Bab 92 - Kembali

1444 Kata

Pagi itu udara terasa sejuk. Sinar matahari menembus sela-sela jendela dapur, jatuh tepat di meja makan tempat Aurora dan Nenek duduk berhadapan. Suara sendok yang beradu dengan piring menjadi satu-satunya bunyi yang mengisi keheningan. Aurora mengenakan kemeja biru dan celana putih, rambutnya diikat rapi ke belakang. Tas kampus sudah tergeletak di kursi sebelah, menandakan ia tak ingin terlambat seperti hari-hari sebelumnya. “Kamu kelihatan capek, Nak,” ujar Nenek sambil menyesap teh hangatnya. “Tugas numpuk lagi?” Aurora mengangguk pelan. “Ada presentasi sama laporan. Tapi masih aman, Nek.” Nenek tersenyum tipis, menatap cucunya dengan penuh kasih. Sejak kecil, Aurora memang terbiasa mandiri. Terlalu mandiri untuk anak seusianya. Nenek sering merasa bersalah, tapi ia tahu Aurora

Cerita bagus bermula dari sini

Unduh dengan memindai kode QR untuk membaca banyak cerita gratis dan buku yang diperbarui setiap hari

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN