendra melangkah masuk dengan langkah kaki yang berat, mantap, dan berirama tegas khas militer. Begitu pintu tertutup di belakangnya, dia menarik turun sedikit ritsleting jaket bomber yang dia kenakan. Napas panjang pun lepas dari bibirnya, membawa serta rasa kesal yang masih bergejolak di dalam d**a. "Hentikan tangisanmu! Aku tidak suka wanita cengeng!" Suara Mahendra bergaung di dalam kamar yang luas itu, nada suaranya dingin, kaku, dan penuh perintah, layaknya seorang komandan kepada anak buahnya. Kartika tersentak mendengar suara menggelegar itu hingga tubuhnya semakin gemetar hebat. Karena rasa takut yang sudah mencapai puncak, Kartika memberanikan diri untuk mendongak. Dari balik bulu mata yang basah oleh air mata, sepasang mata indahnya yang bulat menatap ke arah pria yang kini telah menjadi suami sirinya. Detik itu juga, langkah kaki Mahendra jadi terhenti di tengah ruangan. Pria perkasa itu mendadak mematung, tatapan mata elang yang semula penuh kilat amarah, tiba-tiba melebar. Pupil mata sang kolonel itu jadi bergetar hebat, memancarkan gelombang kejutan yang luar biasa dahsyat. Dan napas Mahendra mendadak memburu, dadanya yang bidang tampak naik turun dengan tidak beraturan seolah pasokan oksigen di dalam kamar megah itu mendadak lenyap tak bersisa. "Kenanga?!" batin Mahendra menjerit. "Jadi ... dia benar-benar anak Kenanga yang itu?" Wajah Kartika adalah jiplakan sempurna, tanpa cela dari cinta pertama Mahendra di masa sekolah dulu. Perempuan yang pernah sangat dia puja, perempuan yang memegang rekor sebagai pacar pertama, sekaligus perempuan yang paling dia benci karena ingatan pahit di masa lalu. Melihat visualisasi masa lalu yang mendadak hidup kembali di atas ranjangnya, emosi Mahendra meledak bagai bom waktu. Luka lama yang dia kira sudah mengering, mendadak terkoyak kembali dengan sangat menyakitkan. Mahendra melangkah lebar dengan cepat, memangkas jarak di antara mereka. Kemudian tangan kekar Mahendra bergerak secepat kilat, ibu jari dan jari telunjuknya yang kasar mencengkeram dagu Kartika dengan sangat kuat, memaksa wajah gadis itu terangkat tinggi untuk menatap matanya. "Siapa kamu sebenarnya?!" desis Mahendra dengan suara yang bergetar hebat, menahan badai amarah dan luka mendalam yang bergejolak di dalam d**a. Tatapannya menghunus tajam, seolah ingin menguliti jiwa Kartika saat itu juga. "Katakan padaku! Kenapa wajahmu bisa sama persis dengan perempuan sialan itu?!"

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
748.5K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.8M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
981.5K
bc

A Warrior's Second Chance

read
361.2K
bc

Not just, the Beta

read
348.9K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook