Jasmine kembali ke kamar itu saat langit masih gelap. Pintu ditutupnya perlahan, seakan takut suara kecil saja bisa membangunkan kenangan yang ingin ia kubur. Ia duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah jendela. Malam terasa begitu panjang. Matanya terpejam, tetapi pikirannya terus berlari. Potongan wajah Aurora, sikap dingin suaminya, dan rekaman CCTV yang tak henti-hentinya terulang di kepalanya. Jam demi jam berlalu. Jasmine tak juga tertidur hingga fajar mulai mengintip. Akhirnya ia bangkit, menarik napas panjang, lalu membuka lemari. Di malam yang sunyi itu, ia memilih membereskan semuanya. Gaun-gaun rapi ia lipat tanpa ekspresi, perhiasan kecil dimasukkan ke kantong kain, dokumen penting diselipkan di sela-sela pakaian. Sebuah koper besar berdiri di tengah kamar, menjadi saksi

