Pagi itu udara terasa sejuk. Sinar matahari menembus sela-sela jendela dapur, jatuh tepat di meja makan tempat Aurora dan Nenek duduk berhadapan. Suara sendok yang beradu dengan piring menjadi satu-satunya bunyi yang mengisi keheningan. Aurora mengenakan kemeja biru dan celana putih, rambutnya diikat rapi ke belakang. Tas kampus sudah tergeletak di kursi sebelah, menandakan ia tak ingin terlambat seperti hari-hari sebelumnya. “Kamu kelihatan capek, Nak,” ujar Nenek sambil menyesap teh hangatnya. “Tugas numpuk lagi?” Aurora mengangguk pelan. “Ada presentasi sama laporan. Tapi masih aman, Nek.” Nenek tersenyum tipis, menatap cucunya dengan penuh kasih. Sejak kecil, Aurora memang terbiasa mandiri. Terlalu mandiri untuk anak seusianya. Nenek sering merasa bersalah, tapi ia tahu Aurora
Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari


