Setibanya di depan ruang Rektor, mereka diberi izin masuk. Ruangan itu terasa berat dan formal. Di dalamnya sudah ada Rektor yang duduk di tengah meja panjang dan dikelilingi oleh beberapa Dosen senior. Semua pandangan langsung tertuju pada mereka. Sang Dokter memperkenalkan diri dengan sopan. Lalu menjelaskan tujuan kedatangannya. Dengan nada lembut tapi tegas, ia menjelaskan tentang kondisi Aurora yang menderita lucid dream. Suatu keadaan di mana seseorang menyadari dirinya sedang bermimpi dan kadang terbawa ke dunia nyata. Ia menerangkan bahwa kondisi itu bukan gangguan jiwa, melainkan fenomena neurologis yang bisa ditangani dengan terapi. Rektor mempersilahkan semuanya untuk duduk sambil menatap tamu-tamunya. “Silakan duduk. Kami sudah membaca permohonan pertemuan ini. Anda Dokter y

