Jasmine pulang ke rumah saat langit mulai menggelap. Langkah kakinya pelan, wajahnya lelah setelah seharian bekerja, tetapi pikirannya terasa jauh lebih penat. Entah kenapa, sejak beberapa hari terakhir ada perasaan ganjil yang terus mengganggu dadanya. Begitu pintu dibuka, rumah terasa terlalu sunyi. “Mas Raffa?” panggil Jasmine sambil meletakkan tasnya di sofa. Tidak ada jawaban. Ia melangkah masuk lebih jauh. Sepatunya masih rapi di rak, tanda suaminya memang ada di rumah. Jasmine menoleh ke arah tangga, lalu ke dapur. Hatinya makin tidak tenang. Biasanya Raffa akan langsung menyambutnya, atau setidaknya menjawab panggilannya. “Mas Raffa?” panggilnya lagi, kali ini sedikit lebih keras. Akhirnya terdengar suara langkah dari lantai atas. Raffa muncul di ujung tangga dengan ekspresi

