Aurora turun dari mobil dengan langkah ragu. Pintu pagar sudah tertutup rapat di belakang mobil Ayah tirinya yang perlahan menjauh. Ia menghela napas, lalu membuka pintu rumah dengan kunci yang masih ia simpan. Begitu masuk, Aurora langsung merasakan kejanggalan. Rumah itu sunyi. Terlalu sunyi. Biasanya ada suara langkah ART, dentingan piring dari dapur, atau setidaknya televisi yang menyala. Namun sekarang, tak ada apa pun. Aurora menaruh sepatunya, menoleh ke kanan dan kiri. “Mah?” panggilnya pelan. Tak ada jawaban. Ia melangkah lebih dalam, melewati ruang tamu, lalu ruang keluarga. Sofa tertata rapi, tak ada tanda-tanda aktivitas. Aurora berjalan ke dapur. Bersih, kosong, kompor mati. Ia membuka pintu kamar Mamahnya. Ranjang sudah dirapikan sempurna, lemari tertutup, seperti kamar

