Aurora menarik napas pelan. Suasana meja makan terasa begitu tegang. Dokter Jasmine dan suaminya, Ayah tiri Aurora sesekali saling melirik. Sama-sama sadar ada yang tidak beres sejak Aurora pulang sore tadi. Sendok garpu terdengar beradu pelan. Tidak ada yang benar-benar memulai percakapan. Sampai akhirnya Aurora meletakkan sendoknya dan menatap Dokter Jasmine. “Mamah… Aurora mau balik ke rumah Nenek dulu.” Raffa refleks menegang. Dokter Jasmine mengernyit, tidak langsung menjawab. “Kok mendadak banget, Nak? Ada apa?” nada suaranya bukan marah, tapi penuh kebingungan dan sedikit takut kehilangan. Aurora menunduk, menahan gugup yang sejak tadi mencengkram dadanya. Bayangan kejadian di dapur siang itu. Pelukan tak terduga dari Ayah tirinya, tatapan yang membuatnya tidak nyaman, berkele

