Suasana yang tadinya mulai mereda berubah kacau dalam sekejap ketika suara langkah tergesa dan suara hak sepatu menghantam lantai lorong terdengar mendekat. Aurora menegakkan tubuhnya refleks. Sementara Bima memutar tubuh. Sudah bersiap menjaga jika terjadi sesuatu. Callista datang dengan wajah yang sudah jelas-jelas tidak bisa menyembunyikan kecemburuan. Aurum mengikutinya dari belakang. Terlihat ragu. Seolah ingin mencegah, tapi tidak cukup berani untuk menariknya mundur. “Jadi ini ya?” suara Callista terdengar tajam. Menusuk atmosfer tenang yang susah payah baru tercipta. “Baru ditinggal sebentar, lu sudah nempel sama kak Bima?” Aurora tersentak. “Ca–Callista? Aku—” “Jangan pura-pura polos!” Callista melangkah cepat. Menyingkirkan tangan Bima yang masih berada di dekat Aurora

