Sore itu Nina baru saja menutup laptop ketika pintu ruangannya diketuk sekali, lalu terbuka. “Udah selesai?” suara Tomi muncul lebih dulu daripada tubuhnya. Nina menoleh. “Kok kamu tahu?” “Lampu meja kamu mati. Biasanya itu tanda kamu mau pulang,” jawab Tomi santai sambil masuk dan bersandar di ambang pintu. Nina mendecak. “Kamu ngamatin banget.” “Namanya juga sekretaris,” balas Tomi ringan. “Gercep itu kewajiban.” Ia melirik jam tangannya. “Aku udah batalin dua agenda kamu besok pagi. Yang nggak penting. Kamu kelihatan butuh napas.” Nina berhenti mengemasi tasnya. “Aku nggak minta.” “Tapi kamu butuh,” sahut Tomi cepat, tanpa ragu. “Dan tenang aja, aku udah kasih alasan yang rapi.” Nina menatapnya beberapa detik. “Kamu ini… terlalu sigap kadang.” Tomi tersenyum, tapi senyum itu s

