Bab 78 - Pengakuan Nenek

1095 Kata

Aurora berjalan pelan di samping Bima. Masih syok dengan apa yang baru terjadi. “Kak B-Bima… Kamu nggak perlu—” “Perlu,” jawab Bima cepat, tanpa ragu. “Gue nggak mau ada yang ganggu lu lagi. Apalagi setelah lu… Kayak gini.” Aurora mengusap sudut matanya, sedikit malu. “Maaf… Aku jadi nyusahin.” “Berhenti ngomong kayak gitu,” ujar Bima sambil mengerutkan alisnya. “Lu nggak nyusahin siapa-siapa. Lu cuma lagi kena masalah besar, dan… Lu berhak punya seseorang yang jaga lu.” Aurora menatapnya singkat. Hatinya terasa menghangat meski pikirannya masih kacau. Mereka berjalan melewati beberapa mahasiswa lain yang sempat menoleh karena melihat Aurora dengan mata sembap dan Bima yang terlihat serius mengawalnya. Setiap kali seseorang terlihat ingin mendekat atau mempertanyakan sesuatu, B

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN