Callista berjalan mondar-mandir di sekitar meja kafe yang ia tempati dengan wajah tegang. Jemarinya gemetar ketika menekan nama “Ayah” di layar ponselnya. Begitu sambungan tersambung, suaranya langsung terdengar bergetar namun berusaha tegas. “Ayah… Tolong, aku butuh bantuan sekarang. Rektor hampir saja memberikan beasiswa itu kembali ke Aurora.” Ia berhenti melangkah, menarik napas panjang, lalu menatap kosong ke arah gelas miliknya yang berisikan es kopi latte. “Dia nggak pantas, Yah. Dia kan sudah dikeluarkan. Lagipula, semua orang tahu dia punya masalah mental. Masa kampus mau mempertaruhkan reputasinya karena satu orang kayak dia?” Nada suaranya meninggi bercampur dengan rasa cemburu dan ketakutan terselubung. Ia menggigit bibirnya. Menunggu jawaban dari Ayahnya yang di seberang t

